Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Pusing


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 208


...•...


...•...


Shella & Devano pulang ke rumah dengan keadaan lesu dan tak bergairah, mereka tampak gusar terlebih lagi Devano yang terus-terusan mengerutkan keningnya seperti orang banyak masalah. Mereka duduk di sofa dan Shella langsung memijat lengan suaminya untuk meringankan rasa pusing yang dirasakan Devano saat ini, ia tau betul kalau suaminya sangat terpukul setelah hakim memutuskan menunda persidangan akibat para saksi di pihaknya tidak bisa hadir.


Laila yang hendak berangkat ke kampus mendadak syok saat melihat abangnya terduduk lemas bersama Shella di sofa, ia pun langsung berlari menghampiri mereka dengan ekspresi panik.


"Bang, lu kenapa?" tanya Laila cemas.


Devano hanya menoleh sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya, Laila pun makin penasaran dan kemudian duduk tepat di dekat abangnya.


"Shella, ada apa sih?" tanya Laila lagi kali ini ia tujukan kepada Shella.


"Mas Vano lagi pusing, La! Sidang mama sama papa harus ditunda karena saksi yang dipunyai mas Vano itu gak bisa hadir..." jawab Shella menjelaskan semuanya pada Laila.


"Hah? Jadi hari ini papa sama mama sidang? Kok kalian gak ada yang kasih tau gue sih?" ujar Laila.


"Gak penting juga, mending lu gausah tau biar gak rempong nantinya di persidangan!" ujar Devano.


"Ish nyebelin banget sih lu, bang! Terus terus, sidangnya dilanjut kapan??" ujar Laila penasaran.


"Satu Minggu dari sekarang, La!" jawab Shella.


"Duh berarti lu harus cepet-cepet cari saksi yang banyak bang, biar papa sama mama bisa bebas!" ujar Laila mengajari abangnya.


"Ah berisik lu! Gue juga tau kali, makanya gue sampe pusing kayak gini ya karena mikirin itu!" ujar Devano.

__ADS_1


"Yeh yaudah santai aja dong!" ujar Laila.


"Udah udah, Laila! Abang kamu ini lagi pusing, jadi ada baiknya kamu jangan ganggu dia dulu ya!" ucap Shella menyarankan Laila untuk pergi.


"Iya deh, yaudah gue ke kampus dulu ya! Assalamualaikum...." ucap Laila pamit.


"Waalaikumsallam..." jawab Shella & Devano.


Laila pun pergi meninggalkan sepasang suami-istri itu disana, setelahnya Shella menawarkan teh hangat kepada suaminya untuk membantu menghilangkan pusing di kepala Devano.


"Mas, kamu mau aku bikinin teh hangat? Siapa tau pusing kamu bakal hilang kalau minum itu, gimana?" tanya Shella.


"Kopi aja deh, honey!" jawab Devano.


"Ohh yaudah, bentar ya aku ke dapur dulu minta Intan buat bikinin kopi untuk kamu!" ucap Shella.


"Kamu aja yang buat, honey! Aku maunya minum kopi buatan kamu bukan yang lain!" ucap Devano.


"Eee tapi gapapa kalo aku tinggal? Emangnya kamu gak mau dipijat lagi sama aku?" tanya Shella.


"Iya deh iya, yaudah sebentar ya..." ucap Shella.


"Iya,"


Shella pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju dapur untuk membuat kopi permintaan suaminya, sedangkan Devano memejamkan matanya sambil mengusap-usap hidungnya untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya.


...•••...


Sementara itu, Adrian kembali ke rumah dengan ekspresi gembira sekaligus merasa puas walau masih belum sepenuhnya karena orang tua Devano belum ditahan secara resmi oleh kepolisian. Namun, bagaimanapun juga ia telah berhasil membuat Devano tak berkutik di persidangan tadi karena saksi-saksinya tidak bisa hadir.


Adrian masuk ke kamarnya untuk berpuas diri merayakan kemenangan dirinya atas Devano, ditambah sebentar lagi kemungkinan ia juga akan berhasil merebut perusahaan milik Devano dan menikah dengan Nadya sesuai keinginannya.


"Hahaha, lu gak bisa kalahin gue Devano! Gue ini Adrian Bagaskara, orang terlicik dan terpandai di kota ini! Semua yang lu lakuin bakal gue ketahui lebih dulu, dasar Devano bodoh! Hahaha..." ujar Adrian berteriak keras sambil tertawa terbahak-bahak.


Ia merentangkan tangannya terus tertawa lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk, ia benar-benar merasa bahagia sampai sprei nya yang tadi rapih jadi berantakan dibuatnya.


"Hahaha, hahaha... Devano bodoh! Dia gak tau kalau sekarang gue udah pasang alat penyadap di ruangannya, dengan begitu segala rencana yang dia buat bakal gue ketahui! Untungnya gue punya otak yang cerdas dan gak sia-sia juga dulu gue kuliah tinggi ngikutin kemauan papa!" ujar Adrian.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada telpon yang masuk, Adrian yang tengah berbahagia itu agak sedikit kesal karena momennya diganggu oleh telpon tersebut. Namun, matanya langsung membulat seketika saat mengetahui Rafi yang menghubunginya.


📞"Halo, berani-beraninya lu telpon gue Raf! Cepat serahin Femila sekarang ke gue!" ujar Adrian langsung emosi begitu mengangkat telepon.


📞"Hahaha, itu gak akan terjadi dengan mudah Adrian! Gue bakal ngelakuin semuanya dan serahin Femila ke lu, asalkan lu mau bagi gue setengah aset perusahaan lu! Gimana, setuju gak?" ujar Rafi tertawa terbahak-bahak.


📞"Kurang ajar lu Raf! Gue udah bebasin lu dari penjara dan ini balasan lu ke gue? Cepat serahin Femila ke gue sekarang juga, atau lu akan gue bikin menyesal seumur hidup!" ujar Adrian emosi.


📞"Santai bro! Lakuin aja yang gue mau dan Femila akan berada di tempat lu lagi!" ucap Rafi.


Tanpa basa-basi lagi, Rafi langsung memutus telponnya hingga membuat Adrian kesal dan membanting ponselnya ke kasur karena sangat emosi.


"Aaarrgghh, sial! Kurang ajar banget si Rafi, berani-beraninya dia peras gua! Awas aja gue pasti bakal dapetin dimana lokasi lu sekarang dengan melacak nomor ponsel lu..." ucap Adrian.


Adrian pun mengambil kembali ponselnya yang dibanting tadi, ia menghubungi nomor lainnya.


📞"Halo, gue perlu bantuan lu!"


...•••...


Disisi lain, Bimo diantar keluar dari sel untuk berbicara pada polisi di bagian laporan. Hal itu karena Bimo mengatakan kalau ia ingin membuka mulut dan memberitahu siapa yang telah menyuruhnya melakukan pembunuhan tersebut.


Sesampainya disana, Bimo langsung dipersilahkan duduk dan mulai ditanya-tanya oleh tersebut.


"Silahkan saudara, Bimo! Anda bisa mulai berbicara sekarang dan sampaikan kepada kami siapa yang sudah menyuruh anda melakukannya!" ucap polisi.


Bimo mengambil nafas dalam-dalam menyiapkan mentalnya untuk mulai berbicara pada polisi tersebut, sejujurnya ia tidak tega ingin mengatakan ini dan mengaku kalau abangnya yang telah menyuruhnya. Namun, sikap Adrian kepadanya yang membuat ia kesal dan ingin sekali mengadukan perbuatannya ke polisi.


"Sorry bang, lu sendiri yang maksa gue buat ungkap semuanya!" gumam Bimo sambil menunduk.


Setelah dirasa kuat, Bimo mendongakkan kepalanya menghadap wajah polisi itu dan mulai membuka mulutnya secara perlahan lalu mengedipkan matanya tanda kalau ia masih berusaha menguatkan dirinya untuk berbicara di depan polisi.


"Sa-saya, saya disuruh oleh...." ucap Bimo menggantung.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2