Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Diikuti mobil


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 378


...•...


...•...


Nadya masuk ke dalam kantornya dan seperti biasa menyapa para satpam yang berdiri di depan sana juga teman-teman kerjanya disana, Nadya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padanya saat ini. Padahal nyatanya ia sedang dalam dilema yang cukup berat antara pekerjaan atau pacar, tak mungkin ia bisa membiarkan itu terus berlarut-larut melukai hatinya yang mungil itu.


Saat berada di depan lift, tiba-tiba saja seseorang dari belakang muncul dan berdiri tepat di sampingnya menunggu lift itu terbuka. Ya siapa lagi pria itu kalau bukan Adrian alias bos Nadya di tempat ia bekerja saat ini, Nadya pun langsung syok begitu melihat Adrian berdiri sangat dekat dengannya. Matanya terbelalak lebar dengan mulut terbuka sedikit dan terus menatap wajah bosnya itu.


"Kenapa? Terpesona ya sama ketampanan saya?" tanya Adrian sambil tersenyum tipis.


"Hah? Eee enggak, pak. Sa-saya cuma kaget aja, bapak kan punya lift khusus di sebelah sana yang biasa digunakan para tamu juga. Kenapa bapak malah berdiri disini?" ucap Nadya.


"Oh ya? Kok saya gak tahu, ya?" ujar Adrian.


"Eee bapak pura-pura gak tahu atau lagi pengen ngerjain saya, ya?" tanya Nadya tampak was-was dan sedikit menggeser tubuhnya.


"Gak kok, saya gak kerjain kamu. Masa iya saya ngerjain gadis secantik kamu?" ucap Adrian menggoda Nadya sembari mencolek dagu wanita yang kini telah menjadi sekretarisnya itu.


"Pak, maaf! Tolong jangan sentuh saya seperti itu!" ucap Nadya berusaha menghindar.


Adrian justru tersenyum dan kemudian memalingkan wajahnya lurus ke depan menatap lift yang masih tertutup di hadapannya, Adrian juga memasukkan dua telapak tangannya di saku celana dan coba bersikap cool untuk membuat Nadya tergoda. Memang Adrian masih saja terus berusaha untuk mendekati gadis di sampingnya itu, biarpun sudah berulang kali juga Nadya menolaknya.


Tiiinnggg...


Pintu lift sudah terbuka dan tampak segerombolan karyawan disana keluar dari dalam lift tersebut menyapa Adrian selaku bos mereka, tak sedikit juga yang heran karena Adrian menggunakan lift itu.


Setelahnya, Adrian pun melangkah masuk ke dalam lift bersamaan juga dengan Nadya yang dengan terpaksa ikut masuk ke sana karena tak ada pilihan lain baginya. Adrian menyunggingkan senyum tipis sembari melirik sekilas ke arah Nadya, lalu pandangannya kini tertuju pada para karyawan yang juga hendak masuk ke lift tersebut.


"Stop!" Adrian menahan mereka yang hendak masuk ke dalam sana dengan telapak tangannya.


"Kalian lewat lift khusus aja!" ucap Adrian singkat.


"Eee ba-baik, pak!" ucap mereka.


Akhirnya para karyawan itu pergi menuju lift lain yang ada di dekat sana karena Adrian alias bos mereka menahan dan tak memperbolehkan mereka masuk ke dalam lift yang sama dengannya, tentu mereka terheran-heran lantaran tidak dibolehkan masuk kesana, namun Nadya ada di dalam lift itu bersama bos mereka.


"Pak, kenapa bapak gak bolehin mereka masuk? Ini kak lift buat para pegawai," tanya Nadya heran.


Adrian melirik ke arah Nadya, lalu setelah lift tertutup ia pun mendekati gadis itu dan mengungkung tubuh Nadya disana dengan cukup erat. Adrian menarik dagu Nadya yang tertunduk sehingga ia bisa melihat jelas rupa wajah sekretaris cantiknya, Adrian pun tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arah Nadya yang tampak gemetar ketakutan.


"Eee pak, bapak mau apa...??" tanya Nadya masih coba bersikap sopan pada atasannya dan tidak mau berpikiran negatif lebih dulu.


"Saya mau mengulang waktu-waktu indah kita dulu, yang sering kita lakukan sewaktu kamu masih menjadi sekretaris saya juga di perusahaan yang lama." jawab Adrian dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


"Maksud bapak?" tanya Nadya tak mengerti.


"Ya, cium bibir kamu yang mungil itu! Saya sudah rindu sekali dengan dia, kan udah lama banget kita gak ciuman lagi. Izinkan saya melakukan itu lagi sebagai bos kamu kali ini, ya?" ucap Adrian menjelaskan maksudnya sembari membelai bibir mungil yang seksi nan menggoda milik Nadya.


"Pak, tapi—" ucapan Nadya terputus lantaran Adrian langsung saja melumatt bibirnya dengan rakus sembari menekan tubuhnya sehingga Nadya tak bisa bergerak walau sedikitpun.


Ciuman itu bertambah panas dan ganas, sampai-sampai Adrian tak menyadari kalau sebentar lagi ia akan tiba di lantai yang ditujunya.


Tiiinnggg...


Terdengar suara lift terbuka, membuat Adrian langsung kalap dan melepas pagutannya yang sangat bergairah itu dari Nadya serta merapihkan kemeja dan dasinya agar tak ada yang curiga. Beruntung baginya karena di depan sana tidak ada satupun karyawan yang melihat adegan tadi, sehingga kini ia bisa aman.


"Nadya, kamu ikut ke ruangan saya!" ucap Adrian sembari melangkah keluar lift.


"Baik pak!" ucap Nadya mengangguk setuju.


Nadya pun berjalan mengikuti bosnya sampai masuk ke dalam ruang kerja sang bos yang letaknya tak jauh dari lift berada, Nadya juga masih terus memegangi bibirnya seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia lakukan bersama Adrian, ya ini sudah kesekian kalinya Adrian berhasil merasakan kelembutan bibirnya yang seksi itu.


"Apa yang harus aku lakukan supaya bisa lepas dari Adrian yang gila itu? Kalau aku terus-terusan disini, aku bisa semakin tersiksa seperti dulu! Bahkan Yoga yang pacarku aja belum pernah cium bibir aku, tapi Adrian sudah berkali-kali." batin Nadya.


Braakkk...


Adrian langsung menutup dan mengunci pintu ruangannya dengan cepat setelah Nadya masuk ke dalam sana bersamanya, ia pun menarik tangan gadis itu dan membawanya menuju sofa. Tampak tersirat keinginan untuk kembali mencumbu bibir Nadya dari pancaran matanya, ya memang tujuan Adrian mengajak Nadya kesana adalah untuk melanjutkan adegan yang sempat tertunda tadi.


Nadya hanya bisa pasrah saat tangannya dicengkeram dan ditarik begitu saja oleh Adrian, ia kini terduduk di sofa bersama pria mantan narapidana itu berduaan saja. Bahkan Adrian terlihat sudah melepas jas yang ia kenakan dan mengendurkan dasinya, tampak sekali kalau Adrian sudah bersiap untuk melanjutkan permainan yang tertunda tadi karena lift terbuka.


"Nadya, atau aku harus panggil kamu Sheila? Sekarang ini aku minta sama kamu, untuk diam dan menurut saja dengan perkataan saya! Gimana, apa kamu bisa Nadya?" ucap Adrian mendekat sembari menggenggam dua telapak tangan Nadya.


"Ssshhh! Jangan berisik dan jangan pernah ngebantah perkataan saya! Itu juga ada loh di dalam surat kontrak kerja kamu, jadi kamu gak boleh melanggar itu!" potong Adrian.


Nadya hanya manggut-manggut saja dengan bibir mengatup, ia tak mampu berkata-kata karena semua yang dikatakan Adrian memang benar adanya dan tertera dalam kontrak kerjanya. Akhirnya Nadya terpaksa mau melakukan apa yang diinginkan bosnya itu Tanpa bisa melawan, walau sebenarnya ia sangat bersedih dan hatinya pun menangis.


"Nadya, kamu jadi milik saya selama di kantor! Dan Yoga pacar kamu itu gak akan bisa berkutik atau melakukan apapun!" bisik Adrian di telinga Nadya.


...•••...


Sementara itu, Yoga yang tengah memacu mobilnya merasa bahwa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang sedari tadi. Yoga pun menambah kecepatan mobilnya untuk dapat menghindar dari kejaran mobil tersebut, ia tahu betul kalau memang mobil itu mengincarnya karena selalu mengikuti ia kemanapun ia mengambil belokan.


Akhirnya aksi kejar-kejaran itu pun terjadi di jalan raya besar yang lumayan ramai, Yoga dengan kelihaiannya berusaha menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya dengan cara zig-zag. Yoga berharap dengan cara itu ia berhasil membuat mobil penguntit nya itu kehilangan jejak, namun ternyata ia salah karena mobil tersebut masih terus berada tepat di belakangnya dan bahkan semakin memepet mobil yang tengah ia kendarai.


"Aaarrgghh!! Di depan ada truk gede lagi, mana jalannya lelet banget kayak siput!" umpatnya geram.


Tiiinnnn... tiiinnnn...


Yoga terus membunyikan klakson berkali-kali dengan keras bermaksud agar truk besar tersebut dapat menambah lajunya agar ia juga bisa kabur dari kejaran mobil yang mengikutinya. Yoga sangat panik, apalagi mobil di belakangnya itu semakin mepet dan hendak menabrak mobil miliknya.


"Sial! Siapa sih tuh orang? Maunya apa coba ngikutin mobil gue kayak gini?" gumamnya bertanya-tanya karena penasaran.


Braakkk...


"B*ngs*t!! Sialan! Mobil gue ditabrak gitu aja sama tuh orang, bener-bener cari ribut!" umpatnya kesal.


Tiiinnnn... tiiinnnn...

__ADS_1


Yoga semakin panik tak karuan karena badan mobilnya terus ditabrak dari belakang oleh mobil yang mengikutinya itu, sedangkan truk di depannya juga malah semakin melambat seperti disengaja sehingga Yoga kini terhapit oleh dua kendaraan yang tak ia mengerti siapa sebenarnya orang yang mengikutinya itu.


"Sialan banget nih truk! Apa jangan-jangan dia emang sekongkol sama mobil di belakang itu? Gue harus cari tau siapa mereka!" ujarnya.


Bruuukkk...


Tak disangka olehnya, mobil di belakang itu semakin ganas menabrak bagian belakang mobil miliknya sehingga Yoga makin panik tak mengerti apa sebenarnya mau dari orang itu. Sangking paniknya dan terus melihat ke belakang, Yoga sampai tak melihat jika di depan ada belokan karena memang terhalang truk besar itu sedari itu.


Akibatnya, mobil Yoga yang tengah melaju di atas kecepatan rata-rata itu terus melaju ke depan tanpa bisa dikendalikan lagi oleh Yoga dan tergelincir masuk ke dalam jurang yang curam.


"Aaaaaa..." teriak Yoga saat menyadari mobilnya masuk ke jurang.


Yoga bersama mobilnya akhirnya terguling-guling hingga tersangkut pada sebuah pohon, ya kebetulan dasar jurang tersebut adalah hutan yang dipenuhi oleh pepohonan rindang. Untunglah mobil Yoga masih bisa terselamatkan dan menyangkut di sebuah pohon disana, namun Yoga tampak terluka parah akibat benturan dan kini tak sadarkan diri.


Sementara mobil yang sedari tadi mengikuti Yoga dan terus menabrak mobilnya, berhenti tepat di atas jurang tersebut mungkin si pemiliknya ingin memastikan apakah Yoga masih hidup atau tidak. Ya benar saja, seorang pria mengenakan hoodie berwarna putih disertai kacamata hitam turun dari dalam mobil tersebut dan melihat ke bawah jurang.


"Hahaha, mati kamu Yoga! Setelah ini, gak ada yang bisa ganggu Sheila lagi selain saya!" ujarnya.


Setelah memastikan sendiri bahwa Yoga telah terjatuh ke dalam jurang, pria itu pun kembali ke mobilnya dan menancap gas lalu pergi dengan cepat dari tempat tersebut karena tak ingin ketahuan.


...•••...


Disisi lain, Devano tengah jalan-jalan pagi di sekeliling perkampungan tempat tinggal paman Roky yang masih asri dan banyak dikelilingi sawah serta pegunungan yang sejuk. Suasana itulah yang membuat Shella merengek minta diajak jalan keluar bersama suaminya, awalnya memang Devano menolak, namun karena paksaan dari mama serta papanya membuat ia terpaksa menuruti kemauan sang istri daripada harus dimarahi oleh mereka.


Devano pun dengan telaten menggandeng tangan istrinya selama perjalanan itu, mereka menyusuri jalan bebatuan yang tidak terlalu luas dan diapit oleh perumahan serta kali yang jernih. Shella tampak gembira karena jarang sekali ia berjalan ditemani suaminya dengan kondisi pemandangan yang sejuk dan indah seperti ini, itulah sebabnya ia terus saja tersenyum sembari membenamkan wajahnya pada bahu sang suami yang ada di sampingnya.


"Mas, seru ya kalo kita jalan-jalan berdua kayak gini? Aku pengen deh kita bisa terus seperti ini tiap hari, kenapa kita gak pindah aja ke pedesaan kayak gini sih, mas? Aku tuh bosen tinggal di kota yang berisik dan ramai mulu, aku sekali-kali butuh ketenangan dan kedamaian kayak disini." ucap Shella.


"Honey, kamu suka emang tinggal disini?" tanya Devano tersenyum.


"Suka! Malah suka banget! Udaranya disini tuh masih segar banget dan enak dihirupnya juga, terus pemandangan disini sama di kota itu beda jauh tau, mas! Kalau disini kan banyak sawah, sungai, pegunungan, bukit-bukit yang hijau sama hutan juga banyak di dekat sini. Nah kalo di kota itu paling aku cuma bisa lihat gedung-gedung tinggi sama asap polusi dimana-mana," ucap Shella.


"Hahaha, bener juga kamu! Tapi honey, aku kan juga harus urus perusahaan aku! Kalau misal kita pindah tinggal disini, yang ada perusahaan aku bisa turun nanti perkembangannya." ucap Devano.


"Yaudah, yang tinggal disini aku sama mama papa aja. Kamu tetap aja di kota sambil ngurus perusahaan, nanti sekali-kali baru deh kamu datang kesini buat tengokin aku sama mama papa dan calon anak kita ini." ucap Shella memberi ide.


"Hah? Yang bener aja kamu honey! Masa iya aku disuruh tinggal sendirian di kota tanpa kamu? Mana bisa aku kayak begitu, honey?" ujar Devano.


"Ah lebay kamu mas! Pokoknya aku maunya tinggal disini aja, mas! Ini kan kemauan anak kamu juga, masa kamu sebagai papanya gak mau nurutin sih? Padahal kan gampang, kamu tinggal cariin aku rumah di dekat sini supaya aku bisa tinggal disini! Terus tinggal kamu bayarin deh pake uang kamu, selesai kan?" ucap Shella.


"Iya honey, nanti biar aku bicarain sama mama papa ya? Sekarang kita lanjut dulu jalannya!" ujar Devano.


"Iya deh, awas loh kalo kamu bohong!" ujar Shella.


Devano tersenyum sembari mengusap puncak kepala Shella dengan lembut lalu mengecup keningnya secara perlahan, ia menempelkan bibirnya cukup lama pada dahi sang istri sehingga Shella tampak tersipu malu disertai rambut yang berterbangan diterpa angin.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...



...Masuk jurang ges😱...

__ADS_1


__ADS_2