Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Pelukan salah sasaran


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 236


...•...


...•...


Rafael tengah berada di mobil hendak mengantarkan Novi ke rumahnya, ia merasa canggung berada berduaan dengan wanita yang belum terlalu dikenalnya itu. Begitupun dengan Novi yang juga sangat gugup karena berduaan dengan lelaki asing, alhasil mereka hanya diam tanpa ada perbincangan apapun diantara mereka.


Sesekali Rafael melirik ke arah Novi lalu tersenyum tipis, namun begitu Novi sadar kalau sedang diperhatikan pria itu langsung reflek mengusap pangkal hidungnya sebagai pengalih perhatian. Tampaknya Rafael juga terkesan dengan kecantikan wanita di sampingnya itu, ya ia tak menyangka kalau kenalan bosnya cantik-cantik semua.


"Si bos canggih juga ya, semua cewek yang kerja atau deket sama dia cantik-cantik banget! Udah istrinya cantik, karyawan cantik, besok-besok siapa lagi ya yang cantik??" batin Rafael senyum-senyum sendiri.


Tanpa disadari oleh Rafael, rupanya Novi memandangi wajah pria itu dan merasa heran karena Rafael tersenyum sendiri seperti orang tidak waras. Novi pun malah ketakutan khawatir kalau Rafael punya niat yang tidak beres padanya, namun ia menghilangkan pikiran negatif itu lantaran Rafael adalah orang suruhan Devano dan tak mungkin Devano menyuruh orang sembarangan untuk mengantar dirinya pulang ke rumah.


"Eee ini udah benar kan?" tanya Rafael sembari menoleh ke wajah gadis di sampingnya.


"Ya, nanti di depan belok kiri! Dari situ udah deket kok sama rumah aku..." jawab Novi.


"Oke,"


Tak ada lagi suara yang terdengar baik dari mulut Rafael maupun Novi, mereka masih merasa canggung karena ini pertama kalinya mereka berada dalam satu mobil.


Setelah sampai di rumahnya, gadis itu langsung hendak turun dari mobil dan membuka pintu mobilnya. Namun, sebuah tangan dengan cepat menahannya agar tidak keluar.


"Tunggu!" ucap Rafael.


Ya itulah tangan dari Rafael yang menahan lengan Novi, tentu saja Novi langsung merasa gugup menatap wajah Rafael penuh keheranan. Rafael pun melepaskan lengan Novi karena tak mau gadis itu merasa ketakutan, ia memandang wajah Novi dan sepertiga akan mengucap sebuah kalimat.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Novi.


"Kok langsung turun sih? Gak mau bilang makasih dulu gitu sama aku? Kan aku udah bela-belain antar kamu pulang ke rumah loh, masa iya main turun gitu aja gak ada basa-basi nya apa kek??" ucap Rafael.


"Ohh, iya maaf pak! Sa-saya—"


"Hey, kok pak sih? Aku masih muda loh, baru juga jalan 25 tahun ini! Panggil nama aja, aku Rafael!" potong Rafael lalu menyodorkan tangannya ke depan Novi.


"Eee aku Novi..." ucap Novi pelan lalu mengangkat tangannya dan bersalaman dengan Rafael.


Rafael tampak menikmati ketika menyentuh tangan gadis itu, entah mengapa rasanya ia tak mau melepaskan genggaman mereka.


"Yaudah makasih ya, Rafael!" ucap Novi menarik tangannya.


"Ya, sama-sama! Hati-hati turunnya, atau mau aku anterin sampai ke dalam?" ucap Rafael.


"Eee gak perlu, aku bisa sendiri kok!" ucap Novi membuka pintu mobilnya lalu menginjakkan kakinya ke jalan, ia menutup kembali pintu mobilnya kemudian berjalan ke dalam rumah tanpa memperdulikan Rafael lagi.


Rafael sendiri masih diam disana menatap Novi dari belakang, tanpa sadar senyum terukir di wajahnya.


...•••...


Yoga yang masih menunggu disana tampak terkejut ketika melihat seorang wanita keluar dari ruangan itu, bagaimana tidak wanita itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Nadya.


Sontak Yoga langsung bangkit dan mendekati Shella, ia mengira kalau Shella adalah Nadya gadis yang dicintainya.


"Nadya!" ucap Yoga dengan mulut menganga.


Tanpa basa-basi ia bergerak maju lalu mendekap tubuh Shella dengan erat karena saking senangnya, ya Yoga sangat bahagia melihat gadisnya sudah sadar dari koma dan bisa keluar dari ruang ICU.


Sementara Shella tak mengerti apa yang dilakukan pria tersebut, ia bahkan tidak mengenalinya tapi pria itu malah memeluknya begitu saja dan memanggilnya dengan nama Nadya.


"Ma-maaf, saya bukan Nadya!" ucap Shella berusaha mendorong tubuh Yoga tapi gagal.


Mendengar ucapan Shella membuat Yoga terdiam, tangis harunya mendadak sirna dan ia mulai menjauh dari wajah gadis itu lalu menatapnya dengan terheran-heran.

__ADS_1


Yoga berusaha memastikan bahwa itu memang benar Nadya, ia terus memandang wajah Shella dan memang benar wajahnya itu mirip sekali dengan Nadya. Yoga pun mengelus serta membelai rambut Shella dengan lembut, senyum terukir di wajahnya sembari menitikkan air mata.


"Kamu jangan becanda kayak gitu dong Nadya, aku lagi seneng loh ini!" ucap Yoga masih mengira Shella itu Nadya dan ia tak percaya dengan ucapan Shella.


"Bukan, aku ini—"


"Sssttt! Udah ya, nanti aja bercandanya! Aku sekarang masih kangen banget sama kamu!" potong Yoga sambil menempelkan telunjuknya pada mulut Shella, ia menarik pinggang Shella ke dalam dekapan tubuhnya lalu kembali memeluknya erat.


Shella berusaha meronta-ronta lepas dari pelukan pria itu, tetapi Yoga malah tak menghiraukan itu dan terus mempererat pelukannya. Bahkan Yoga mencium leher wanita itu menikmati aroma tubuh Shella, tentu saja Shella merasa khawatir jika suaminya nanti melihat kejadian ini.


Dari tempat yang agak jauh, terlihat Devano baru keluar dari toilet dan hendak kembali menuju ruang ICU setelah menuntaskan hajatnya. Namun, matanya dikejutkan ketika melihat sang istri tengah berpelukan di depan ruang ICU bersama lelaki yang tak lain adalah Yoga.


"Itu kan Shella, kenapa dia malah pelukan sama si fotografer itu?" batin Devano emosi, tanpa sadar satu tangannya kini terkepal.




Sementara itu, Nadya baru selesai menghabiskan sarapannya dan ia tampak menikmati bubur itu bukan karena rasanya melainkan orang yang menyuapinya. Ya walau ia sedang hilang ingatan, tapi entah kenapa rasanya ia selalu nyaman ketika berada di dekat Jenar.


"Hore abis, pinter nih anak ibu! Kamu harus terus makan yang banyak, supaya bisa cepat sembuh dan bisa keluar dari sini! Ibu udah gak sabar banget ngeliat kamu sembuh nanti!" ucap Jenar tersenyum.


"Makanya setiap hari ibu aja yang suapin aku, soalnya kalo disuapin sama ibu tuh rasanya selera makan aku meningkat gitu!" ucap Nadya sembari menelan makanan yang ada di mulutnya.


Jenar pun tersenyum sambil mengusap kening putrinya, ia maju kemudian mengecup kening Nadya dengan lembut. Nadya seperti merasakan kehangatan tiap kali Jenar mengecupnya seperti itu, tentu hal ini semakin meyakinkan dirinya kalau Jenar memang benar ibu kandungnya.


"Bu, tante yang kemarin datang kesini itu mana? Apa dia udah gak mau jenguk aku lagi? Katanya dia bilang kalau dia mama aku, tapi kok malah gak kesini? Pasti dia bohong ya bu?" ucap Nadya menanyakan Lestari.


"Eee mungkin aja mama kamu itu sibuk, dia gak bohong kok sayang! Dia itu emang mama kamu, kan ibu udah sempat bilang kemarin kamu punya ibu sekaligus mama..." ucap Jenar.


"Terus, kalo papa aku yang mana bu?" tanya Nadya.


Jenar tersentak mendengar pertanyaan putrinya, seketika ia teringat kembali pada almarhum suaminya yang sudah memintanya untuk meninggalkan Nadya di panti asuhan beberapa waktu silam.


Ia merasa kasihan pada putrinya itu, saat ini ia memiliki dua orang ibu tetapi tak ada satupun ayah yang ia miliki di dunia ini karena baik ayah kandung maupun angkatnya telah tiada.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2