
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 153
...•...
...•...
Yoga kembali ke tempat Nadya sambil membawa 2 piring batagor di tangannya, ia pun memberikan satu piring pada Nadya yang tidak memakai saus tentunya.
"Nih punya kamu..." ucap Yoga menyerahkan batagor milik Nadya di hadapan gadis itu, setelahnya Yoga pun duduk tepat di samping Nadya dengan jarak hanya sekitar 10cm.
"Makasih, kamu itu sampe merah begitu sih emang gak bakal kepedesan apa?" ujar Nadya sedikit kaget karena bumbu batagor Yoga yang terlihat sangat merah.
"Aku itu suka banget sama pedes, justru segini masih kurang buat aku mah! Cuma aku kasian aja kalo tadi nambah saus lagi, takutnya abangnya gak punya stok saus tambahan!" ujar Yoga tersenyum lalu mulai memakan batagornya, begitu pun dengan Nadya.
Setelah memakan sesuap batagor, Yoga mulai menanyakan tentang penyebab Nadya menjadi pusing tadi dan hampir menabrak mobilnya.
"Kamu itu lagi ada masalah apa sih? Maaf nih ya bukannya aku kepo, tapi siapa tau dengan kamu cerita ke aku rasa pusing kamu bisa lebih berkurang gitu..." ujar Yoga menatap wajah Nadya yang masih asyik dengan batagornya.
"Eee... aku cuma kecewa aja sama calon suami aku itu, dia bukan laki-laki yang baik dan setia! Makanya aku milih buat mengakhiri hubungan aku sama dia, daripada nantinya malah semakin terasa sakit buat aku! Lagian jujur aja ya selama ini tuh aku gak ada rasa sama dia, tapi karena mamah selalu maksa aku buat deket sama dia jadinya aku terpaksa jalin hubungan sama Adrian..." ucap Nadya.
"Aku kira Adrian itu emang orang yang baik dan tulus cinta sama aku, tapi nyatanya enggak! Setelah cukup lama kita jalin hubungan yang serius, Adrian perlahan menunjukkan sikap aslinya yaitu kekasaran dia...!! Aku hampir aja kena akibat dari sikap dia itu, makanya malam itu aku pulang sendiri dan ketemu sama 2 pria asing yang nyaris perkosa aku...." sambungnya.
"Ohh jadi malam itu kamu habis ada masalah sama calon kamu? Ya ampun kasihan banget sih kamu Nad, tadinya aku kira cuma aku yang paling menderita di bumi ini! Tapi ternyata ada yang lebih parah dari aku, kamu yang sabar ya! Kalaupun dia bukan jodoh kamu, pasti Tuhan udah siapin yang terbaik buat kamu kok!" ucap Yoga tersenyum sambil menatap Nadya.
Nadya juga menoleh ke arah Yoga dan membalas senyuman pria itu, kini mereka berdua saling bertatapan sampai lupa kalau ada batagor di tangannya.
"Tatapannya indah sekali, senyumannya juga bikin hati gue jadi terasa sejuk... andai yang saat ini tatap gue itu Femila, pasti gue bakal ngerasa senang banget....!!" gumam Yoga.
Saking asyiknya bertatapan, hampir saja piring batagor di tangan Yoga terhempas ke tanah.
__ADS_1
Beruntung pria itu cepat sadar dan membetulkan kembali posisi piringnya, ia terlihat malu karena Nadya yang terkekeh melihat kelakuan dirinya.
"Hadeh piring sialan ganggu aja sih, kan jadi luntur image gue di hadapan Nadya...!!" gumam Yoga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu tersenyum kembali ke arah Nadya.
Sementara gadis itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia pun kembali melanjutkan makan batagornya yang sudah mulai dingin akibat terlalu lama didiamkan.
•
•
Tak jauh dari sana, seorang pria juga datang ke taman itu bersama wanita disampingnya... ya siapa lagi dia kalau bukan Adrian Bagaskara dan Syifa sekretarisnya.
"Eee pak, kenapa kita kesini? Bukannya kita harus ketemu klien??" tanya Syifa yang bingung pada bosnya karena malah mengajak dirinya ke taman itu.
"Saya mau curhat sama kamu sebentar aja kok, tolong kamu kasih tau klien kita suruh tunggu beberapa menit aja! Lagian janjiannya kan juga masih 20 menit lagi, ada banyak waktu yang bisa kita pake dulu disini!" jelas Adrian.
"Oh begitu baik pak..." ucap Syifa tersenyum.
"Ayo kita kesana!" ujar Adrian menunjuk ke sebuah kursi di depannya yang kosong, ia pun jalan kesana disusul oleh Syifa.
"Baik pak," ucap Syifa kemudian perlahan duduk di kursi itu sambil menyilang kan kakinya, ia juga meletakkan tasnya di tempat yang kosong.
Setelah mereka duduk, Adrian malah terdiam saja tak berbicara sepatah katapun... hal itu malah membuat Syifa jadi bingung, padahal sebelumnya Adrian bilang ingin curhat padanya.
"Eee pak, kenapa bapak malah diam? Katanya bapak mau curhat sama saya, ayo curhat aja pak pasti saya dengerin kok..!!" ucap Syifa mendekatkan wajahnya ke wajah Adrian sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah bosnya itu.
"Eh iya iya maaf saya lupa, jadi begini Syifa saya itu sedang bingung sekarang! Jujur saya malu cerita ini sama kamu, tapi saya juga gak tau lagi mau cerita ke siapa... ini masalah percintaan saya, kemarin saya terpaksa harus menyetujui keinginan wanita saya untuk menjauh darinya dan tidak lagi mendekati dia supaya saya bisa dimaafkan olehnya!" ujar Adrian menceritakan masalahnya pada Syifa.
"Tapi entah kenapa sampai saat ini saya masih kesulitan untuk pergi jauh dari dia, saya sangat mencintai dia Syifa!" sambungnya sambil menatap wajah sekretarisnya itu.
"Memangnya kesalahan apa yang sudah bapak lakukan ke dia, sampai dia meminta bapak untuk menjauh dari kehidupannya?" tanya Syifa.
"Saya nyaris memperkosanya...." jawab Adrian jujur kepada sekretarisnya, karena memang itulah yang ia lakukan pada Nadya.
Syifa terkejut sampai menutup mulutnya saat bosnya mengakan itu, disaat ia ingin berbicara tiba-tiba saja ia melihat seorang wanita yang tak asing tengah jalan bersama seorang pria.
"Loh itu kan Nadya, jadi dia disini juga..." gumam Syifa sambil terus memandangi seorang wanita yang diduga adalah Nadya.
__ADS_1
...•••...
Sementara itu, Devano diantar pulang ke rumah Shella oleh Sadam & Laila... mereka berdua juga membantu Devano untuk turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Shella dengan tertatih-tatih.
"Yaelah gua bisa sendiri kok, udah kalian pulang aja sana seneng-seneng berdua! Gua yakin pasti kalian mau kan berduaan, udah sana gausah bantuin gue...!!" ujar Devano.
"Ish apaan sih bang? Gausah ngeyel deh, gue gak mau lu malah jatuh nantinya soalnya kondisi lu itu belum pulih benar! Udah biar gue sama Sadam bantu lu jalan kesana, nanti baru kita pergi!" ucap Laila tetap memaksa untuk membantu abangnya berjalan.
"Ah elah lebay banget lu jadi orang, padahal gua kan segar bugar begini dibilang belum pulih! Ayo cepetan lah jalannya, gue takut Shella khawatir kalo kalian lama...!!" ujar Devano gak tau diri udah dibantu malah ngomel.
"Ish berisik banget lu bang!" ujar Laila kesal sampai memukul lengan abangnya itu.
"Aduhhh... tega banget sih lu La, sakit loh ini malah tambah dipukul lagi...!!" ujar Devano meringis kesakitan memegangi lengannya yang tadi dipukul Laila.
"Ya lagian lu berisik banget, tuh dikit lagi nyampe kok!" ucap Laila.
"Gua bakal ketemu sama Shella lagi, kira-kira Shella kayak gimana ya sekarang? Ah pasti dia makin cantik dan manis, sayang banget gua harus kehilangan gadis seperti dia..." gumam Sadam.
Mereka pun sampai di depan pintu rumah Shella, Devano langsung didudukkan di atas kursi yang terletak di depan rumah itu.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum," ucap Laila sambil mengetuk-ngetuk pintunya dengan keras.
"Ya waalaikumsallam..." ujar seseorang dari dalam rumah terlihat buru-buru menuju pintu depan.
Ceklek... pintu pun terbuka, Jenar terkejut saat melihat ada Laila & Sadam di depan pintu.
"Eh kalian toh, ada apa?" ucap Jenar yang masih belum menyadari keberadaan Devano, Laila & Sadam pun mencium tangan Jenar.
"Ini tante, kita anterin kak Vano pulang!" ucap Laila menunjuk ke arah Devano yang masih duduk disana.
Barulah Jenar menoleh dan menyadari kalau ada Devano disana, ia langsung terkejut saat melihat tubuh Devano dipenuhi perban.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1