Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Apakah aku menyukainya?


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 352


...•...


...•...


Jenar mengajak Damar masuk ke dalam lalu duduk di sofa ruang tamu, mereka menunggu Nadya yang tengah membuatkan minuman untuk Damar di dapur sembari berbincang-bincang sejenak.


Jenar coba bertanya kepada Damar untuk apa pria tersebut datang jauh-jauh ke Jakarta sendirian dan tanpa memberitahu lebih dulu padanya.


"Damar, kamu ini ada keperluan apa toh datang ke Jakarta mendadak kayak gini? Tante juga gak dikasih tau sama papa kamu, kalau kamu mau datang kesini. Memangnya sekolah kamu udah selesai?" tanya Jenar sambil tersenyum penasaran.


Damar pun membalas senyuman tantenya lalu agak sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Iya tante, aku kebetulan udah lulus sekolah dan aku datang ke Jakarta ini mau cari kerjaan. Soalnya kalau di kampung, aku bosen disuruh ke sawah terus!" jawab Damar menjelaskan alasannya.


"Ahaha, emang iya sih. Terus gimana, apa kamu sudah dapetin kerjaan itu?" tanya Jenar.


"Eee itu dia tante, aku sih udah taruh surat lamaran ke beberapa tempat. Aku harap bisa segera dapat panggilan, ya walau bukan kerjaan yang gajinya gede. Yang penting aku bisa kerja yang lain lah, bukan cuma nyangkul di sawah!" jawab Damar.


"Iya benar, yaudah tante doakan semoga kamu segera dapat pekerjaan dan bisa mandiri!" ucap Jenar mendoakan ponakannya itu.


"Aamiin, makasih tante!" ucap Damar.


"Oh ya, selamat juga ya atas kelulusan kamu! Sekarang kamu udah bisa deh cari pacar buat diajak seneng-seneng, kan lumayan tuh kamu jadi bisa lebih semangat cari kerjanya!" ucap Jenar.


"Ahaha, tante ada-ada aja. Aku maunya pacaran kalau udah kerja aja, tan! Supaya aku gak pake uang orang tua aku buat pacaran nantinya, kan gak enak dong kalo kayak begitu! Lagian, belum tentu juga ada cewek Jakarta yang mau sama aku!" ucap Damar.


"Loh loh kamu kenapa merendah begitu? Kamu itu ganteng loh, Mar! Tante yakin banyak kok yang suka dan mau sama kamu, tapi bener sih apa yang kamu bilang buat gak pacaran pake uang orang tua!" ucap Jenar tersenyum.


"Iya tante, itu mah urusan belakang aja." ucap Damar.


Tak lama kemudian, Nadya akhirnya kembali ke ruang tamu membawa nampan berisi dua gelas teh hangat yang sepertinya untuk Damar serta ibunya.


"Maaf ya lama, ini minumnya." ucap Nadya tersenyum lalu menaruh gelas-gelas itu di atas meja dan kemudian berdiri kembali.


"Makasih, Sheila!" ucap Damar.


"Sama-sama, yaudah aku kesana lagi ya Bu? Mau taruh nampan ini dulu." ucap Nadya.

__ADS_1


"Iya sayang, tapi nanti kamu kesini lagi!" ucap Jenar.


"Iya Bu..." Nadya tersenyum lalu membalikkan tubuhnya dan pergi kembali ke dapur.


"Ayo Mar, diminum!" ucap Jenar.


"Ah iya, tante!" ucap Yoga tersenyum lalu mengambil gelas berisi teh hangat itu dan meminumnya, ia meneguk sedikit air teh itu lalu kembali menaruh gelasnya di atas meja.


Mereka pun kembali berbincang disana.


"Oh ya, Sheila sekarang lagi sibuk apa tante?" tanya Yoga kepada tantenya.


"Sheila sih belum ada kesibukan ya, tapi gak tau kedepannya dia mau ngapain. Tante sih terserah sama Shella aja, kan tante juga gak bisa paksa atau tekan ini itu ke Sheila!" jawab Jenar.


"Iya sih tante, tapi bukannya sebelumnya Sheila kerja di kantor ya?" tanya Yoga penasaran.


"Udah lama enggak, sejak Sheila mengalami kecelakaan dan dia lupa ingatan." jawab Jenar.


"Apa? Sheila kecelakaan, tante?" tanya Yoga terkejut.


"Iya, bahkan dia sampai koma beberapa Minggu. Untungnya Sheila bisa sembuh dan sekarang bahkan ingatannya juga sudah kembali, tapi itu dia tante belum tau apa kiranya yang mau dia lakuin nanti!" jawab Jenar.


"Alhamdulillah deh, yang penting kan Sheila sekarang udah baik-baik aja tante!" ucap Yoga.


"Iya..."




Nadya tampak ragu untuk menghampiri ibu serta sepupunya di depan sana, entah mengapa ia merasa canggung untuk berbicara dengan Damar karena mereka memang tak terlalu akrab.


Rasa kantuk yang menyerang juga membuat Nadya semakin malas untuk menemui ibunya disana, ingin sekali ia langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarnya lalu tidur, namun pastinya Jenar akan menyadari dan mencegahnya.


Akhirnya Nadya pun memutuskan pergi ke depan lebih dulu menghampiri ibunya untuk meminta izin.


"Bu...." ucap Nadya pelan dan tampak gugup.


"Eh sayang, balik juga kamu! Sini sini duduk, kamu harus ngobrol-ngobrol sama nak Damar! Dia ini orangnya asik kok, kamu pasti cocok deh sama dia!" ucap Jenar meminta putrinya duduk disana.


"Eee maksudnya cocok gimana, Bu?" tanya Nadya tak mengerti dengan perkataan ibunya.


"Ahaha, cocok buat saling ngobrol loh sayang! Bukan cocok apa-apa, udah sini duduk samping ibu! Lagian kamu kan belum terlalu kenal sama Damar, sepupu kamu ini! Kalian baru ketemu beberapa kali kan waktu itu?" ucap Jenar.


"Iya Bu..." ucap Nadya pelan.


Nadya pun terpaksa duduk di samping ibunya karena tak ada pilihan lain, walau ia masih agak ragu dan canggung berhadapan langsung dengan Damar.

__ADS_1


"Hai, Sheila! Kamu sama mbak Shella itu hampir gak ada bedanya, ya? Wajahnya mirip banget, terus bentuk tubuhnya juga gak jauh beda! Udah gitu kalo senyum sama-sama manis banget lagi!" ujar Damar.


"Ahaha, ya iya dong nak Damar. Kan Sheila sama Shella itu saudara kembar, mereka cuma beda waktu beberapa menit!" ucap Jenar.


"Iya sih, makanya aku susah buat bedain yang mana mbak Shella dan yang mana Sheila. Untuk sekarang ini cuma ada Sheila sendiri, jadi aku langsung tau kalau ini Sheila bukan mbak Shella!" ujar Damar sambil tersenyum.


Nadya hanya senyum-senyum saja.


"Iya itu dia, sekarang kan Shella udah tinggal sama suaminya. Jadi, tante jarang ketemu sama dia!" ucap Jenar sambil merangkul Nadya dan tersenyum.


Nadya yang mengantuk, justru lama-kelamaan memejamkan mata sembari menyandarkan kepalanya pada bahu sang ibu.


Damar yang menyadari itu langsung merasa tidak enak karena menganggap dirinya sudah mengganggu waktu tidur Jenar serta Nadya.


"Eee tante, Sheila kayaknya ngantuk banget deh. Itu aja sampai ketiduran di pundak tante, aku jadi gak enak nih malam-malam datang ke rumah ini!" ucap Damar merasa bersalah.


Jenar langsung menengok ke arah putrinya dan baru sadar jika Nadya sudah tertidur.


"Eh iya, emang sih tadi Sheila juga udah ngantuk banget sebelum kamu datang. Sekarang dia kayaknya bener-bener gak tahan lagi deh, maaf ya nak Damar!" ucap Jenar.


"Gapapa tante, kalo gitu Sheila nya dibawa aja ke kamar supaya bisa tidur lebih enak!" ucap Damar.


"Nah, kamu bisa gak bantuin tante bawa Sheila ke kamarnya? Soalnya tante gak kuat kalau harus gendong tubuh Sheila sendirian," ujar Jenar.


"Oh, bisa kok tante." ucap Damar.


Damar pun bangkit lalu mendekat ke arah Nadya, Jenar perlahan mengangkat kepala putrinya agar memudahkan Damar untuk menggendong tubuh Nadya yang tengah tertidur itu.


Damar langsung menggendong Nadya tanpa keberatan, ia pun membawa Nadya ke atas menuju kamarnya seorang diri karena Jenar tetap menunggu di bawah membereskan bekas minuman mereka.


Ceklek...


Sesampainya di depan kamar, Damar membawa tubuh Nadya ke dalam dan meletakkannya di atas ranjang yang empuk. Damar juga menyalakan lampu tidur di sampingnya, lalu menyelimuti Nadya dengan selimut tebal yang sudah tersedia.


Damar masih terus mengamati wajah cantik Nadya dari dekat, tanpa sadar ia tersenyum dan menggerakkan tangannya untuk mengelus wajah mulus milik Nadya.


"Cantik sekali, persis seperti wajah mbak Shella. Dulu aku sangat menyukai mbak Shella, apa sekarang aku juga akan memiliki rasa yang sama pada Sheila?" gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.


Cupp...


Damar memberanikan diri mengecup kening Nadya, ia menempelkan bibirnya cukup lama disana sembari mengusap rambut gadis itu.


"Good night, Sheila!" ucapnya pelan sembari mengusap bekas kecupannya.


Barulah setelahnya ia pun berdiri dan berjalan keluar kamar Nadya, tak lupa juga Damar mematikan lampu lalu menutup pintu kamar Nadya rapat-rapat.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2