
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 274
...•...
...•...
Hari sudah sore, Shella & Laila pun pamit pulang setelah mengantar Jenar ke rumahnya karena Laila ada tugas yang harus dikerjakan dan baru diberitahu oleh dosennya secara mendadak udah kayak tahu bulat digoreng di mobil 500an enak coy.
"Bu, kalo gitu kita langsung pamit ya?" ucap Shella.
"Duh, gak mau mampir dulu masuk ke dalam? Minum aja gitu, kalian emang gak haus apa abis dari luar gitu?" ujar Jenar menawarkan minum.
"Gausah deh, Bu! Kasihan Laila nanti takut gak ada waktu buat ngerjain tugasnya, dia kan harus buru-buru pulang Bu..." ucap Shella menolak.
"Iya bener, eh tapi kalo lu masih mau disini ya gapapa kali Shel! Nanti biar kak Vano yang jemput lu, gampang kan?' ucap Laila memberi usul.
"Nah bener tuh kata nak Laila, udah Shella kamu disini dulu temenin ibu!" ujar Jenar.
"Iya udah gapapa kok, papa sama mama pasti paham kalo lu mau disini temenin ibu! Lagian mereka mah juga gak akan ngelarang, malahan seneng ngeliat lu akur sama ibu!" ujar Laila.
"Eee... gimana ya...??" gumam Shella kebingungan.
"Udah gausah gimana-gimana terus, kasian tuh ibu butuh temen soalnya Sheila masih di rumah sakit!" ucap Laila meyakinkan Shella.
"Iya deh, tapi kamu pulangnya hati-hati ya Laila! Jangan mentang-mentang sendiri terus nyetirnya sambil ngebut, bahaya loh!" ujar Shella.
"Iya tenang aja santai, yaudah ya gue pamit! Bu, aku pamit pulang dulu ya? Assalamualaikum...." ucap Laila berpamitan sembari mencium tangan Jenar.
__ADS_1
"Waalaikumsallam, hati-hati nak Laila!" ucap Jenar.
Laila pun berbalik kemudian kembali ke mobilnya, sedangkan Jenar merangkul sang putri lalu membawanya ke dalam rumah untuk dibuatkan minum karena mereka memang lumayan haus.
Shella terpaksa mengikuti kemauan ibunya untuk tetap tinggal disana selama beberapa jam, walau sebenarnya ia tak mau karena malas sekali jika harus dijemput pulang oleh suaminya nanti.
"Hadeh, padahal kan niatnya aku mau menghindar dulu dari mas Vano... aku pengen kasih dia pelajaran supaya gak kegatelan terus sama sekretarisnya, eh tapi malah jadi kayak gini! Gagal deh semua rencana yang udah aku susun dengan matang, kalo gini mas Vano pasti bakal terus cecar aku nanti!" batin Shella.
Jenar menyadari ada yang tidak beres dengan putrinya itu, ya Shella memang tampak tak senang ketika memasuki rumah itu bersama ibunya dan tentu Jenar mengira kalau Shella tidak ingin menemaninya disana.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Jenar penasaran.
"Gapapa kok, Bu!" jawab Shella sembari tersenyum singkat lalu kembali bersikap datar lagi.
"Ohh kamu gak seneng ya temenin ibu disini?" tanya Jenar menatap wajah putrinya tajam.
"Hah? Bukan gitu Bu, masa iya aku gak seneng nemenin ibu sendiri! Justru aku seneng banget bisa bareng-bareng sama ibu kayak gini, kan sejak nikah aku udah jarang ada momen berduaan sama ibu!" ucap Shella langsung bersikap manis pada ibunya.
"Halah, pake pura-pura seneng segala! Udah ngaku aja ibu tahu kok, kamu emang gak suka kan nemenin ibu disini!" ujar Jenar kesal.
"Yaudah bentar ya ibu ambilin dulu minumnya di dapur, buat kamu sama buat ibu juga!" ucap Jenar.
"Eh gausah Bu, jangan!" ujar Shella menahan ibunya.
"Loh kenapa, sayang?" tanya Jenar heran.
"Itu bik Yani udah dateng bawain minuman buat kita, jadi ibu gak perlu repot-repot lagi ke dapur!" jawab Shella sembari menunjuk ke arah bik Yani.
"Ealah... makasih ya bik Yani, pengertian banget deh udah dibawain minuman aja!" ucap Jenar.
"Hehe iya dong Bu, saya kan mau jadi asisten rumah tangga yang baik dan berbakti pada majikan!" ucap bik Yani sambil tertawa kecil.
"Hadeh bisa aja si bibik..." ujar Shella.
...•••...
__ADS_1
Disisi lain, Devano masih berada di ruangannya bersama Novi membahas kegagalan mereka dalam memikat hati pak Ridwan si calon klien yang ditemuinya tadi siang. Ya bapak itu memilih mundur dan tidak jadi menekan kontrak kerjasama dengan perusahaan Devano, alasannya karena ada bagian yang kurang meyakinkan dari presentasi Novi dalam menjelaskan produk buatan mereka.
"Nov, saya gak ngerti deh kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi ke perusahaan kita...!! Saya yakin banget kamu bisa menjelaskan lebih baik dari yang tadi, seenggaknya kamu yakinkan dia kalau produk kita ini sudah sangat menjanjikan!" ucap Devano ngegas.
"Maaf pak, ini semua memang kelalaian saya! Saya sungguh menyesal karena tidak mempelajari lebih lanjut materi meeting kali ini, maafkan saya pak!" ucap Novi sembari menunduk.
Devano yang diliputi rasa emosi akibat kehilangan satu kliennya itu amat sangat kecewa pada kinerja dari sekretarisnya, ia pun bangkit dari duduknya dan mendekati Novi dengan tatapan tajam menyala bak pembunuh berantai yang mengerikan.
Dengan santainya Devano menarik dagu Novi ke atas agar bisa ia tatap wajah cantik nan mulus dari sekretaris cantik itu, ya Devano menatapnya tanpa berkedip dan tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah mulus milik sekretarisnya.
"Untuk kali ini saya maafkan kamu, Novi! Tapi, saya harap lain kali jangan sampai terulang! Saya minta kamu perbaiki dan tingkatkan kinerja kamu!" ucap Devano tegas.
"Ba-baik, pak!" ucap Novi gugup.
Devano melepaskan jarinya dari dagu sang sekretaris lalu mengalihkan pandangan ke arah lain dan menaruh dua tangannya di saku celana, sedangkan Novi masih tampak gugup karena belum pernah Devano sampai menatapnya sedekat itu.
"Umm, pak! Apa sekarang saya sudah boleh pulang?" ucap Novi bertanya pada bosnya.
"Ya, boleh! Biar saya antar kamu..." ucap Devano.
"Sebaiknya jangan deh, pak! Saya—"
"Ssshhh! Kali ini gak ada penolakan lagi, saya mau antar kamu sekaligus membicarakan lebih lanjut masalah ini!" potong Devano sembari menempelkan telunjuknya pada bibir sang sekretaris.
"Iya, baik pak!"
Novi pun terpaksa manut menuruti kemauan bosnya itu, ya walau ia sangat tidak mau diantar pulang oleh Devano karena ia takut akan terjadi salah paham berikutnya antara dirinya dengan Shella alias sang istri dari bosnya itu.
Devano yang entah kerasukan apa, tiba-tiba saja menggandeng tangan Novi dan menggenggamnya erat lalu mulai melangkah ke dekat pintu keluar dari ruangan itu secara bersama-sama.
Terlihat Novi tampak syok karena tangannya digandeng secara tiba-tiba oleh sang bos besar, ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika satu karyawan kantor melihatnya tengah bergandengan tangan dengan Devano.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1