
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 226
...•...
...•...
Para polisi membawa Adrian ke kantor untuk dimintai keterangan lebih lanjut tentang pengakuan dari adiknya yang menyatakan kalau dirinya terlibat bahkan menjadi otak atau dalang atas pembunuhan berencana kepada Hamzah dan putrinya, Adrian pun langsung dimasukkan ke sel sembari menunggu proses pemeriksaan dirinya berlangsung.
Ya Adrian ditempatkan di sel yang kosong karena ia belum mendapat keputusan dari hakim bahwa dirinya memang bersalah dan harus dihukum, namun ia satu rutan dengan adiknya yakni Bimo. Adrian pun tampak sangat emosi, tubuhnya bergetar serta kedua tangannya terkepal akibat menahan emosi. Ia benar-benar benci pada adiknya karena sudah membongkar semuanya di depan polisi, tentu ia sadar kalau Bimo melakukan ini karenanya.
"Kenapa, Mo? Kenapa lu ngaku ke polisi kalo gue yang nyuruh lu? Segitunya lu ngambek sama gue, sampe sampe lu bongkar semuanya! Dasar adik gak tahu diri, awas aja kalo ketemu bakal gue hajar habis-habisan lu Bimo!" batin Adrian meletakkan telapak tangannya di tembok dalam posisi terkepal.
Adrian kini hanya bisa pasrah, sudah tentu tidak akan ada yang mau membelanya termasuk sang kakek karena ia sadar kalau kakeknya sangat berpihak pada Bimo. Adrian tinggal menunggu waktu saja kapan dirinya akan resmi ditahan dan berapa tahun kira-kira masa tahanannya, ia tampak pasrah menerima kenyataanya walau terasa sangat berat. Apalagi ia sangat ingin bertemu dengan Nadya, karena tadi sebelum kesini ia sempat melihat tangan serta mata Nadya bergerak hendak sadar.
Adrian terus membayangkan wajah Nadya di dalam benaknya, sepertinya pria itu sudah mulai benar-benar jatuh cinta dengan Nadya. Namun, ia masih juga memikirkan Shella yang sekarang sudah menjadi istri orang. Rasa cintanya pada Shella terlalu besar dan sulit dihilangkan walau ia juga sudah mencintai Nadya, ia sangat berharap bisa memiliki Shella & Nadya secara bersamaan di dalam hidupnya. Sungguh serakah sekali Adrian ini, padahal memiliki satu saja belum tentu bisa.
Tak lama kemudian, seorang polisi datang ke selnya bersama seorang pria di sampingnya. Mata Adrian langsung terbelalak begitu melihat pria tersebut, ya tentu ia sangat mengenalinya karena itu adalah Frederick alias sang kakek. Tampak Frederick terus menatap tajam ke arah Adrian, membuat Adrian merasa geram sekaligus takut berhadapan dengan kakeknya itu.
__ADS_1
"Permisi, pak! Ada yang ingin bertemu dengan anda, silahkan tuan Fred!" ucap polisi itu mempersilahkan Frederick berbicara dengan cucunya.
Adrian mendekati Frederick dengan senyum penuh kebencian di wajahnya, ia menatap nanar wajah kakeknya disertai rahang yang bergetar akibat menahan emosi dalam tubuhnya. Sang kakek masih diam menatap cucunya di dalam sel, sungguh ia sangat sulit menerima kenyataan kalau dua cucunya harus mendekam di penjara.
"Bagaimana rasanya berada di dalam sel ini, Adrian?" tanya Frederick tak sedikitpun menghilangkan tatapannya dari wajah Adrian.
"Menyebalkan, seharusnya kakek jangan datang kesini karena aku sama sekali tidak mengharapkan kehadiran kakek disini! Justru dengan kakek berada disini, aku semakin bertambah kesal dan ingin rasanya menghajar wajah kakek yang sangat amat ku benci itu! Kakek gak pernah sayang sama aku, selalu saja Bimo yang ada di dalam kepala kakek! Padahal dia itu cuma lelaki manja yang tidak bisa melakukan apapun, bahkan untuk hanya membunuh seorang pria saja dia tidak becus!" ucap Adrian.
Frederick berusaha agar tak tersulut emosi akibat omongan Adrian barusan, ia tidak mau ada keributan disana dan nantinya malah semakin memberatkan hukuman cucunya itu. Walau sebenarnya Frederick sangat kesal karena Adrian telah menghina cucu tersayangnya yakni Bimo, memang sejak dulu Frederick tidak pernah bisa menerima kehadiran Adrian di keluarganya karena Adrian merupakan anak hasil perselingkuhan Satria.
...•••...
Sementara itu, Rafael melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke arah rumah Vanya. Ia sudah tidak sabar menemui gadisnya itu karena rasa rindu yang menerpa dirinya, memang saat ini mereka masih belum memiliki hubungan apa-apa. Namun, Rafael merasa bahwa Vanya juga mempunyai rasa yang sama terhadap dirinya.
"Aku harap kamu suka, Vanya!" gumam Rafael memandangi boneka tersebut.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, karena memang jarak dari rumah sakit menuju rumah Vanya itu tak jauh. Akhirnya Rafael berhasil sampai tepat di depan rumah gadis itu, ia tersenyum menatap ke arah pintu rumah wanita tercintanya. Dengan perasaan senang Rafael mengambil bonekanya lalu turun dari mobil, ia bergerak cepat menuju ke depan pintu karena sudah tidak sabar bertemu Vanya.
Rafael sampai harus membenarkan rambutnya sekilas sebelum ia mengetuk pintu, tentu ia tak mau berpenampilan buruk di hadapan gadisnya nanti. Ia takut kalau Vanya malah tidak suka padanya, oleh karena itu Rafael selalu membawa sisir kemanapun ia pergi untuk merapihkan rambutnya.
TOK TOK TOK...
Rafael mengetuk pintu sembari mengambil nafas singkat serta menyembunyikan bonekanya di balik punggungnya, ia hendak membuat kejutan pada gadisnya itu dan berharap kalau Vanya akan suka dengan pemberiannya.
Ceklek...
__ADS_1
Pintu langsung terbuka memperlihatkan seorang gadis cantik dengan rambut panjang sedada kini berdiri disana menatap ke arahnya, gadis itu melempar senyum manis begitu mengetahui yang datang adalah lelaki yang ditunggu-tunggu.
"Hai, gadis cantik!" sapa Rafael mencolek gemas pipi Vanya sembari tersenyum.
"Kamu dateng kesini kok gak bilang-bilang sih?" tanya Vanya masih tak menyangka Rafael akan datang ke rumahnya hari ini.
"Iya dong, aku kan mau kasih kejutan buat kamu!" jawab Rafael tersenyum lebar.
"Hahaha ya ampun, tapi kamu udah selesai kan ngerjain tugas dari Devano? Jangan sampe kamu tinggalin tugas kamu itu demi temuin aku, nanti kalo kamu dimarahin Devano kan gawat!" ucap Vanya.
"Tenang aja, semuanya udah beres! Sekarang aku tinggal berduaan sama kamu aja disini, oh ya ngomong-ngomong aku ada sesuatu loh buat kamu!" ucap Rafael senyum-senyum sendiri.
"Wah apa tuh?" tanya Vanya penasaran.
Rafael mengeluarkan boneka yang ia bawa di tangan satunya, lalu menunjukkan itu pada Vanya.
"Taraaa! Ini buat kamu!" ujar Rafael.
"Hah? Boneka? Aduh Raf, kamu romantis banget sih! Pake segala beliin aku boneka yang ada coklatnya kayak gini, mana bonekanya cantik banget lagi! Aku suka deh, makasih ya Raf!" ucap Vanya menampani boneka dari tangan Rafael lalu memeluknya.
Rafael pun tampak tersenyum bahagia melihat gadisnya senang dengan hadiah yang diberikan olehnya, ia mengusap pucuk kepala Vanya membuat gadis itu merasa bahagia.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1