Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Yoga kebingungan


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 186


...•...


...•...


Rafael & Vanya sampai di mall, mereka langsung menuju supermarket yang ada di lantai dasar mall tersebut.


"Vanya, selama ini kamu sering belanja disini?" tanya Rafael basa-basi membuka obrolan saat turun ke lantai bawah menggunakan eskalator.


"Ya gak sering sih, cuma satu bulan sekali buat belanja bulanan! Itu juga dulu waktu kak Kevin masih ada, sekarang ya paling aku belanjanya lebih jarang kan aku tinggal sendiri!" jawab Vanya tersenyum membenarkan tas tenteng nya.


Rafael membalas senyuman Vanya, lalu reflek menggandeng tangan gadis itu saat hendak turun dari eskalator... Vanya pun menatap wajah Rafael karena tangannya mendadak digenggam, ia jadi deg-degan apalagi Rafael masih belum melepas genggamannya.


"Kamu kenapa sih, kok lihatin aku begitu? Ada yang salah ya sama penampilan aku?" tanya Rafael merasa heran ditatap terus oleh Vanya.


Gadis itu malah terkekeh mendengar pertanyaan Rafael yang masih tak menyadari kalau dirinya menggenggam tangan Vanya.


"Lah malah ketawa, ada apa sih?" tanya Rafael makin terheran-heran karena gadis disampingnya malah tertawa.


"Ini apa maksudnya Rafael?" ujar Vanya mengangkat tangannya yang digenggam oleh pria itu sambil masih terkekeh-kekeh.


Sontak Rafael pun melepas genggamannya dan reflek menggaruk-garuk tengkuknya karena malu, apalagi saat ini Vanya makin heboh menertawakan dirinya.


"Maaf maaf, aku gak bermaksud lancang! Tadi tuh aku gak sadar, maaf ya Vanya!" ucap Rafael menundukkan kepalanya.


"Gapapa kali santai aja, udah yuk masuk! Mumpung supermarket nya masih sepi tuh belum banyak yang beli..." ucap Vanya kemudian jalan lebih dulu ke dalam supermarket itu meninggalkan Rafael.


Rafael masih terpaku disana mengacak-acak rambutnya sendiri karena telah dipermalukan oleh seorang gadis, namun akhirnya ia tetap berjalan menyusul Vanya ke dalam supermarket tersebut dan berusaha melupakan kejadian yang baru saja terjadi.


Di dalam sana, tentu saja Rafael bertugas sebagai pendorong troli belanja mengikuti kemanapun Vanya pergi memilih barang yang ingin dibeli olehnya.

__ADS_1


"Fael, menurut kamu bagus yang mana merk ini atau merk yang ini...??" tanya Vanya meminta pendapat dari Rafael untuk minyak goreng yang hendak dibelinya.


"Eee kalo mama ku sih sukanya beli yang ini, tapi aku gak tau alasannya apa!" jawab Rafael menunjuk salah satu merk minyak goreng yang dipegang di tangan kanan Vanya.


"Oh ya? Yaudah deh aku beli yang ini aja samain sama mama kamu, biasanya kan kalo ibu-ibu itu milihnya gak asal-asalan!" ucap Vanya tersenyum kemudian memasukkan minyak goreng di tangan kanannya ke troli, sedangkan yang satunya ia taruh kembali.


Mereka pun lanjut berjalan ke tempat lain untuk membeli barang lainnya, namun tiba-tiba ponsel milik Rafael berdering menandakan ada telpon masuk.


"Eee cantik, aku angkat telpon dulu ya!" ucap Rafael meminta izin pada Vanya, setelah mendapat anggukan dari gadis itu Rafael pun merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.


Ia melihat nama Devano terpampang di layar handphonenya, tentu saja ia langsung mengangkat telepon tersebut.


📞"Halo pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rafael sebagai pembuka telepon.


📞"Iya benar Fael, saya mau minta tolong sama kamu untuk jemput istri saya di rumah ya! Dia mau pergi ke rumah sakit, kamu bisa kan?" ujar Devano menjelaskan maksudnya.


📞"Eee bisa kok pak, tapi nanti setelah saya antar Vanya belanja...." ucap Rafael.


📞"Hah? Memang kamu lagi sama Vanya sekarang?" tanya Devano terkejut.


📞"Eee iya pak, kebetulan Vanya meminta saya mengantar dia ke mall untuk belanja! Bu Shella gak berangkat sekarang kan pak?" ucap Rafael.


📞"Ohh, yasudah kamu temani saja Vanya ya! Biar nanti saya minta anak buah saya yang lain untuk menjemput istri saya dan mengantarkannya menuju rumah sakit, itu saja Fael terimakasih!" ucap Devano kemudian langsung menutup teleponnya.


"Loh? Vanya kemana?" ujar Rafael terheran-heran kemudian berjalan mencari keberadaan Vanya.




Sementara itu, setelah tau Rafael sedang mengantar Vanya belanja.... Devano pun memilih menghubungi anak buahnya yang lain untuk mengantar istrinya.


📞"Halo Aris, kamu lagi sibuk gak?" tanya Devano saat menghubungi anak buahnya.


📞"Eee kebetulan enggak pak, ada apa ya?" ucap Aris.


📞"Begini, saya mau minta tolong sama kamu tolong antar kan istri saya ke rumah sakit sekitar satu jam dari sekarang! Kira-kira kamu bisa gak Aris??" ujar Devano.


📞"Ohh, insyaallah bisa pak bisa! Saya akan jemput Bu Shella satu jam dari sekarang!" ucap Aris terdengar bersemangat.

__ADS_1


📞"Alhamdulillah, terimakasih ya Aris! Yasudah saya matikan dulu telponnya...." ucap Devano.


📞"Baik pak!" ucap Aris.


Setelah telepon terputus, Devano memikirkan kembali Rafael yang sedang bersama Vanya di supermarket.


"Kenapa Vanya minta tolong sama Rafael ya buat temenin dia belanja? Apa Vanya punya rasa sama Rafael? Duh kok saya malah jadi mikirin itu sih? Gak penting banget!" gumam Devano geram sendiri lalu memukul-mukul kepalanya sendiri.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering dan terpampang nama Novi alias sekretaris nya di layar ponsel itu.


📞"Halo Nov, kenapa?" tanya Devano.


📞"Begini pak, orang yang hendak menggelontorkan dana melimpah ke perusahaan kita telah sampai!" ucap Novi.


📞"Ohh iya iya Nov, saya sedang dalam perjalanan ini menuju kesana! Tolong minta beliau tunggu sebentar ya kebetulan jalannya lengang gak macet!" ucap Devano tersenyum.


📞"Iya baik pak," ucap Novi.


Devano pun mematikan teleponnya lalu menaruh kembali ponselnya di atas dashboard mobilnya, ia kemudian fokus menatap jalanan dan sedikit menambah kecepatannya.


...•••...


Disisi lain, Yoga tengah duduk di bersantai di balkon kamarnya... ia menatap langit-langit cerah sambil membayangkan wajah Femila seorang wanita yang sangat ia cintai.


Yoga teringat pada perkataan Adrian yang mengatakan kalau Femila masih hidup dan saat ini ada dalam penguasaannya.


"Kalau benar yang dikatakan Adrian, berarti sekarang Femila dalam bahaya! Gue harus bisa bebasin dia dari laki-laki busuk seperti Adrian! Tapi bagaimana caranya? Tempat dia sekarang aja gue gak tau...." gumam Yoga bingung.


Tak lama kemudian, terlintas kembali dalam pikirannya ketika Adrian mengatakan padanya tentang syarat agar Femila bisa bebas.


"Adrian bakal bebasin Femila, kalau gue mau jauhin Nadya... rasanya berat banget pilihan ini buat gue! Femila memang gadis yang gue cintai sampai saat ini, tapi Nadya juga mulai mengambil tempat di hati gue!" gumam Yoga.


Tampak Yoga sangat kebingungan harus memilih wanita mana yang akan ia selamatkan dari Adrian, tentu ia tak bisa jika disuruh untuk memilih salah satu dari mereka.


Yoga mengacak-acak rambutnya sambil memukul-mukul jidatnya dengan keras, ia benar-benar tak tau harus berbuat apa saat ini.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1



...🙏 Salam dari Yoga 🙏...


__ADS_2