
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 370
...•...
...•...
"Nadya, kamu katanya mau cerita sesuatu kan ke aku. Makanya kamu ajak aku ketemuan, cerita soal apa sih? Kita kan sekarang udah di jalan nih, jadi cerita aja lah biar gak gabut gitu!" ucap Yoga bertanya pada kekasihnya yang ada di samping.
Nadya pun tersenyum, lalu menunduk karena bingung harus cerita pada Yoga tentang Damar atau tidak.
"Nad? Nadya?" tegur Yoga yang heran saat melihat gadisnya justru terdiam.
"Eh iya, maaf maaf! Aku gak fokus tadi, soalnya aku bingung harus cerita kayak gimana ke kamu. Aku takut banget buat ceritain ini, karena menurutku ini bukan hal yang mudah." ucap Nadya kaget.
"Emang ada apa sih?" tanya Yoga.
Gadis itu kembali terdiam menunduk, ia menyatukan jari-jarinya dan sesekali melirik ke arah Yoga seperti orang yang kebingungan. Nadya khawatir jika ia berterima pada Yoga, maka nantinya Yoga akan memarahi Damar atau bahkan mungkin bertengkar dengan sepupunya itu seperti dengan Adrian.
Melihat gadisnya tampak bingung, Yoga pun tersenyum lalu menggerakkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Nadya sampai pada area wajahnya yang mulus. Yoga ingin membuat Nadya tenang dan tidak lagi bingung atau ragu untuk bercerita kepadanya saat ini.
"Nadya, cerita aja dong! Aku janji gak akan merespon berlebihan setelah dengar cerita kamu!" ucap Yoga.
"Iya, Yog. Sebenarnya aku pengen cerita soal sepupu aku yang baru datang dari kampung, dia tuh tinggal di rumah sama aku dan ibu." ucap Nadya.
"Ohh, sepupu kamu cewek?" tanya Yoga.
"Dia cowok, dan dia baru lulus sekolah. Katanya sih dia ke Jakarta karena pengen cari kerja, tapi aku gak tahu itu benar apa enggak. Karena sampai sekarang dia cuma diam di rumah aja, aku gak lihat tuh dia keluar buat cari kerja." jawab Nadya.
"Oalah, jadi kamu keberatan kalau sepupu kamu itu terus-terusan tinggal di rumah kamu dan gak benar-benar pergi buat cari kerja?" tanya Yoga.
"Hah? Ya enggak juga sih, itu mah gak masalah buat aku. Toh rumah itu juga rumah milik om aku alias papanya dia, tapi masalahnya itu...." jawab Nadya menggantung sembari memalingkan wajahnya.
"Masalahnya apa, Nadya?" tanya Yoga penasaran sekali sambil sedikit mendekat ke arah Nadya.
Nadya berpikir sejenak di dalam hatinya, ia ragu untuk mengungkapkan yang sebenarnya pada Yoga karena khawatir kalau pria itu akan marah kepada Damar. Akhirnya Nadya memilih mengatakan kebohongan saja, tentu agar tak terjadi masalah nantinya antara Yoga dan juga Damar.
"Sepupu aku yang namanya Damar itu, dia suka banget cari gara-gara sama aku. Kan nyebelin banget tau!" jawab Nadya berbohong.
"Ohh, kamu sering diisengin sama dia?" tanya Yoga.
"Iya itu dia! Makanya aku pengen pergi keluar aja terus sama kamu, daripada di rumah diisengin mulu sama dia yang nyebelin itu! Emang sih wajar, dia kan masih terhitung remaja yang baru lulus sekolah, jadi bandel banget. Tapi, kan tetep aja aku gak suka kalau diusilin mulu kayak gitu!" jelas Nadya.
Yoga terkekeh kecil mendengarnya, terlebih ekspresi Nadya memang menunjukkan kalau gadis itu tak suka dijahili oleh sepupunya. Ya itu membuat Yoga sangat gemas dan langsung mencubit pipi gadis cantik tersebut dengan tangannya.
"Duh, kamu gemesin banget sih! Mungkin ini alasan kenapa sepupu kamu itu iseng sama kamu, ya karena kamu emang anaknya gemesin!" ucap Yoga sembari tertawa kecil.
"Haish, kamu ih!" ujar Nadya ngambek.
Yoga pun tertawa puas di dalam mobil itu, namun akhirnya ia berusaha membujuk Nadya karena tak ingin melihat gadis itu ngambek dan cuek padanya.
...•••...
Sementara itu, Shella membawakan gelas berisi kopi ke arah gazebo tempat Devano berada saat ini. Ya pria tersebut tengah berdiam diri disana sembari menikmati hangatnya matahari sore, hari ini memang Devano hanya diam di rumah dan tidak pergi kemanapun, karena ia ingin menjaga istrinya sekaligus menyesali perbuatannya kemarin.
Shella pun meletakkan kopi itu, kemudian memanggil suaminya yang tengah rebahan dengan satu tangan menopang kepalanya dan mata yang terpejam. Namun, dari gerakan kaki Devano membuat Shella tau kalau suaminya itu masih terbangun dan tidak sedang tidur, sehingga ia berani membangunkan pria tersebut.
"Mas, mass..." ucap Shella sembari menepuk kaki suaminya dengan perlahan.
Tentu Devano membuka matanya secara perlahan dan melirik ke asal suara, ia tersenyum lalu bangkit begitu melihat ada istrinya disana. Tanpa basa-basi, Devano langsung mengecup sekilas bibir Shella dan duduk di samping istrinya itu, ia pun juga merangkul Shella ke dalam dekapannya sambil terus mengusap wajah mulus sang istri yang cantik itu.
"Kamu apaan sih, mas?" tanya Shella heran.
"Loh kenapa?" Devano malah bertanya balik.
__ADS_1
"Ya kamu itu, bangun-bangun langsung main cium bibir orang!" ujar Shella cemberut.
"Salahnya dimana? Kan yang aku cium bibir kamu, istri aku sendiri." ucap Devano.
"Ya iya sih, tapi tetep aja jangan begitu!" ujar Shella.
"Kenapa emang? Baby gak suka kalau aku cium bibir ibunya?" tanya Devano.
"Bisa jadi," jawab Shella mengangguk.
"Haish, sekarang kamu jadi sering libatin baby ya tiap kali aku mau ngelakuin apapun? Jangan begitu dong! Aku kan juga suami kamu dan aku berhak cium istri aku yang cantiknya gak ada lawan ini!" ucap Devano sambil mencolek dagu Shella.
Shella pun tersipu sembari menyisipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Kamu tuh kenapa bisa cantik banget begini sih? Bikin aku makin cinta aja jadinya, bisa gak sehari aja kamu gak cantik gitu?" ucap Devano sembari membelai rambut sang istri dengan lembut.
"Dasar tukang gombal!" ujar Shella.
Tak lama kemudian, Devano semakin terhanyut ke dalam suasana romantis itu. Ia pun menarik dagu Shella, lalu perlahan memajukan bibirnya dan mulai mengecup bibir Shella dengan lembut. Satu tangannya ia gunakan untuk mengusap rambut dan wajah istrinya itu, tanpa melepas pagutan tersebut.
"Mbak Shella, ini waffle nya udah ja...."
Tiba-tiba saja, Intan alias pekerja di rumah mereka muncul dari arah samping dan tak sengaja melihat adegan tersebut. Sontak Intan langsung memalingkan wajah sembari menutup matanya, ia merasa belum pantas melihat itu walau umurnya memang sudah di atas 21 tahun.
Sementara Devano melepas pagutannya saat mendengar ada suara yang muncul, ia menoleh ke arah Intan begitupun dengan Shella yang juga penasaran dengan suara tersebut.
"Intan?" ucap Shella pelan.
"Mbak Intan ngapain?" tanya Devano.
"Eee tenang mbak, mas! Sa-saya gak lihat kok yang tadi, ini saya cuma mau antar waffle yang diminta mbak Shella tadi." ucap Intan gugup.
Shella pun tersenyum melihatnya.
"Iya, gapapa. Yaudah, sini dong!" ucap Shella.
"Eee iya, mbak. Ini waffle nya!" ucap Intan sembari meletakkan piring berisi makanan itu disana.
"Makasih ya, Intan!" ucap Shella.
"Iya,"
Intan pun langsung bergegas pergi dari sana meninggalkan sepasang suami-istri itu, ia masih belum bisa menghilangkan ingatan tentang adegan cium bibir yang ia lihat tadi dengan mata kepalanya sendiri dan dalam jarak dekat.
Sementara Devano masih melongok tak mengerti dengan kelakuan Intan barusan, ia pun menoleh ke arah Shella dan coba memahami ada apa sebenarnya dengan asisten rumah tangganya itu. Namun, Shella justru terkekeh sambil menutupi mulutnya dan menepuk bahu Devano.
"Ini apa sih?" tanya Devano terheran-heran.
"Gak ada kok. Aku cuma minta Intan tadi buat bikin ini untuk kamu, mas. Ya kan sekalian nemenin kamu nganggur disini sambil minum kopi, tuh kebetulan aku udah bikinin kopi buat kamu!" jawab Shella.
"Sembarangan kamu! Aku nganggur gini kan juga tetap ngasilin uang, dan aku juga pengen jagain kamu! Makanya aku milih seharian ini buat diem di rumah, karena aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu!" ucap Devano sembari merangkul istrinya.
"Iya mas, aku tau. Yaudah, makan dulu nih! Aku yakin kamu pasti lapar kan?" ucap Shella.
"Iya, suapin dong honey!" ucap Devano manja.
"Haish, manja banget sih kamu! Tapi yaudah deh gapapa, sebagai istri yang baik aku mau suapin kamu." ucap Shella tersenyum.
Ya Shella pun mulai menyuapi suaminya itu dan mereka tampak tersenyum menikmati momen romantis tersebut disana, tanpa ada yang mengganggu karena mereka memang ingin berduaan menikmati waktu kebersamaan itu.
Namun, nampaknya dari tempat yang tak jauh. Ada Silvi serta Tama yang memata-matai Devano dan juga Shella sambil senyum-senyum sendiri, mereka berdua tampak senang melihat keharmonisan Shella dan Devano yang tampak makin mesra itu.
"Pah, mereka makin lengket aja ya? Mama jadi inget waktu dulu kita masih muda," ucap Silvi.
"Iya bener, mah. Dulu mama juga masih suka suapin papa kayak gitu, sekarang mah boro-boro! Yang ada diomelin mulu!" ujar Tama.
"Ih papa ini!"
...•••...
Ceklek...
__ADS_1
"Eh, pak Rafael." ucap Novi yang membuka pintu, setelah daritadi ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya dari luar. Dan ternyata yang datang itu adalah Rafael, alias asisten Devano.
Tampak Rafael langsung tersenyum begitu melihat Novi muncul di hadapannya, ia sangat terpukau melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Novi. Terlebih saat ini sang sekretaris cantik itu memakai baju ketat serta rok selutut, yang tentunya menambah ketertarikan Rafael pada gadis tersebut.
"Iya, selamat siang!" ucap Rafael tersenyum coba menyapa Novi.
"Eee siang juga, pak! Ada apa, ya?" tanya Novi.
"Gak ada apa-apa sih. Saya cuma mau main aja ke rumah kamu, sekalian silaturahmi dan jenguk ibu kamu yang katanya lagi sakit. Oh ya, ini ada bunga buat kamu dan bingkisan kecil untuk ibu kamu!" jawab Rafael sembari memberikan buket bunga serta sebuah parcel pada Novi.
"Duh, bapak pake repot-repot segala! Harusnya gak perlu bawain beginian segala, saya kan jadi gak enak sama bapak." ucap Novi.
"Gak perlu bilang gitu! Saya kasih ini ikhlas kok! Oh ya, jangan panggil bapak dong! Saya jadi berasa tua, panggil aja Rafael atau mas gitu!" ucap Rafael.
"Eee iya iya, mas Rafael." ucap Novi.
"Nah gitu kan lebih enak di denger," ujar Rafael.
"Eee yaudah, masuk dulu pak, eh mas!" ucap Novi melebarkan pintu rumahnya.
"Iya," ucap Rafael sambil tersenyum tipis.
Rafael pun melangkahkan kaki ke dalam rumah tersebut, lalu disusul juga oleh Novi dari belakang sembari menutup kembali pintu itu. Novi langsung membawa Rafael menuju kamar ibunya, karena alasan Rafael kesana katanya ingin menjenguk ibunya yang tengah sakit.
Ceklek... kreeekkk...
Novi membuka pintu, lalu melangkah masuk ke dalam kamar ibunya bersama Rafael. Mereka berjalan pelan, karena sang ibu dari Novi itu masih tertidur dan mereka tak ingin membuatnya terbangun begitu saja.
"Pak, eh maksudnya mas! Ini ibu aku, sekarang ibu lagi tidur karena abis minum obat." ucap Novi.
"Iya Nov, gimana kondisi ibu kamu sekarang?" tanya Rafael sembari menatap Novi.
"Udah baikan kok, Alhamdulillah!" jawab Novi.
"Syukur deh! Semoga ibu kamu bisa secepatnya sembuh ya, supaya kamu gak sedih-sedih lagi!" ucap Rafael mendoakan kesembuhan ibu Novi sembari mengusap puncak kepala Novi.
"Iya, aamiin!" ucap Novi.
"Yaudah, kita keluar aja lagi deh! Aku gak mau ganggu ibu kamu yang lagi tidur, kita lanjut ngobrol di depan aja ya?" ujar Rafael.
"Iya, ayo mas!" ucap Novi.
Novi pun mengajak Rafael keluar dari kamar ibunya, lalu kembali menuju ruang tamu.
Novi mempersilahkan Rafael untuk duduk di sofa, mereka pun duduk berdampingan disana dan Novi meletakkan parcel serta bunga itu di atas meja.
"Mas, mau minum apa?" tanya Novi.
"Apa aja, asal dibikinin sama kamu pasti rasanya enak!" jawab Rafael.
"Eee yaudah, saya bikin dulu ya, pak?" ujar Novi.
"Iya cantik!"
Novi sedikit gugup saat Rafael menyebutnya dengan tambahan kata cantik, sedangkan Rafael tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada sofa sembari merentangkan tangan di atasnya.
Novi melangkah pergi menuju untuk membuatkan minum, ia sesekali menoleh ke arah ruang tamu menyaksikan Rafael yang sedang duduk disana. Entah mengapa rasanya gugup dan takut saat ia berduaan dengan lelaki seperti tadi, karena ia ingat betul perlakuan Devano padanya kemarin.
"Rasanya aku jadi terus berprasangka buruk sama setiap laki-laki yang deketin aku, apa mungkin ini karena kelakuan pak Vano kemarin?" gumamnya sembari memegangi bibirnya.
Novi pun membuat minum sambil terbayang kembali pada adegan kemarin, saat ia dipaksa memuaskan bosnya sendiri menggunakan mulutnya itu. Sekarang ini mulutnya mungkin sudah tidak suci lagi, ya karena dipaksa untuk memuaskan Devano kemarin di dalam ruang kerjanya sendiri.
Setelah selesai membuat minum, Novi kembali melangkah ke depan ruang tamu membawakan minuman tersebut untuk diberikan pada Rafael.
"Mas, ini minumnya!" ucap Novi sembari menaruh gelas berisi minuman itu di atas meja.
"Ah iya, makasih!" ucap Rafael tersenyum lalu memajukan tubuhnya dan mengambil gelas dari atas meja itu untuk diminum.
Novi pun juga kembali duduk disana menemani Rafael berbincang-bincang sembari tersenyum.
"Mungkin aku harus coba dekat dengan pak Rafael, supaya pak Devano enggak coba-coba lagi buat ganggu dan dekati aku! Karena aku gak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga orang!" gumam Novi dalam hati.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...