Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Siapa yang menelpon?


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 356


...β€’...


...β€’...


Devano kini berada di dalam mobilnya dan tengah menuju ke kantor seorang diri, namun pikirannya saat ini masih tertuju pada sosok Shella sang istri yang cantik nan seksi itu. Devano masih berpikir, apakah mungkin jika ia memang bisa mencintai Shella dalam beberapa hari ke depan sebelum putranya lahir nanti? Tentu Devano tidak ingin jika ia menganggap Shella hanya sebagai pemuasnya, apalagi jika telah lahir sang buah hati.


Sangking sibuknya memikirkan itu, Devano sampai tidak sadar jika ia telah melewati kantornya. Ya Devano terlalu pusing melamun memikirkan tentang Shella istrinya, untunglah Devano sadar saat ia hendak melewati jalan layang yang berada tentunya setelah perusahaannya.


"Loh? Ini kok saya kesini sih? Waduh, jangan-jangan saya kelewatan lagi!" ujarnya.


Devano pun meminggirkan mobilnya sebelum mencari jalan untuk memutar balik, kebetulan disana merupakan jalan besar dan tidak ada tempat putar balik di dekat sana. Devano akhirnya coba melaju kembali ke depan sedikit demi mencari tempat untuk putar balik, ia merasa kesal lantaran harus kesusahan seperti ini akibat melamun.


"Aaarrgghh! Gara-gara mikirin Shella saya jadi kelimpungan begini! Haish, lagian kenapa sih saya harus peduli soal itu? Toh selama ini saya juga aman-aman aja menjalin hubungan tanpa cinta, Shella kan emang cantik dan seksi!" ucapnya.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering dan tampak nama Novi alias sekretarisnya terpampang di layar bagian depan.


"Novi?" gumam Devano sambil tersenyum.


Tanpa basa-basi, Devano mengambil earphone miliknya dari dashboard mobilnya lalu memasang pada telinganya. Devano tampak lebih ceria begitu mengetahui jika yang menelponnya adalah Novi, walau ia tau pasti Novi hanya ingin menanyakan keberadaannya saat ini.


πŸ“ž"Halo sayang!" ucap Devano keceplosan saat mengangkat telepon dari Novi, ia pun reflek menutup mulutnya sambil terus melajukan mobilnya.


πŸ“ž"Eee halo, pak! Saya Novi, bukan istri bapak." ucap Novi dengan gugup.


πŸ“ž"Ah iya iya, maaf! Saya tadi salah sebut, maklumlah saya lagi nyetir dan gak sempat lihat siapa yang nelpon. Oh ya, ada apa Nov?" ucap Devano.


πŸ“ž"Iya pak, gapapa. Begini, saya cuma mau kasih info aja kalau pak Ramadi sudah sampai bersama para koleganya. Bapak sekarang lagi dimana, ya? Apa sudah dekat dengan kantor?" ucap Novi.


πŸ“ž"Ohh, iya iya saya udah deket kok. Ini bentar lagi sampai, kamu ajak aja mereka ke ruang meeting dulu dan temani mereka!" ucap Devano.


πŸ“ž"Baik, pak! Kalau begitu saya akan bawa mereka ke ruang meeting, lalu meminta ob untuk membuatkan minum. Yasudah ya pak, saya tutup dulu telponnya?" ucap Novi.


πŸ“ž"Eh jangan dulu! Saya mau tanya satu hal sama kamu, gak ada hubungannya sih sama kerjaan!" ucap Devano menahan Novi.


πŸ“ž"Eee tanya apa ya, pak?" Novi penasaran.


πŸ“ž"Hubungan kamu sama Rafael itu bagaimana sih? Apa kalian sudah pacaran atau baru sekedar pdkt?" tanya Devano kepada sekretarisnya, sepertinya Devano penasaran dengan hubungan Novi dan asisten pribadinya yakni Rafael.


πŸ“ž"Eee sa-saya...." Novi bingung harus menjawab apa pada bosnya itu.


πŸ“ž"Iya, kamu kenapa? Udah jawab aja yang jujur kalau sama saya mah, gausah takut! Saya juga gak masalah kalau misal kamu emang ada hubungan sama Rafael, kan saya cuma mau tau aja!" ucap Devano meyakinkan Novi.


πŸ“ž"I-i-iya, pak. Tapi, antara saya dan pak Rafael itu hanya sebatas rekan kerja gak lebih." jawab Novi.


πŸ“ž"Oh begitu, ya syukurlah! Berarti kamu sekarang masih single kan? Itu lebih bagus, jadi kamu bisa fokus aja sama kerjaan kamu!" ucap Devano.


πŸ“ž"Eee iya, pak." ucap Novi.


πŸ“ž"Yaudah Nov, kita udahan dulu ya? Ini saya udah mau sampai kok." ucap Devano.


πŸ“ž"Oke, pak!" ucap Novi.


Tuuutttt...


Telepon pun terputus setelah mereka selesai berbicara, Devano tampak senyum-senyum sembari melepas earphone dari telinganya.


"Hahaha, jadi ternyata Novi dan Rafael itu gak ada hubungan apa-apa? Bagus deh, saya kira mereka udah pacaran eh ternyata semua itu salah!" gumam Devano sambil tersenyum.


...β€’β€’β€’...

__ADS_1


Sementara itu, Shella kembali ke kamarnya setelah suaminya berangkat kerja dan ia juga tidak diperbolehkan untuk membantu Silvi serta Intan membereskan bekas sarapan mereka.


Shella pun duduk di ranjangnya lalu mengambil ponselnya yang tergeletak disana, Shella syok saat melihat banyak mis call dari nomor yang tak dikenal ke nomor telponnya itu.


"Ini nomor siapa ya?" gumam Shella bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Ada sekitar puluhan mis call dari nomor tersebut, tentunya membuat Shella penasaran dan ingin mencari tau siapakah yang menghubunginya itu.


Akhirnya Shella memutuskan untuk menelpon ke nomor tersebut karena penasaran. Akan tetapi, justru telponnya direject oleh si pemilik nomor misterius itu. Tentu Shella semakin penasaran karena belum tau siapa yang menghubunginya itu, Shella pun bingung harus bagaimana saat ini.


"Ish, siapa sih sebenarnya dia? Kenapa giliran aku telpon balik malah direject? Nyebelin banget, bikin penasaran aja!" gumam Shella ngedumel sendiri.


Tak beberapa lama kemudian, nomor tak dikenal itu kembali menelpon ke nomornya.


"Nah ini dia telpon lagi! Aku langsung angkat aja deh, penasaran banget sama nomor gak jelas ini daritadi nelponin mulu!" gumamnya.


πŸ“ž"Halo, ini siapa sih?" ucap Shella bertanya kepada pemilik nomor tak dikenal itu karena penasaran.


πŸ“ž"...." tak ada jawaban dari telpon tersebut, yang terdengar hanyalah suara hembusan angin pelan serta beberapa kendaraan yang lewat. Tentunya hal ini membuat Shella bergidik dan penasaran, ia tak mengerti apa mau si penelpon itu?


πŸ“ž"Hey, jangan permainkan saya ya! Asal kamu tau, suami saya ituβ€”"


πŸ“ž"Saya sudah tau siapa suami kamu! Untuk itulah saya menghubungi kamu, agar kamu bisa menjadi senjata andalan saya untuk menghancurkan usaha suami kamu itu!" potong seseorang di telpon itu.


Shella pun menganga terkejut, ia makin dibuat penasaran siapa sebenarnya orang itu.


πŸ“ž"Hey! Kamu ini siapa, ha? Kenapa kamu pengen menghancurkan suami saya? Ada masalah apa antara kamu dengan suami saya?" tanya Shella.


πŸ“ž"Hahaha... kamu akan tau sebentar lagi, tunggu saja saatnya kita bertemu nanti!" ucap orang itu dengan suara tawa mengerikan.


πŸ“ž"Kamu jangan macam-macam, ya! Saya bisa laporkan kamu ke polisi, kalau kamu berani macam-macam!" ancam Shella.


Tuuutttt...


πŸ“ž"Hey! Hey, tunggu!" teriak Shella.


Namun, semua sudah terlambat karena panggilan itu sudah terputus. Shella pun hanya bisa mengumpat kesal kepada penelpon tersebut, ia masih penasaran siapa sebenarnya orang itu.


Ceklek...


Pintu kamarnya terbuka dari luar, rupanya itu Silvi yang penasaran mengapa Shella berteriak-teriak tadi ketika menerima telpon.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Silvi langsung menghampiri Shella dan memegang kedua lengan serta wajah menantunya itu.


"Aku cerita enggak ya sama mama?" batin Shella.


...β€’β€’β€’...


Devano sampai di kantornya setelah harus berputar karena kebablasan ketika tengah melamun tadi, ia pun segera turun dari mobilnya lalu berjalan pergi menuju kantornya dengan cepat. Devano khawatir jika kliennya kali ini menunggu terlalu lama, biar bagaimanapun ia tak mau jika harus kehilangan keuntungan walau sedikit apapun itu.


Kedatangan Devano di kantornya langsung disambut oleh Serena serta beberapa karyawannya yang ada disana, namun Devano hanya membalas dengan senyum tipis karena ia sedang terburu-buru.


"Pak Vano sombong ya sekarang!"


"Hus! Itu pak Vano lagi buru-buru, ada meeting!"


Samar-samar terdengar suara itu di telinganya, membuat Devano tersenyum tipis namun tak mempermasalahkan itu. Sekarang ia fokus menaiki lift khusus untuknya serta para tamu yang tentunya sepi, sehingga ia bisa lebih cepat sampai ke ruang meeting menyusul yang lainnya.


Tiingg...


Lift terbuka dan kini Devano telah sampai alias menginjakkan kaki di lantai tiga belas tempat ia akan melakukan meeting bersama para kliennya, ia langsung bertemu dengan Novi sekretarisnya yang sudah menunggu disana.


"Selamat datang, pak! Mari, yang lain sudah menunggu di dalam!" ucap Novi menyambut bosnya sambil tersenyum.


"Iya, terimakasih! Ayo, kita masuk ke dalam bareng-bareng!" ucap Devano.


Novi mengangguk tanda iya, entah mengapa ia merasa sikap bosnya kepadanya itu mendadak berubah sejak kemarin. Sedangkan Devano juga merasa kalau senyum sekretarisnya itu membuat ia sulit untuk fokus pada meeting hari ini.


Mereka pun bersamaan masuk ke dalam ruang meeting itu, ya walau Novi agak menjaga jarak dan lebih di belakang Devano karena ia merasa tak pantas jika jalan sejajar dengan bosnya itu apalagi di hadapan para kliennya.

__ADS_1


"Selamat pagi, semua!" ucap Devano menyapa seluruh kolega yang hadir di ruangan itu.


"Pagi, pak Devano!" ucap mereka bersamaan lalu berdiri dan bersalaman dengan Devano.


"Ya, silahkan duduk kembali!" ucap Devano sembari duduk di kursinya.


Sementara Novi juga duduk di kursi samping Devano dan terlihat menyiapkan beberapa berkas yang ia bawa untuk materi meeting kali ini.


❀️


Singkat cerita, Devano telah menyelesaikan meeting nya di pagi hari ini dan semua berjalan lancar sesuai dengan yang Devano telah duga sebelumnya. Perusahaan miliknya pun mulai bekerjasama dengan perusahaan milik pak Ramadi, atau yang biasa disebut PT. Rama dan jaya.


Setelah semua kliennya itu pergi, Devano hanya tinggal berdua dengan Novi yang masih membereskan semua barang-barang bekas meeting tadi disana. Devano terus saja memperhatikan Novi dan tanpa sadar mulai tersenyum, rupanya Devano tertarik pada kecantikan sekretarisnya itu.


"Kalau dilihat-lihat, Novi memang tidak kalah jika dibandingkan dengan Shella. Hanya saja, Shella memang lebih seksi dibanding Novi ini! Buktinya begitu melihat dia, saya sampai langsung ingin memperkosanya waktu itu! Ya itu dia tindakan yang saya sesali hingga saat ini, saya jadi terjebak dalam pernikahan tanpa cinta karena tindakan bodoh saya itu!" gumam Devano di dalam hatinya.


Novi merasa kalau Devano tengah memperhatikannya, ia pun coba untuk mempercepat beres-beresnya karena merasa canggung terus-menerus ditatap seperti itu oleh bosnya.


"Eee pak, ini sudah selesai. Saya mohon izinβ€”"


"Bareng aja sama saya! Kebetulan saya juga mau ke bawah cari minum, yuk!" potong Devano lalu berdiri dan diluar dugaan menggandeng tangan Novi.


"Pak, saya bisa jalan sendiri kok. Gak enak juga kalau dilihat karyawan lain, nanti mereka ngira kita ada apa-apa lagi! Saya gak mau pak, bikin istri bapak cemburu lagi!" ucap Novi gemetar.


"Tenang aja! Gak akan ada yang cemburu kok, yuk kita sama-sama ke bawah!" ucap Devano.


"Ta-tapi pakβ€”"


"Udah nurut aja!" potong Devano lagi dan lagi.


Novi pun pasrah saat Devano menarik tangannya menuju lift dan berjalan dengan cepat.


...β€’β€’β€’...


Disisi lain, Nadya menemui ibunya yang tengah sibuk mengutak-atik ponselnya di sofa ruang tamu. Nadya sudah tampak cantik dan wangi setelah mandi karena ingin bertemu kembali dengan Yoga selaku kekasihnya saat ini.


"Bu..." ucap Nadya pelan memanggil ibunya.


"Eh, iya sayang. Kenapa, nak?" ucap Jenar terkejut dan langsung menaruh ponselnya lalu menatap ke arah Nadya.


"Eee..." Nadya tampak gugup lalu duduk di samping ibunya dan celingak-celinguk seperti tengah mencari seseorang disana.


"Kenapa sayang? Kamu cari siapa?" tanya Jenar.


"Eee enggak kok, Bu. Ini aku cuma mau minta izin sama ibu, aku ada janji sama Yoga buat ketemuan. Boleh apa enggak, Bu?" ucap Nadya menjelaskan pada ibunya alasan ia menemui sang ibu.


"Oalah, kamu mau pergi? Yaudah, boleh kok. Tapi, nak Yoga datang kesini kan jemput kamu?" tanya Jenar.


"Eee iya sih, Bu." jawab Nadya.


"Nah, baru bagus. Ibu gak akan izinin kalau kamu pergi sendiri tanpa dijemput nak Yoga, yaudah kapan dia datangnya kesini?" ucap Jenar.


"Sebentar lagi sih, Bu. Mungkin sekitar lima menit lagi, soalnya aku janjian jam sepuluh tepat." jawab Nadya sambil mengecek jam tangannya.


"Oke, kamu sembari nunggu disini aja duduk sama ibu. Temenin ibu baca gosip di hp, kamu pasti suka juga kan sama berita artis? Ya harus dong, ibunya aja suka masa anaknya gak suka?" ucap Jenar.


"Ahaha, ibu ini. Aku sebenarnya gak suka sih, gosip gitu kan gak penting! Tapi, kalau ibu mau ajak aku ngobrol soal itu ya gapapa." ucap Nadya.


Tak lama kemudian, Damar justru muncul keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati Jenar serta Nadya yang ada di ruang tamu itu. Damar tersenyum menatap wajah Nadya lalu duduk disana bersama dengan Jenar dan juga Nadya.


"Ini kamu mau kemana, Sheila?" tanya Damar.


"Eee aku ada janji sama teman cowokku, sebentar lagi dia bakal datang kok dan kamu juga bisa kenalan sama dia." jawab Nadya tersenyum.


"Waw!" ucap Damar singkat.


"Iya, nak Damar. Sheila emang baru punya pacar, makanya sekarang jadi lebih sering ketemu dan jalan sama pacarnya itu." ucap Jenar tersenyum sembari mengusap punggung putrinya itu.


Nadya memanfaatkan ini untuk membuat Damar sadar dan merasa kalau ia memang sudah memiliki kekasih.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2