Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Siapa yang datang?


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 276


...•...


...•...


Shella masih berada di rumah ibunya tengah menikmati secangkir teh hangat buatan bik Yani tadi, ia juga disuguhkan camilan yang lumayan banyak terdiri dari kue-kue kering tradisional yang dibuat langsung sendiri oleh bik Yani khusus untuk dua majikannya tersebut.


Shella pun tampak ceria sembari menikmati kue buatan bik Yani yang dipandu atau ditemani dengan teh hangat itu, baginya ini saja sudah cukup untuk menyenangkan diri serta menenangkan hati yang panas dan terbakar akibat perbuatan suaminya ketika di rumah sakit tadi yang terang-terangan bilang kalau dia menyukai sekretarisnya.


Jenar merasa curiga melihat sikap Shella yang berada dari biasanya, ya wanita itu memang nampak tengah menahan emosi atau amarah di dalam tubuhnya sampai melahap kue-kue disana dengan rakus dan cukup agresif.


"Shella, kamu itu kenapa sih sebenarnya? Ibu lihat daritadi kamu kayak orang lagi kesel, ada apa sayang?" tanya Jenar.


"Eee.... gak ada kok ibu, lagian siapa juga yang kesel coba? Aku biasa aja tau, itu cuma perasaan ibu aja kali!" ucap Shella mengelak.


"Udah deh, kamu gausah bohong terus sama ibu! Mungkin kamu bisa bohongin orang lain, tapi ibu tahu gimana kamu kalo lagi sedih atau ada masalah! Nah sekarang ini nih pasti kamu punya masalah, ayo cepet cerita sama ibu..!!" ujar Jenar.


"Cerita apa sih, Bu? Dibilang aku gak ada masalah juga, ibu gak percayaan amat sih sama anak sendiri!" ucap Shella masih saja mengelak.


"Haduh, sayang! Kamu itu keras kepala banget sih! Disuruh cerita sama ibu biar ibu bisa bantu ringanin masalah kamu, eh kamunya malah tetep aja gak mau cerita juga sama ibu..." ujar Jenar geleng-geleng.


"Ya karena emang gak ada apa-apa, ibu!" ucap Shella.


TOK TOK TOK...

__ADS_1


Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan perdebatan antara ibu dan anak itu, ya mereka kompak menoleh ke arah pintu karena penasaran siapa kira-kira yang datang kesana.


"Pasti itu nak Vano, dia udah dateng buat jemput kamu pulang!" ucap Jenar tersenyum.


"Hah? Masa sih Bu??" ujar Shella kaget.


Ya Jenar mengira kalau yang datang adalah Devano alias suami putrinya itu, namun Shella merasa sedikit tidak yakin dan juga merasa kesal kalau memang benar yang datang itu adalah Devano suaminya.


"Duh, kalo itu mas Vano aku harus gimana ya? Sekarang kan aku lagi kecewa banget sama dia!" batin Shella sembari mengunyah makanan.


Shella sungguh bingung harus menemui Devano atau tidak saat ini, jujur ia masih ingin menyendiri menjauh dari suaminya tanpa diganggu karena suasana hatinya belum dingin untuk saat ini apalagi suaminya itu dengan santainya berbicara seperti tadi pada sekretarisnya yang mana Shella juga sudah pernah menaruh curiga pada mereka.


"Sayang, bukain gih pintunya! Suruh suami kamu masuk dulu, kita minum teh bareng-bareng!" ucap Jenar meminta putrinya membukakan pintu.


"Duh, ibu aja ya? Aku lagi nanggung nih makan kuenya belum habis!" ujar Shella sambil nyengir.


"Halah alasan! Kamu pasti bener kan ada masalah sama suami kamu? Buktinya disuruh bukain pintu gak mau, padahal biasanya paling semangat kalau suaminya dateng...." ujar Jenar menyindir.


"Kan belum pasti yang dateng itu mas Vano, Bu! Bisa aja itu tamu ibu atau bik Yani, nanti kalo aku bukain malah salah orang!" ujar Shella tersenyum.


Jenar langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu depan untuk mengecek siapa yang datang sekaligus membukakan pintu, sedangkan Shella tetap di sofa menikmati kue kering buatan bik Yani yang super duper enak.


Ceklek...


"Nak Vano, udah dat—"


Jenar terkejut saat melihat dan menyadari bahwa yang berdiri di depan pintu bukanlah Devano, ya ia sampai menganga tipis karena syok.


"Ka-kamu...."


...•••...


Disisi lain, Devano memilih berhenti sejenak secara tiba-tiba ke sisi pinggir jalan untuk mengelabui motor di belakangnya yang diduga mengikuti mobil miliknya sejak mereka keluar dari kantor beberapa menit lalu.

__ADS_1


Ya sesuai dugaan motor itu ikut mengerem secara mendadak dan berhenti tak jauh dari mobilnya, sontak saja Devano hendak turun dari mobil menghampiri pria itu untuk menanyakan apa maksud dan tujuan dia mengikuti mobilnya sedari tadi.


Akan tetapi, tiba-tiba Novi malah mencegahnya dengan mencengkeram lengan kiri bosnya itu berharap supaya Devano tidak turun dari mobil karena ia khawatir akan terjadi sesuatu pada bosnya nanti bila turun dan menghampiri pemotor tersebut.


"Pak, mau kemana?" tanya Novi cemas sembari menatap wajah bosnya dari samping.


"Saya harus temui dia, saya mau tau ada kepentingan apa dia mengikuti saya!" jawab Devano dengan tegas dan lantang, memberi tatapan tajam ke arah sekretarisnya lalu melepas dengan lembut lengannya dari cengkeraman Novi.


"Tapi pak, itu bahaya!" ujar Novi kembali mencegah bosnya dan lagi-lagi mencengkeram lengannya.


"Gapapa Nov, saya akan baik-baik aja kok!" ucap Devano tetap kekeuh pada keputusannya.


Akhirnya Novi melepaskan cengkeramannya dari lengan Devano dan membiarkan pria itu pergi keluar menemui pemotor yang mengikuti mereka, ya Devano sangat tidak suka pada penguntit seperti itu karena sudah mengganggu ketentraman dirinya.


Tanpa basa-basi lagi, Devano langsung menghampiri pemotor tersebut untuk menanyakan apa maksud dan tujuan pria itu mengikutinya sedari tadi karena ia sudah mengamati gerak-gerik pemotor itu sejak pergi meninggalkan kantor tadi.


"Heh, anda ini siapa ha? Kenapa anda mengikuti mobil saya terus dari tadi, apa anda gak ada kerjaan lain selain membuntuti orang?" tanya Devano geram.


"Apaan sih, pak? Dateng-dateng main ngamuk dan nuduh orang sembarangan aja, mana buktinya kalau saya ngikutin bapak?" ujar orang itu mengelak.


"Udah ketahuan masih aja ngeles, basi tau gak lu! Udah jujur aja apa maksudnya lu ngikutin gue terus daritadi, ha? Gue perhatiin motor lu terus aja ada di belakang mobil gue, dari sejak gue keluar kantor sampe sekarang gue berhenti disini lu juga ikut berhenti...!!" ujar Devano makin emosi.


Seketika pemotor itu terdiam tak menjawab pertanyaan Devano, mungkin dia bingung harus mengatakan apa karena saat ini posisinya terpojok dan tak tahu harus memberi alasan apa lagi untuk bisa meyakinkan Devano.


"Ngapa diem, ha? Gak punya alasan lagi, iya? Udah jujur aja, mau lu apa...??!!" bentak Devano.


Bugghhh...


Tiba-tiba saja seseorang memukul punggungnya dari belakang dan membuat Devano pingsan seketika disana, ia tersungkur di atas aspal dengan posisi tengkurap sambil satu tangannya memegangi punggung yang dipikul tadi.


Rupanya itu adalah teman si pemotor yang datang menolong, ya mereka memang licik dan sudah mengantisipasi ini semua supaya Devano tidak bisa tahu semua rencana mereka.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2