
Pertemuan tak terduga.
Saat mendapatkan penolakan dari vino ia melepaskan ciuman itu dan memilih untuk duduk di sofa dengan wajah yang cemberut.
"Sayang." ucap vino yang melihat ekspresi wajah calista yang berubah seketika.
"Kamu cinta sama aku gak si." tanya calsita.
"Ko kamu nanya begitu si, aku cinta sama kamu." jawab vino sambil berjalan mendekati calista.
"Kamu selalu nolak aku, apa jangan-jangan kamu gak cinta sama aku." ucap calista kesal.
"Aku cinta sama kamu, tapi kalau urusan itu aku gak bisa." ujar vino.
"Kenapa, apa karena orang tua kamu." tanya calista.
"Kita belum mempunyai ikatan sayang, kalau kamu mau kita ketemu sama orang tua kamu, aku lamar kamu sekarang." jawab vino.
"Untuk itu aku gak bisa." ucap caliata.
"Kenapa? apa kurang nya aku." tanya vino.
"Bukan begitu, aku masi ingin berkarir dulu, jika aku nika kesempatan itu tidak ada." jawab calista.
"Sudalah aku tidak ingin pertemuan ini merusak hubungan kita." ucap vino memeluk calista dengan erat dan calista membalas pelukan itu.
Sementara itu citra masi berjalan tanpa tujuan, kaki nya sudah terasa perih dan ia masi belum tau harus kemana, semua sahabat nya menjauh ketika tau kalau citra di usir dari rumah. "Apa aku kembali saja kerumah, tidak ini sudah menjadi keputusan ku." batin citra dan terus berjalan tanpa tujuan.
Jam menunjukan pukul 1 dini hari, citra berhenti duduk di kuris pinggir jalan untuk menghilang kan rasa letih nya, angin malam yang dingin masuk menusuk tulang-tulang nya nya belum lagi nyamuk yang membuat tubuh nya gatal.
"Hey manis." ucap dua orang preman.
Citra menaikkan kepalah nya, dan melihat dua orang preman yang sepertinya mempunyai niat tidak baik.
"Ko sendiri an aja si." ucap preman 1.
Citra tidak menjawa ia lebih memelih untuk pergi meninggalkan dua orang preman itu, tetapi sebelum ia beranjak dari duduk nya tangan nya sudah di pegang preman itu.
"Lepas." teriak citra.
"Mari kita bersenang-senang dulu sayang." ucap preman 2.
__ADS_1
Stiven dan bella yang baru pulang dari luar negeri tak sengaja melewati jalan itu, mereka berdua melihat citra yang tenga ketakutan bersama dua orang preman.
"Mas, seperti nya gadis itu dalam bahaya." ucap bella.
"Terus." ujar stiven.
"Cepat berhenti bantu dia kamu kan laki-laki." ucap bella.
Stiven pun menghentikan mobil nya di pinggir jalan, ia turun dari mobil dengan ciri khas wajah nya dingin dan menakutkan.
"Lepaskan gadis itu." ucap stiven dengan nada yang menekan.
"Tuan, jika anda ingin mencari gadis untuk memuaskan nafsu anda dia tidak cocok untuk anda." ucap preman 1.
Amarah stiven langsung naik ke ubun-ubun saat mendengar ucappan preman itu, ia merasa harga diri nya seperti di injak-injak oleh preman jalanan. Tanpa aba-aba stiven menyerang preman itu dan tentu walapuan terbilang tidak mudah lagi stiven dengan muda menghabisi dua preman itu.
Bella yang melihat itu langsung turun dari mobil dan menghampiri citra yang tenga ketakutan, baju nya sedikit robek akibat ulah preman itu.
"Kamu tidak papa." tanya bella.
Citra yang melihat bella langsung memeluk nya, ia benar-benar takut kalau tidak ada stiven dan bella yang membantu nya mungkin citra sudah menjadi pelampisan preman itu tadi.
Bella membawa citra masuk kedalam mobil nya, ia ingin menenangkan citra terlebih dahulu sebelum menanyakan alamat rumah nya, setelah beberapa menit citra mulai menenangang dan bella pun mulai bertanya.
"Citra." jawab citra.
"Alamat rumah kamu dimana, biar saya antar pulang." ucap bella.
"Hmmm. saya tidak punya rumah." ujar citra.
Bella yang mendengar itu sedikit terkejut, ia menatap stiven sejenak untuk meminta persetujuan stiven dan stiven pun menganggukan kepalah nya pertanda kalau ia setujuh
"Kamu mau ikut dengan saya." tanya bella.
"Tidak tan, saya sudah banyak merepotkan anda, terimakasih telah membantu saya." ujar citra.
"Terus kamu mau kemana, ini sudah larut." tanya bella.
Citra diam seketika dia masi belum memiliki tujuan sama sekali, bella yang menyadari itu langsung memiliki inisiatif agar citra mau ikut bersama nya.
"Kamu mau bekerja di rumah saya." ucap bella.
__ADS_1
"Tente serius." ujar citra.
"Iya serius, kamu bisa bantu-bantu saya." ucap bella.
"Mau tan, terimakasih." ujar citra dan kembali memeluk bella.
Sesampai nya di rumah bella langsung mengantar kan citra kedalam kamar nya, ia sengaja tidak meletekan citra di kamar pelayan, kamar citra tepat berada di samping kamar vira dan vino.
"Terimakasih tan." ucap citra.
"Iya sekarang kamu tidur." ujar bella dan pergi meninggalkan citra.
"Bagaimana sayang." tanya stiven.
"Sudah beres." jawab bella.
"Apa vino ada di dalam kamar nya." tanya stiven.
"Seperti nya belum mas, seperti nya anak mu perlu di beri pelajaran." ucap bella.
"Dia anak mudah sayang, biarkan dia seperti itu sebelum menjadi penerus ku." ujar stiven.
"Tidak aku tidak ingin dia salah jalan, apa andy sudah pulang." ucap bella.
"Tidak tau." jawab stiven.
Dan tak lama vino pulang dengan wajah tanpa bersalah, ia tidak tau jika orang tua nya sudah pulang ke indonesia, dan betepa terkejut nya vino saat melihat bella yang sudah ingin menerkam nya.
"Mommy." ucap vino sambil menggaruk rambutnya.
Walaupun vino terkenal dingin dan kejam di luar sana tetapi dia sangat takut dengan bella, karena kalau bella sudah marah urusan nya akan menjadi sangat panjang.
"Duduk." ucap bella.
"Dad." ujar vino yang ingin meminta bantuan pada stiven.
"Aku kakamar dulu." ucap stiven dan pergi meninggalkan bella dan vino.
Dan sudah dapat di tebak vino hanya bisa diam mendengar kan ceramah dari mommy nya itu, bella pasti akan berbicara panjang lebar dari a-z.
"Sekarang kamu masuk kedalam kamar dan jangan di ulangi lagi." ucap bella.
__ADS_1
"Iya mom." jawab vino.
Segitu dulu ya.