
"Kak kenapa kakak bertengkar dengan nya, kakak tidak pernah bertengkar dengan seseorang." Ucap Nila.
"Aku merasa ada yang aneh dengan nya, aku takut ia anak ayah tapi bukan dari bunda tetapi wanita lain." Kata Nathan.
"Mana mungkin ayah selingkuh dari bunda kak, sudah jika dia memang anak ayah kita harus menerima nya." Ucap Nila.
"Ssssttt sakit sekali, dia memukul ku sungguhan." Ucap Marvin sambil memegang wajahnya.
Tak lama Citra masuk ke dalam kamar Marvin sambil membawa kotak p3k untuk mengobati Marvin.
"Marvin." Ucap. Citra.
"Kau, kenapa kau berada di sini." Tanya Marvin.
"Boleh aku mengobati luka mu." Tanya Bella.
"Tidak perlu, obati saja luka anak ku, jangan pikirkan aku." Jawab Marvin.
"Dia sudah ada yang mengobati, sini mendekat lah." Citra duduk di atas sofa sambil membuka kota p3k.
"Sudah aku bilang aku tidak mau jangan sok peduli dengan ku." Ucap Marvin.
"Kenapa kamu marah pada ku, aku hanya ingin membantu mu. Begitu kah nada bicara mu jika berbicara dengan seorang ibu." Kata Citra.
"Aku tidak punya ibu, jadi jangan salahkan aku jika aku berkata kasar pada mu." Ucap Marvin.
__ADS_1
Citra menarik nafas nya secara perlahan, ia kembali menutup kotak itu dan membawa nya dekat pada Marvin.
"Biarkan aku mengobati luka mu dulu." Kata Citra.
Kali ini Marvin tidak bisa menolak, sentuhan lembut Citra di wajah nya membuat Marvin luluh seketika, mata nya sayup menatap wajah Citra. Citra bukan seperti mengobati luka orang lain tetapi rasa nya ia mengobati luka anak nya sendiri.
"Apa ini yang di katakan Vino tadi, rasa nya benar-benar sama seperti aku berada bersama Nathan." Batin Citra.
"Apa sakit." Tanya Citra.
"Sedikit." Jawab Marvin yang kali ini tidak meninggikan suaranya.
"Maaf aku berkata kasar dan tinggi pada mu." Ucap Marvin.
"Tetap berkata lembut seperti ini pada ku, anggap aku sebagai ibu mu, wanita memiliki perasaan yang lemah dan mudah tersentuh bahkan karena hanya sebuah ucapan." Kata Citra.
Tangan Citra bergerak mengusap rambut Marvin dengan lembut. Marvin yang awalnya menunduk langsung menaikan kepala nya dan kembali menatap wajah Citra yang tersenyum pada nya.
"Ada apa, apa aku tidak boleh mengusap kepala mu." Tanya Citra.
"Aku tidak pernah di perlakuan seperti ini, apa ini yang dinamakan kasih sayang ibu." Ucap Marvin.
"Kasih sayang ibu lebih besar dari apapun, kamu pasti akan merasakan nya, kalau boleh tau kenapa kamu dan Nathan bertengkar."
"Aku yang memukul nya lebih dulu, dia mengatakan aku anak selingkuhan ayah nya." Ucap Marvin.
__ADS_1
"Anak itu benar-benar kurang ngajar, maafkan Nathan pasti hati mu sakit saat mendengar ucap dari Nathan." Kata Citra.
"Tidak aku tidak memiliki ibu, perkataan nya menyakiti apapun."
Citra bangkit dari atas kasur dan mengambil pakaian yang berserakan di lantai, pakaian yang di bawa Nathan tadi untuk Marvin.
"Marvin pakai pakaian ini dulu ya, besok kita ke mall untuk membeli pakaian baru." Ucap Citra.
"Tidak perlu, aku bisa membelinya sendiri, terimakasih telah perhatian pada ku."
Citra benar-benar sudah tidak bisa menahan nya lagi, sedari tadi ia sangat ingin memeluk Marvin, semakin lama rasa ingin itu semakin besar dan Citra langsung memeluk Marvin dengan sangat erat.
Tubuh Marvin membeku seketika ia sama sekali tidak menolak pelukan dari Citra. Rasa hangat dan nyaman membuat Marvin ingin selalu ada di dalam pelukan itu.
"Maaf, aku lancang memeluk mu." Ucap Citra yang ingin melepaskan pelukan nya. Tetapi Marvin menahan nya, sekarang giliran dia yang memeluk Citra, tanpa sadar Marvin meneteskan air mata nya.
"Kamu boleh memanggil ku bunda atau mamah." Ucap Citra.
"Bunda, tapi aku bukan siapa-siapa mu." Marvin masih enggan melepaskan pelukan itu.
"Mulai sekarang aku bunda mu, jangan pernah pergi dari rumah ini. Kamu sudah menjadi anggota keluarga di sini." Ucap Citra.
Setelah melewati beberapa kali momen yang mengharukan Citra keluar dari kamar Marvin. Membiarkan Marvin beristirahat melepaskan rasa lelah nya.
"Sayang kamu sudah mengobati nya." Tanya Vino.
__ADS_1
"Apa dia anak ku." Ucap Citra.