
Calvin membawa Nila ke salah satu kamar yang kosong di rumah ini. Mereka berdua berpapasan dengan Rebecca yang membuat Calvin kehilangan mood nya. Dengan gaya sombongnya Rebecca sama sekali tidak menyapa maupun memperdulikan mereka berdua.
Nila menaikan satu alis nya saat melihat Rebecca yang seperti nya tidak suka pada nya, Calvin menarik Nila agar lebih cepat menjauhi Rebecca.
"Ada apa sayang," tanya Nila.
"Aku tidak suka dengan nya, gaya nya seperti wanita murahan," jawab Calvin.
"Dia adik kamu, jangan seperti itu pada nya," kata Nila.
"Aku tidak pernah menganggap nya adik ku, hanya Piter yang aku anggap, sudah ya kamu istirahat saja dulu di kamar, aku ingin ke kamar Piter," ucap Calvin.
Calvin berjalan menuju kamar Piter, ia sudah tau letak kamar Piter dan langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk Pintu dahulu seperti biasa nya.
"Calvin," Piter menaikan celana nya dan laptop nya.
"Kau sedang apa," tanya Calvin.
"Kau kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu," tanya Piter.
Calvin tidak menjawab pertanyaan dari Piter, ia mengambil laptop Piter dan membuka nya.
"Hay," ucap seorang wanita yang sangat seksi.
Calvin memencet tombol of untuk mematikan laptop itu. "Dia siapa," tanya Calvin.
"Kau lupa dia pacar ku," jawab Piter.
__ADS_1
"Kau masih tidak berubah, sudah aku katakan lebih baik jauhi dia," kata Calvin.
"Aku perlu wanita untuk memuaskan ku Calvin, jangan munafik kau memiliki istri sedangkan aku tidak."
"Kalau begitu menikah bukan seperti ini, aku kecewa dengan mu, percuma aku memberikan semua nya pada mu." Calvin pergi meninggalkan Piter.
Calvin merasa keluarga ini sangat tidak beres, mereka seperti sibuk dengan urusan mereka sendiri tanpa memperhatikan orang di sekitar nya, gaya hidup yang terlalu berlebihan juga membuat Calvin ilfeel dengan keluarga ini.
"Dasar kebo, baru juga di tinggal sudah tidur saja," ucap Calvin saat melihat Nila terlelap.
"Aku mempunyai rencana, aku tau bagaimana membuat Rebecca tidak mendekati ku lagi, untung saja pintu kamar kami bersebelahan," batin Calvin.
Malam hari nya, mereka semua sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam, semua mata tertuju pada pasangan Calvin dan Nila, mereka berdua tampak sangat cocok dan berkelas.
"Kau salah saing Rebecca, sudah aku katakan," bisik Piter.
"Diam, dia cantik karena dia kaya."
"Wah ternyata anak ayah sangat romantis ya," ucap Erwin.
"Tapi ayah nya kenapa tidak romantis ya," ujar Elisabeth.
"Hahaha ayah ayo bersikap romantis pada istri mu, mamah sudah menyindir mu," kata Calvin.
"Dengar anak mu sayang, ayah mu tidak bisa seperti mu Calvin, dia akan romantis kalau sudah urusan jatah menjatah," ucap Elisabeth.
"Sttt jangan bahas jatah, mereka berdua belum menikah," kata Erwin.
__ADS_1
"Aku sering mendengar suara kalian berdua," batin Rebecca.
"Aku pernah mengintip kalian berdua," batin Piter.
Di rumah Nathan sedang berlatih berjalan bersama Marvin, satu dua langka sudah bisa ia lakukan. Marvin selalu cepat tanggap saat Nathan mulai kehilangan keseimbangan nya.
"Bagaimana dengan wanita itu," tanya Marvin.
"Aku belum tau, kau mau bercocok tanam dengan nya," tanya balik Nathan.
"Jika aku belum menikah mungkin saja," jawab Marvin.
"Aku penasaran bagaimana rasa nya, kenapa setiap pria sangat suka melakukan nya," ucap Nathan.
"Kau menikah dulu baru tau rasa nya, apalagi kalian berdua saling mencintai," kata Marvin.
"Apa yang sedang kalian katakan," tanya Vini yang baru pulang dari kantor.
"Ayah kau baru pulang, kenapa sampai malam begini," tanya Nathan.
"Banyak pekerjaan, besok ayah akan libur jadi harus di selesai hari ini," jawab Vino.
"Kenapa tangan mu Marvin," tanya Vino yang baru sadar jika tangan Marvin terluka, Vino belum tau jika Marvin di perlakuan tidak baik di perusahaan nya sendiri.
"Tadi aku jatuh, karena terburu-buru," jawab Marvin.
Tiba-tiba dari arah pintu datang seseorang hanya membuat mereka semua terkejut.
__ADS_1
"Hay semua, apa kabar," ucap Vira.
"Tante Vira, paman Mark," kata Nathan.