
Notes : Karena terlalu banyak yang tidak suka konflik nya, jadi akan author singkirkan langsung. Banyak juga yang bilang terlalu banyak adegan mesum, jadi akan author buat seperti Stiven dan Bella yang banyak adegan nangis nya😃. Atau bisa saran konflik 😋
🍀🍀🍀
"Jangan dekati Calvin Rebecca, aku tidak mau kau kenapa-napa, Calvin bukan orang sembarangan dia bisa menghancurkan hidup mu dan mengambil semua fasilitas yang kita punya." ucap Piter.
"Kenapa kakak jadi seperti ini, aku adik mu kenapa kau malah seperti berpihak pada nya," kata Rebecca.
"Aku tidak berpihak pada nya, aku hanya tidak ingin kau kenapa-napa, aku juga sudah bosan hidup pas-pasan, dengan ada nya Calvin aku bisa bekerja di perusahaan besar dan aku tidak kekurangan uang, aku akan mengirim ku kembali ke Eropa jika kau sampai berbuat aneh-aneh," ucap Piter.
Rebecca yang kesal dengan Piter langsung pergi meninggalkan Piter, ia merasa kakak nya sudah berubah dan akan menjadi penghalang dari semua rencana nya.
Marvin sedang membuat kan minuman untuk Nathan, sepanjang perjalanan kuping Marvin mendengar banyak orang yang membicarakan nya, bahkan tak jarang ia mendapatkan tatapan aneh dari orang lain.
Kebanyakan orang belum tau siapa Marvin, mungkin karena mereka tidak hadir saat pesta ulang tahun nya. Jadi mereka tidak tau jika Vino sudah mengumumkan jika Marvin anak nya yang hilang.
Marvin hanya bisa kebal kuping, untuk menegur mereka Marvin belum berani, ia takut malah menambah banyak masalah.
"Ahhkkk.. Punya mata tidak," ucap seorang wanita.
__ADS_1
"Maaf," kata Marvin sambil mengambil pecahan gelas di lantai.
"Kau siapa, kau anak baru di sini," tanya Melinda.
"Iya," jawab Marvin tanpa melihat Melinda.
"Jika aku tanya jawab sambil menatap ku, dimana sopan santun mu." Melinda menginjak tangan Marvin dan pergi meninggalkan Marvin yang kesakitan karena tangan ntar terkena pecahan beling.
Marvin membasuh tangan nya dengan air mengalir, ia tidak abis pikir perusahaan sebesar ini memiliki karyawan yang attitude nya sangat buruk.
"Sakit sekali," ucap Marvin.
Marvin kembali membersihkan beling yang berserakan di lantai, setelah itu ia membuat kan minuman untuk Nathan. Marvin kembali masuk ke ruangannya sambil menahan perih di tangan nya, luka nya cukup dalam dan terus meneteskan darah.
"Marvin tangan mu terluka, di sana di dekat lemari," ucap Nathan.
Marvin mengambil kotak itu dan langsung mengobati luka nya.
"Ahhkkk," teriak Marvin saat berhasil mengambil beling yang menancap di tangannya.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan ini Marvin," tanya Nathan.
"Tidak ada aku ceroboh, ini ulah ku," jawab Marvin.
"Jangan bohong aku tidak suka dengan kau yang pembohong begini," kata Nathan.
"Aku serius Nat, tidak ada yang menyakiti ku, ini karena ulah ku sendiri," ucap Marvin.
"Aku akan mencari tau sendiri jika kau tidak mau memberitahu ku," ancam Nathan.
"Oke jangan mencari tau masalah ini, jangan juga memberitahu masalah ini apa ayah, seperti nya banyak yang tidak suka dengan ku. Dan ini ulah salah satu dari mereka," ucap Marvin.
"Kurang ngajar, dia berani melakukan ini pada mu, dia mau mati." Nathan mulai terpancing emosi.
"Sabar Nat, jangan ikut campur masalah ini, aku ingin membuat mereka memandang ku dengan kemampuan ku bukan karena aku anak ayah, biarkan mereka melakukan ini pada ku untuk sesaat ada waktu aku akan membalas perlakuan mereka pada ku," kata Marvin.
"Ini gila Marvin, kau benar-benar sudah gila, dengan memberitahu siapa diri mu, sudah pasti mereka akan bertekuk lutut pada mu," ucap Nathan.
"Sudah aku katakan tadi Nat, mereka akan merendahkan seseorang yang menurun mereka rendah tanpa tau siapa orang itu, di perusahaan sebesar ini seharusnya attitude termasuk hal yang penting tapi apa yang aku dapat tadi mereka tidak menunjukkan jika mereka orang yang berpendidikan. Aku akan menyingkirkan orang seperti itu satu persatu karena orang seperti itu tidak baik untuk masa depan perusahaan ini." kata Marvin.
__ADS_1
"Aku serahkan pada mu Marvin, tapi ingat jangan sampai berlebihan jangan sampai mereka berbuat yang lebih para dari sekarang," ucap Nathan.
Marvin meminta agar ayah nya merahasiakan identitas nya, Vino sempat bingung dengan keputusan Marvin tapi mau bagaimana lagi Vino tidak bisa menolak keinginan anaknya, semua orang yang tau siapa Marvin di bungkam oleh Vino.