
Waktu Eropa Calvin sudah sering ke Marvel grup, ia sudah sangat hafal jalan menuju Marvel grup itu sebabnya ia yang menyetir mobil. Sekaligus ia ingin pamer pada Vino tentang semua yang ia miliki di sana.
"Lihat ayah, mall itu milik keluarga ku," ucap Calvin.
"Iya iya, aku tau itu kau lebih di hormati di sini," kata Vino.
"Jelas yah, aku tidak tau kenapa semua orang hormat pada ku, tapi aku sangat suka, hampir semua yang ada di sini milik keluarga ku," ucap Calvin.
Di sana Calvin jauh di atas keluarga Vins, mungkin masih banyak yang tidak kenal keluarga Vins tapi Calvin begitu di kenal di sana.
"Kau sudah seperti ini, bersikaplah dewasa, bersihkan otak mesum mu dan jadi lah penerus keluarga Marvel yang baik," ucap Vino.
"Iya iya aku mengerti, ayah buat apa kita ke sini," tanya Calvin.
"Ada yang ingin bertemu dengan mu, bersikap sopan pada nya, jika kau tidak suka dengan nya jangan tunjukan secara jelas," kata Vino.
"Tidak bisa, aku tidak suka akan langsung mengatakan nya, siapa yang mau bertemu dengan orang penting seperti ku," ucap Calvin.
"Anak ini mulai naik kesombongan nya, aku bukan ayah nya saja kesal apalagi saat ayah nya tau anak nya begini," batin Vino.
Mata Vino terbelalak saat melihat betapa megah dan besar nya gedung Marvel grup, hampir dua kali lebih besar dari Vins grup. Mungkin itu sebabnya proses pemindahan berjalan sangat lama.
"Ayah jangan begitu, ini milik mu juga," ucap Calvin.
__ADS_1
"Siap ini anak semakin meninggi saja," batin Vino.
"Kau sudah pernah masuk," tanya Vino.
"Jelas sudah, aku memilki ruangan pribadi di sini," jawab Calvin.
Vino menghubungi Stiven lebih dahulu untuk menanyakan dimana lokasi pertemuan antara Calvin dan ayah nya.
"Ruang CEO dad, oke aku akan ke sana," ucap Vino.
"Ruang CEO yah, aku tau ayo ikut aku," kata Calvin.
Vino dan Calvin masuk ke dalam lift untuk menuju lantai paling atas karena ruang CEO berada di lantai paling atas gedung besar ini.
"Calvin kau tidak mau di sini saja," tanya Vino.
"Bagus ini baru anak ayah," Vino mengusap rambut Calvin.
Sesampainya di ruangan itu, mereka langsung masuk ke dalam. Di dalam sudah ada Stiven dan Erwin duduk bersama. Mata Calvin tertuju pada Erwin yang ternyata benar-benar mirip dengan nya.
"Siapa dia, kenapa wajahnya mirip dengan ku," batin Calvin.
"Anak ku, apa dia anak ku," tanya Erwin.
__ADS_1
"Iya dia Calvin, anak anda dan nona Amel," jawab Stiven.
"Calvin, dia benar-benar mirip dengan ku," ucap Erwin dan langsung mendekati Calvin dan memeluk nya dengan erat.
Calvin diam tertegu saat diri nya di peluk orang lain, tak lama ia tersadar dan langsung mendorong orang itu.
"Kau siapa, berani-berani nya memeluk ku," ucap Calvin.
"Calvin dia ayah mu, jangan seperti itu, kau sangat tidak sopan pada nya," kata Vino.
"Ayah ku," kata Calvin.
"Iya nak, aku ayah mu, lihat kemiripan mu dengan ju, maafkan ayah," ucap Erwin dan kembali memeluk anak nya.
"Ayah ku tidak bukan, kau bukan ayah ku," Calvin kembali mendorong Erwin.
"Tidak mau yah, dia bukan ayah ku, kau ayah ku aku tidak mau mempunyai ayah seperti nya," ucap Calvin dan langsung memeluk Vino.
"Calvin dia ayah kandung mu, kau harus menerima nya," ujar Stiven.
"Aku tetap ayah mu, tapi dia ayah kandung mu Calvin, dia yang mencetak mu, jangan seperti itu pada nya," kata Vino.
"Jika dia ayah ku, kenapa baru sekarang mencari ku, kenapa tidak dari dulu saat mommy masih ada, sekarang mommy sudah tidak ada baru dia mencari ku, aku tidak mungkin mempunyai ayah seperti dia," ucap Calvin.
__ADS_1
Vino merasa yang di katakan Calvin ada benar nya juga, Calvin memiliki tingkat kepekaan yang cukup tinggi.
"Maaf nak, selama ini ayah salah, maafkan ayah," ucap Erwin.