
"Awww." Vino memegang kepala nya yang terasa sangat pusing.
"Dimana aku." Ucap Vino saat melihat ke sekeliling nya
Vino merasakan rasa sakit di sekujur tubuh nya, ia yakin tubuh nya terluka cukup parah karena ledakan itu.
"Nathan." Ucap Vino yang melihat seseorang yang ia lihat tadi.
Saat membalik badan nya wajahnya sama sekali tidak mirip dengan Nathan tapi Vino tetap merasakan hal yang aneh saat melihat wajah orang itu.
"Kau sudah bangun." Ucap Marvin.
"Siapa kau, kenapa aku bisa bersama mu." Tanya Vino.
"Aku, itu tidak penting. Kau tau aku sebenarnya musuh mu." Jawab Marvin.
"Musuh ku, apa salah ku pada mu. Dan jika aku musuh mu kenapa kau menyelamatkan ku."
Marvin sama sekali tidak tau kesalahan orang yang berada di depan nya ini, ia hanya mendapatkan perintah oleh ayah tiri nya untuk menghancurkan Vino.
"Kenapa kau diam." Tanya Vino.
"Kenapa kau banyak tanya, itu privasi ku." Jawab Marvin.
Vino menarik tangan Marvin dan menggenggam tangan itu. "Terimakasih telah menyelamatkan ku, aku tau kau anak yang baik, melihat wajah mengingat ku pada Nathan anak ku." Ucap Vino.
"Aku tidak ingin mendengar dongeng mu, kali ini aku menyelamatkan mu, tapi lain kali setelah kau sembuh aku langsung yang akan membunuh mu." Kata Marvin.
"Kau mau membunuh ku apa kau mampu melakukan nya, melihat ku terluka saja kau tidak bisa." Ucap Vino.
"Jangan memancing amarah ku."
__ADS_1
"Kau mudah sekali terpancing." Vino kembali merasakan rasa sakit di kepalanya.
"Kenapa sakit sekali." Ucap Vino.
"Sudah sakit jangan banyak bicara." Kata Marvin.
"Siapa nama mu." Tanya Vino.
"Aku, apa itu penting untuk mu."
"Iya penting sangat penting untuk ku, siapa nama mu." Tanya Vino.
"Marvin win." Marvin pergi meninggalkan Vino.
"Hey tunggu, kau mau meninggal kan ku yang sakit begini." Teriak Vino.
"Aku mau membeli makanan." Saut Marvin.
"Apa ini rumah nya, cukup besar untuk anak seusia nya." Batin Vino.
"Sayang sudah." Calvin menenangkan Nila yang terus saja menangis.
Biasanya Calvin lah yang mudah menangis tapi kali ini Calvin menahan nya demi menenangkan istri nya, ia tau betul pasti perasaan Nila benar-benar hancur.
"Ayah bagaimana sayang aku sangat khawatir." Ucap Nila.
"Aku juga sayang, jika kamu menangis aku juga akan menangis. Sudah jangan menangis."
"Tidak kamu tidak boleh menangis." Ucap Nila.
"Bagaimana ini paman, aku sangat bingung kenapa Vino bisa hilang tanpa jejak seperti ini." Kata Andy.
__ADS_1
"Yang jelas Vino tidak ada di dalam mobil itu, karena mereka sudah memeriksa nya. Aku yakin Vino di bawa pergi sebelum mobil itu meledak dan terbakar." Kata Stiven.
Abraham sedang menikmati kemenangan nya bersama para jalang nya, kehilangan Tiara tidak membuat nya rugi walaupun permainan para jalang ini tidak sehebat Tiara tetapi Abraham tidak mempermasalahkan nya.
"Dimana anak itu, sudah beberapa hari tidak keliatan, percuma aku mengadopsi nya." Ucap Abraham.
Keesokan harinya Nathan sudah tina di rumah, ia langsung mencari Nila dan memeluk Nila dengan sangat erat.
"Kakak merindukan mu Nila." Ucap Nathan.
"Aku juga kak, aku sangat merindukanmu." Kata Nila.
"Calvin aku juga merindukan mu, kau memang ganas sekali, lihat perut adik ku sudah membesar."
"Hey jaga sopan santun mu Nathan aku abang ipar mu." Calvin langsung memeluk Nathan.
"Aku tidak peduli." Ucap Nathan.
"Bagaimana dengan kabar ayah, apa ada kabar baik." Tanya Nathan.
"Tidak ada kabar apapun, kami masih menunggu kabar baik." Jawab Nila.
"Nathan kau sudah sampai." Ucap Alka.
"Kak, kau jangan sok dekat dengan ku." Ujar Nathan.
"Kakak Amanda, kau semakin cantik saja." Ucap Nathan.
"Jangan menggoda istri ku." Kata Alka.
Perut Vino benar-benar terasa sangat lapar, dari kemarin Marvin belum memberi nya makan, bahkan Vino tidak melihat batang hidung Marvin.
__ADS_1
"Makan lah." Ucap Marvin yang tiba-tiba datang.
"Kau membeli makanan atau membuat nya."Kata Vino.