
"Tubuh mu bagus juga, Rebecca suka dengan pria seperti mu, putih bersih dan tidak terlalu berotot," ucap Piter.
"Jangan memperhatikan kau seperti pria cabul dan ingat aku sudah menikah aku tidak mungkin mengkhianati istri ku," kata Calvin.
"Cih jangan munafik Calvin, kau pria normal. Ingat kau sedang berada di negera mana," ucap Piter.
"Piter celana d*lam ini tidak muat untuk ku, junior ku terjepit," rengek Calvin.
Piter menaikan satu alis nya, ternyata Calvin bisa merengek seperti anak kecil. Ia berjalan mendekati lemari untuk mencari celana d*lam baru yang lebih besar dari yang tadi.
"Kecil kan milik mu," ucap Piter dan pergi meninggalkan Calvin sendiri di kamar itu.
Piter berjalan menuju ruang makan untuk makan malam bersama, di sana sudah ada Erwin yang sedang menikmati kopi panas.
"Ayah," ucap Piter.
"Ada apa, bagaimana apa kau sudah berkenalan dengan anak ayah," tanya Erwin.
"Sudah, dia anak yang manja, tapi dia sudah menikah, bukan nya itu hal yang aneh," jawab Piter.
"Bagus seperti itu, budaya mereka beda dengan kita, dimana pacar mu," tanya Erwin.
"Dia sudah pulang, aku sedang berduaan dengan nya dan tiba-tiba Calvin datang itu sangat menganggu ku," jawab Piter.
"Hanya untuk sebentar dia juga tidak mau tinggal di sini," ucap Erwin.
__ADS_1
"Ayah ini rahasia kita berdua, bagaimana Calvin terbentuk. Dulu kata ayah, ayah memperk*sa ibu nya," tanya Piter.
"Tidak ayah hanya berbohong, kami saling mencintai, dan kami melakukan nya dengan cinta dan berulang kali sehingga terbentuknya Calvin. Perbedaan kasta membuat kami tidak bisa bersatu," jawab Erwin.
"Hmmmm sudah aku duga, mana mungkin seorang ayah begitu, aku akan mengadukan nya pada bunda, aku tau bunda tidak tau akan hal ini," kata Piter.
"Jangan bodoh, ayah tidak akan memberikan mu uang jajan lagi, tapi ayah tidak menyesal tidak menikah dengan mamah Calvin ayah mendapatkan bunda mu yang sangat cantik dan menghasilkan kau dan Rebecca," ucap Erwin.
"Ya karena di jodohkan tapin langsung di gasak juga," ujar Piter.
"Jangan bodoh Piter, melakukan seperti itu tidak perlu dengan cinta tapi dengan nafsu, sudah jangan membahas masa lalu," kata Erwin.
Tak lama Rebecca ikut bergabung, Elisabeth juga sudah selesai memasak dan menghidangkan makanan di atas meja makan.
"Wah anak ayah sudah tampan, kemari lah duduk di samping ayah, Piter geser lah," kata Erwin.
Piter membuang nafas nya dengan kasar dan bergeser memberikan kursi nya pada Calvin. Calvin duduk di samping ayah nya, ia sedikit merasa canggung karena terlalu di perhatikan oleh Erwin.
"Makan yang banyak, baut tubuh mu berisi," ucap Erwin sambil mengambilkan makanan untuk Calvin.
"Kau mau di ikut dengan ku tidak," tanya Piter.
"Iya aku ikut dengan mu," jawab Calvin, ia benar-benar ingin menghindari Rebecca yang memberikan tatapan aneh pada nya.
"Jaga anak ayah dengan baik," ucap Erwin.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam, Piter dan Calvin mengganti pakaian mereka sebelum keluar rumah, dengan terpaksa Calvin memakai semua yang piter punya karena ia sama sekali tidak membawa pakaian.
"Naik motor atau mobil," tanya Piter.
"Mobil, kita ke bank sebentar aku ingin mengambil uang," jawab Calvin.
"Untuk apa, ayah sudah memberikan uang lebih untuk kita, kau anak kesayangan nya," ucap Piter.
"Aku ingin membelanjakan mu, jangan menolak," kata Calvin.
Piter tersenyum ketika mendengar perkataan Calvin. "Memanfaatkan nya untuk sejenak tidak masalah," batin Piter.
"Minta nomor rekening mu dan ayah," ucap Calvin.
"Dengan senang hati, kau sangat baik Calvin," kata Piter sambil memberikan nomor yang Calvin minta.
Calvin langsung mengirimkan uang pada ayah nya dan pada Piter, baru kali ini ia mengeluarkan uang yang cukup banyak dari kartu nya, biasanya ia meminta semuanya pada Vino.
"Calvin kau gila, 2 m," ucap Piter.
"Iya, kau sudah baik pada ku," kata Calvin.
Setelah mengambil uang, Piter membawa Calvin ke tempat teman-teman nya.
"Dia sangat tampan, walaupun kami satu ayah mencoba nya tidak masalah," ucap Rebecca.
__ADS_1