
Siang hari nya, Marvin terbangun dari tidurnya, hati nya sangat bahagia setelah mengingat malam indah nya bersama Wulan. Ia sangat senang mendapatkan istri seperti Wulan yang selalu menuruti semua kemauan nya, apa yang ia minta pasti Wulan lakukan.
Marvin melirik ke arah Wulan yang sedang tidak memakai apapun, benar-benar polos yang membuat adik kecil Marvin kembali menjadi besar kembali. "Kasihan dia, kami sudah bermain 5 jam tanpa henti dan sekarang aku minta lagi, hadeh bisa tidak bisa jalan dia." Ucap Marvin sambil mengusap wajah Wulan.
"Sayang bangun sudah siang ayo satu ronde lagi." Ucap Marvin.
"Kenapa milik mu besar sekali sayang." Tanya Marvin.
Wulan memeluk Marvin dan mempererat perlukan nya sehingga milik Wulan menempel di tubuh Marvin.
"Maaf sayang satu ronde lagi yah." Ucap Marvin dan kembali memakan Wulan.
Stiven dan Vino sedang pergi ke suatu tempat yang tak lain dan tak bukan adalah tempat pembuktian jika anak Vino masih ada yang selamat atau tidak.
"Vino apapun yang terjadi kau tetap harus menerimanya." Ucap Stiven.
"Iya dad, aku akan tetap menerima nya." Kata Vino.
Sesampainya di tempat itu, Vino dan Stiven mendengar penjelasan orang yang di sewa Stiven untuk membongkar makan anak-anak Vino. Dan memang satu anak Vino sudah tidak ada, Vino hanya bisa diam karena harapan nya selama ini sudah pupus.
"Sudah daddy katakan tadi, kau harus menerima nya." Ucap Stiven.
"Iya dad, Marvin, Nathan dan Nila sudah cukup untuk ku." Kata Vino.
__ADS_1
"Vino siap penyerangan." Tanya Stiven.
"Maksud nya apa dad."
"Aku sudah menemukan titik dimana Abraham berada, pasukan ku juga sudah pada siap semua dan Iqbaal akan membantu ku." Ucap Stiven.
"Daddy dia mafia kalau aku mati bagaimana." Tanya Vino.
"Daddy mu yang sudah tua saja berani tapi kau yang masih muda malah penakut seperti ini, ayo kau harus ikut." Jawab Stiven.
Mau tidak mau Vino harus bisa ikut dengan Stiven, mereka langsung menuju ke tempat dimana para pasukan Stiven sudah menunggu bersama Iqbaal.
"Stiven sudah siap, apa kau masih kuat seperti dulu." Tanya Iqbaal.
"Hey apa yang kalian bicarakan, apa kalian sudah gila." Tanya Vino.
"Vino kau lihat paman mu, bagaimana cara menghancurkan musuh kita." Ucap Iqbaal.
Setelah membuat strategi mereka langsung berangkat ke tempat Abraham berada, semua sudah di siapkan dengan sangat matang dan Stiven yakin kali ini tidak akan ada kegagalan lagi.
"Dad musuh." Ucap Vino.
"Tenang Vino, lihat paman mu menggunakan senjata ini." Kata Iqbaal dan langsung membabat abis para musuh di depan nya.
__ADS_1
"Apa paman Mafia, bagaimana bisa melakukan nya dengan muda." Tanya Vino.
"Hahaha ini hobi paman, kau mau coba."
"Tidak aku di sini saja." Ucap Vino.
Abraham dan Elisa sangat terkejut mendapatkan serangan dari Stiven, mereka tidak mempersiapkan apapun untuk menghadiri serangan tersebut.
Stiven dan yang lainnya sudah berhasil membobol masuk rumah Abraham, Stiven tersenyum puas saat melihat Abraham sudah tidak bisa berbuat apapun lagi.
"Anak itu, itu adik tiri Marvin dad." Ucap Vino saat melihat Elisa.
"Jadi dia yang membuat Marvin seperti sekarang, jadi kau yang menculik cucu ku, jadi kau merencanakan sesuatu dengan cara menculik cucu ku."
"Maaf Stiven, ampuni kami, kami tidak akan melakukan apapun lagi." Ucap Abraham.
"Maaf kata mu, bagaimana Vino kau mau memaafkan orang yang membuat anak mu hancur." Tanya Stiven.
"Tidak dad, bunuh saja dia, jalang itu juga." Jawab Vino.
Stiven meminta anak buah nya untuk mengikat Elisa dan Abraham setelah itu merekam semua pergi meninggalkan tempat itu. Dan tak lama tempat itu hancur berkeping-keping karena di ledakan oleh Iqbaal bersama dengan Abraham dan Elisa di dalam sana.
"Daddy aku sudah tenang akhirnya, orang yang mengancam Marvin sudah tidak ada." Ucap Vino.
__ADS_1
Ayo tembus 200 komen 😂