
"Mau ke mana mas," tanya Wulan.
"Aku ingin menjemput Nathan, tapi ayah melarang ku, jadi aku ingin menunggu nya di depan saja," jawab Marvin.
Marvin mendekati Wulan dan mengecup bibir nya, lalu ia duduk di depan perut Wulan untuk melihat apakah benih nya sudah tumbuh atau belum di dalam sana.
"Apakah sudah ada yang tubuh di saja sayang," tanya Marvin sambil mengusap perut Wulan yang masih rata.
"Aku tidak tau, aku belum merasakan tanda-tanda kehamilan." jawab Wulan.
"Oke kalau begitu, kita tunda saja ya, di keluarga ini sudah terlalu banyak yang melahirkan kita tunda 1 tahun lagi bagaimana," tanya Marvin.
"Aku mau saja mas, tapi aku tidak mau minum pil KB, aku kan belum pernah melahirkan aku takut itu mempengaruhi kesuburan ku ketika aku ingin mempunyai anak malah tidak bisa."
"Kalau begitu aku saja yang KB," ucap Marvin.
"KB bagaimana mas," tanya Wulan.
"Aku pakai pengamanan sayang, aku banyak stok untuk setiap malam," jawab Marvin.
"Kalau begitu mah aku tidak masalah, terimakasih telah mengerti diri ku mas." Wulan memeluk Marvin.
__ADS_1
"Aku yang seharusnya berterimakasih pada mu, kamu memenuhi semua kebutuhan lahir dan batin ku, maaf aku terlalu over selama ini aku janji akan mengurangi nya sedikit demi sedikit," ucap Marvin.
Sore hari nya, Nathan sudah sampai di Bandara pribadi Vins grup, sebagai calon penerus tahta Vins grup Nathan di jemput layak nya seorang raja berbeda dengan yang sebelumnya saat pulang bersama para sepupunya.
Sesampainya di rumah Nathan masuk ke dalam dengan penuh kebanggaan, ia salah satu orang terpintar di keluarga Vins. Nathan dapat menyelesaikan semua pendidikan yang di tetep kan keluarga Vins saat berusia 19 tahun umur tercepat yang pernah di capai di keluarga ini.
"Anak ayah," ucap Vino dan langsung memeluk anak kebanggan nya.
"Selamat Nat, ayah sangat bangga pada mu, ayah aku menuruti semua kemauan mu."
"Apa itu benar yah, aku ingin menggantikan ayah," ucap Nathan.
"Belum waktu nya, yang lain," Kata Vino.
"Tidak ini anak kesayangan ku, tidak boleh ini milik ku," ucap Vino.
"Hahaha tumben ayah seperti ini, biasa nya ayah lebih suka dengan Marvin, mana bocah tengil itu apa dia asik membuat bayi terus menerus," tanya Nathan.
"Itu hobi nya Nat, ayah suka dia melakukan nya dengan satu wanita dari pada jajan di luar sana."
"Kalian mencari ku," ucap Marvin sambil memeluk Citra.
__ADS_1
"Bunda dengan ku saja jika, Nathan tidak mau memeluk Bunda," kata Marvin.
"Owwh sekarang kau jadi anak Bunda ya," tanya Vino.
"Ayah saja memilih Nathan, aku jadi dengan siapa," ucap Marvin sambil membawa Citra mendekat ke arah Vino dan Nathan.
Mereka berempat bercanda dan tertawa bersama melepaskan rasa rindu karena perpisahan yang cukup memakan waktu.
Calvin sudah mulai pulih dari sakit nya, cacar air di tubuh nya juga sudah mengering tetapi Vino masih mengirim beberapa dokter untuk melihat perkembangan Calvin, salah satu orang yang di kirim Vino adalah psikolog tanpa sepengetahuan orang lain.
Vino takut terjadi sesuatu pada mental Calvin yang semakin lama semakin aneh, la berpikir lebih baik mengantisipasi nya dari pada terlambat jika memang ketakutan nya benar-benar terjadi.
"Bagaimana dok," tanya Vino.
"Sindrom Peter Pan."
"Apa itu dok." Ketakutan Vino semakin memuncak.
"Sindrom Peter Pan adalah sikap orang dewasa yang secara psikologis, sosial. Pria dewasa sudah seharusnya dapat hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Namun, pria dengan sindrom Peter Pan memiliki sifat sebaliknya. Mereka tidak bersikap sesuai dengan usianya, yakni cenderung tidak mandiri dan sangat kekanak-kanakan," jelas Dokter.
"Penyebabnya sendri antara lain cara pandang yang salah terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Pola asuh orang tua yang terlalu protektis. Tidak siap untuk memikul tanggung jawab yang besar saat dewasa. Merasa cemas, takut, tidak mampu, dan tidak percaya diri, sehingga pengidap sindrom Peter Pan berupaya melindungi diri dengan bersikap layaknya anak kecil. Tekanan mental berat inilah yang mungkin memicu rasa “ingin kabur dari tanggung jawab” dan membuat seseorang ingin kembali ke masa kanak-kanak yang tidak memiliki beban hidup."
__ADS_1
"Calvin kenapa bisa seperti ini," ucap Vino sambil mengusap wajahnya dengan kasar.