
Beberapa hari telah berlalu, Calvin di tangani dengan baik oleh dokter khusus yang di siap kan oleh keluarga Marvel, setiap hari Calvin di beri obat, suntikan agar mempercepat kesembuhan nya. Walaupun untuk menyuntik nya perlu drama dan bantuan sang istri karena ketakutan Calvin akan jarum suntik.
"Hiks hiks hiks." Terdengar suara tangisan di sudut kamar.
Nila yang mendengar tangisan itu mempercepat kegiatan mandi nya, setelah selesai Nila langsung berlari keluar dari kamar mandi.
"Sayang ada apa." Nila memeluk Calvin dengan erat.
Calvin hanya menggelengkan kepala nya dan terus menangis, tangisan Calvin membuat Nila semakin panik.
"Obat penenang." Ucap Nila.
Nila melepaskan pelukan itu untuk mengambil obat penenang di atas meja.
"Minum lah." Nila membantu Calvin untuk meminum obat itu.
Nila membawa Calvin naik ke atas ranjang, ia tidur di samping Calvin sambil memeluk dan mengusap rambut Calvin dengan lembut, agar Calvin bisa semakin tenang.
Yang di katakan dokter tadi pagi benar terjadi emosi Calvin benar-benar sedang tida stabil, padahal sebelum ini Calvin sedang bahagia dan tertawa bersama Nila dan yang lain nya.
"Kamu kenapa, apa ada yang sakit." Tanya Nila.
Calvin hanya tidak sambil memeluk istri nya dengan erat. Wajah nya sedikit memucat dan pemandangan nya terlihat kosong.
"Kita keluar ya, bertemu dengan kak Alka dan Amanda." Tanya Nila.
Lagi-lagi Calvin hanya diam, yang membuat Nila semakin tidak tenan. Nila mengirimkan pesan pada ayah nya tentang kondisi Calvin yang tiba-tiba berubah.
"Sayang, jangan membuat ku takut." Ucap Nila.
__ADS_1
Tak lama Vino dan Alka mengetuk pintu kamar Nila, Nila pun melepaskan pelukan nya untuk membuka pintu itu.
"Bagaimana bisa begini Nila, apa sudah du beri obat penenang." Tanya Vino.
"Sudah yah, tadi dia menangis di pojok kamar, Nila yang ini gangguin psikologis yang di katakan dokter tadi pagi." Jawab Nila.
"Kau benar Nila, emosi nya sedang naik turun, dia bisa meledak secara tiba-tiba, kita jangan membuat emosi nya naik, Nila satu-satunya orang yang bisa mengontrol Calvin." Ujar Alka.
"Aku takut kak, bagaimana jika dia marah pada ku, menangis lagi atau sejenis nya." Kata Nila.
"Apa sebaiknya kalian pindah kamar, di kamar tempat pengobatan Calvin." Tanya Vino.
"Dia tidak akan mau." Kata Nila.
"Begini saja, jika dia tiba-tiba marah atau melakukan sesuatu hubungi kami seperti tadi." Ujar Alka.
"Ide bagus, baiklah sebaiknya kita segera pergi." Kata Vino.
"Ada apa sayang, bagaimana dengan kondisi Calvin." Tanya Amanda.
"Biasa mungkin psikologis nya sedang terkena akibat penyakit nya, kita Doakan dia agar bisa cepat melalui ini semua." Jawab Alka.
"Semoga saja." Ucap Amanda.
"Bagaimana mau lanjut lagi." Tanya Alka.
Amanda menganggukkan kepala nya dengan wajah yang tersipu malu.
"Jangan malu, aku suka kamu meminta nya." Kata Alka dan mereka pun kembali melakukannya untuk menuruti ngidam Amanda.
__ADS_1
Keesokan pagi nya, Nila merasakan ada tangan yang mengusap rambut nya, perlahan Nila membuka mata nya. Ia melihat Calvin sedang tersenyum manis pada nya.
"Sayang, kamu sudah bangun." Tanya Calvin.
Nila memeluk Calvin dengan erat, pertanyaan Calvin membuat nya lega, akhirnya Calvin kembali seperti semula.
"Sudah, kamu mau mandi, ayo aku bantu." Ucap Nila.
"Tidak mau, aku mau ini." Calvin menunjuk benda milik Nila.
"Sayang kamu sedang sakit, nanti kamu lelah bagaimana." Tanya Nila.
"Hanya ini, tidak lebih." Jawab Calvin dengan menunjukkan wajah imut nya.
"Baiklah, aku seperti memiliki seorang anak bayi." Kata Nila.
Setelah mendapat kan jatah, mereka berdua turun dari kamar untuk sarapan pagi. Semua orang menatap mereka berdua karena khawatir dengan keadaan Calvin plus kasihan pada Nila, di usia nya yang masih sangat mudah Nila harus merawat suami nya yang sedang sakit.
"Bagaimana keadaan mu Calvin." Tanya Alka.
"Aku, aku baik-baik saja, sangat baik. Hanya sedikit mual." Jawab Calvin.
"Tahan sebentar, dokter mu akan segera datang." Ujar Vino.
"Suntik, aahh aku tidak mau." Rengek Calvin.
"Sayang, tidak papa. Nanti aku di samping mu, seperti kemarin tidak akan terasa sakit." Kata Nila.
Mereka semua menahan tawa saat melihat Calvin yang begitu manja pada Nila, apalagi Vino yang seperti melihat diri nya sendiri waktu mudah dulu, waktu bucin tingkat dewa nya datang.
__ADS_1
"Apa aku seaneh itu dulu." Batin Vino.
Setelah menunggu cukup lama, Akhirnya dokter yang menangani Calvin datang, Nila menceritakan semua yang di alami Calvin kemarin malam pada dokter.