
Beberapa bulan telah berlalu, semenjak kejadian itu Marvin dan Wulan ikut dengan Stiven. Marvin benar-benar berlatih dengan Iqbaal untuk menjadi pria yang kuat seperti Iqbaal dan kakek nya.
Vino juga merasa kehilangan Marvin, begitu juga dengan Nathan yang merasa sepi jika tidak ada Marvin di rumah ini.
"Ayah, aku ingin bertemu dengan Marvin, apa kau mau ikut," tanya Nathan.
"Iya aku ikut, tapi Marcel bagaimana?"
"Bawa saja dia, kapan daddy nya akan pulang," tanya Nathan.
"Lusa dia akan pulang, ayah berharap setelah liburan nya ke New York diri nya tidak terlalu sedih lagi," jawab Vino.
"Jika dia berhasil melupakan Nila, apa daddy mengizinkan nya untuk menikah lagi," tanya Nathan.
"Pasti aku akan mengizinkan nya, dia berhak melanjutkan hidup nya. Terpuruk membuat nya diri nya tidak akan bahagia," jawab Vino.
"Ah paman, bagaimana mungkin mata mu setajam itu," tanya Marvin.
"Perhatian baik-baik Marvin, gunakan mata dan insting mu. Musuh bisa datang dari mana saja, jangan lengah," kata Iqbaal.
"Seharusnya kau memanggil Iqbaal kakek jika bukan Paman," kata Stiven.
__ADS_1
"Tidak masalah, aku suka panggilan itu dan semua nya juga sudah memanggil ku paman. Aku memang awet muda," ucap Iqbaal.
"Sudah berhenti berlatih, nenek dan istri mu sedang menyiapkan makanan untuk kita. Ayo kita makan dulu," kata Stiven.
Vino, Nathan dan Marcel sudah tiba di rumah Stiven. Saat ini Marcel sudah berusia tiga bulan yang membuat Vino sedikit kewalahan, karena saat ini Marcel sudah mulai rewel.
"Marvin," teriak Nathan.
"Nathan, kau datang kenapa tidak bilang-bilang." Marvin langsung memeluk Nathan.
"Wah tubuh mu semakin kekar saja, aku sangat iri,' ucap Nathan.
"Ini karena latihan yang kakek berikan nat," kata Marvin.
"Marvin kau masih marah pada ku, kenapa kau tidak mengunjungi ku," ucap Vino.
"Tidak yah, aku hanya terlalu sibuk berlatih. Aku sudah tidak marah lagi pada mu yah."
"Bagaimana dengan mu Vino, apa enak di cuekin anak sendiri, di tinggal anak sendiri," tanya Stiven.
"Tidak dad, aku sangat menyesal. Aku ingin meminta anak ku kembali dad," jawab Vino.
__ADS_1
"No, kau sudah menyianyiakan nya, dan sekarang dia milik ku. Lihat dia satu tahun lagi, dia akan menjadi orang hebat mengalahkan mu," kata Stiven.
"Kek aku ingin ikut dengan mu juga, aku juga mau kayak Marvin."
"Marvin tidak pintar seperti mu, kau hanya perlu melati otak mu bersama Vino, semua sudah ada bidang nya masing-masing, jadi jangan iri Nat," kata Stiven.
Sementara itu Calvin dan Piter sedang berjalan-jalan di kota New York, salah satu kota besar di Amerika. Di sana Calvin sedikit bisa melupakan kesedihan nya, Piter benar-benar membawa Calvin bersenang-senang di sana.
"Aku ingin wanita malam ini Calvin, ayo kita ke bar," ucap Piter.
"Tidak ada Piter, aku tidak mau ke bar," kata Calvin.
"Ayo Calvin, sebentar saja setelah itu kita pisah kamar," ucap Piter.
Calvin membuang nafas nya secara kasar, dengan terpaksa Calvin mau ke ikut dengan Piter ke bar.
"Aduh maaf," ucap seseorang wanita yang tidak sengaja menabrak Calvin.
"Kau punya mata tidak," bentak Piter.
"Dia orang Indonesia," batin Calvin.
__ADS_1
Saat ingin melihat wajah wanita itu, wanita itu Buru-buru pergi menjauh karena takut jika Calvin dan Piter meminta ganti rugi.
"Aku tidak asing dengan suara nya," ucap Calvin