
Stiven dan Vino datang ke ruang penyiksaan, mereka berdua seperti sudah tidak memiliki hati, jeritan dan teriakan para korban mereka sudah mereka anggap hal yang sangat biasa, karena itu balasan pada orang yang mengkhianati dan mengusik keluarga Vins.
"Cih, abis kalian apakan dia." Ucap Stiven.
"Maaf tuan, kami hanya mencicipi tubuh nya."
Stiven melemparkan hp pada Tiara yang tak lain adalah hp nya Tiara sendiri. "Hubungin tuan mu, suruh dia bertemu dengan mu." Ucap Stiven.
"Tidak aku tidak mau." Tolak Tiara.
"Siapkan besi panas." Teriak Stiven.
"Baik tuan." Para penjaga markas itu langsung menyiapkan apa yang Stiven minta.
Stiven mengarahkan besi panas itu, ke bagian inti Tiara, tempat dimana ia melayani dua puluh orang para penjaga markas ini.
"Dad, jangan di situ, aku tidak tega. Nanti jika aku melakukan nya dengan istri ku aku akan kebayang." Ucap Vino.
"Kau diam atau kau yang aku tusuk." Bentak Stiven.
"Dad kenapa kau galak pada ku." Ucap Vino.
"Diam Vino, atau kau mau yang melakukan nya, kau benar-benar memancing amarah ku." Kata Stiven.
"Kau punya dua pilihan hubungi tuan mu atau besi panas ini menancap di milik mu." Ucap Stiven.
Sontak Tiara mengambil hp nya dan menghubungi Abraham untuk meminta nya bertemu.
"Ada apa sayang, aku sedang ahhh." Tanya Abraham.
"Aku ingin bertemu sekarang juga." Jawab Tiara.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba, dimana kita bertemu tapi setelah aku selesai melakukan nya." Ucap Abraham.
"Aku mau sekarang, nanti aku mengirimkan lokasi nya, jika kau tidak datang aku tidak akan mau bekerja sama dengan mu lagi." Tiara langsung mematikan sambungan telepon itu.
"Sudah puas kau." Teriak Tiara.
"Selesai tugas kalian." Stiven mengambil kembali HP Tiara dan pergi meninggalkan markas penyiksaan itu.
"Minggir aku mau bertemu dengan jalang kesayangan ku." Ucap Abraham.
Tak lama Abraham menerima alamat tempat dimana dia ia akan bertemu dengan Tiara, Abraham membersihkan diri nya terlebih dahulu baru lah dua langsung berangkat ke sana tanpa pengawalan yang ketat.
"Dad aku takut, bukan nya dia mafia." Ucap Vino.
"Kau bodoh sekali, kita memancing nya keluar dari kandang nya, jika kita menyerangnya langsung aku tidak tau seberapa kuat pasukan nya, tapi jika kita pancing keluar kita sangat mudah menjatuhkan nya." Kata Stiven.
Pasukan Stiven sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Abraham begitu juga dengan Vino dan Stiven.
"Jangan banyak tanya." Jawab Stiven.
Tak lama mobil Abraham sudah terlihat dari kejauhan, tiba-tiba Vino melihat seseorang yang ia kenal.
"Nathan." Ucap Vino.
"Dad Nathan dad." Vino berlari mengejar seseorang itu.
"Vino tunggu, kau akan merusak semua nya." Ucap Stiven.
"Putar balik ini jebakan." Teriak Abraham yang melihat Vino berlari.
"Ah Vino." Terik Stiven dan langsung mengejar Vino, karena rencana nya gagal total.
__ADS_1
"Nathan, nat." Teriak Vino yang kehilangan jejak seseorang itu.
"Vino apa maksud mu, kau merusak semua rencana kita." Ucap Stiven.
"Dad aku melihat Nathan, Nathan tadi ada di sini." Kata Vino.
"Stop Vin, Nathan sedang kuliah di Korea, apa kau lupa."
"Tidak dad, aku benar-benar dapat merasakan jika itu anak ku, aku tidak melihat nya dengan jelas." Ucap Vino.
Stiven mengambil hp nya dan langsung menghubungi cucu nya Nathan.
"Halo kek, ada apa." Tanya Nathan.
"Kau dimana." Tanya balik Stiven.
"Kek kakek cuma menanyakan itu, aku sedang ada kelas." Jawab Nathan.
"Kau bicara sendiri dengan ayah mu ini." Ucap Stiven
"Halo nat, kau dimana." Tanya Vino.
"Ayah aku di Korea, apa maksud mu yah." Jawab Nathan.
"Ya sudah lanjut belajar mu, segera lah pulang ayah merindukan mu." Ucap Vino.
"Bagaimana kau puas, sekarang gara-gara kau kita gagal." Stiven pergi meninggalkan Vino.
"Dad tadi aku merasakan hal yang berbeda, dia seperti Nathan." Vino mengejar Stiven.
"Sial aku di jebak, apa Tiara sudah tertangkap." Batin Abraham.
__ADS_1
"Aku harus mencari tempat baru dan menyusun rencana baru, Stiven sudah kembali ke Indonesia ini sangat berbahaya."