
"Sayang, apa kita bisa bermain sebentar." Tanya Calvin.
"Tidak boleh, ini masih sore, lagi pula bukan nya kita akan ke makan mommy mu."
"Sebenar saja sayang, aku harus rajin bermain dengan anak ku." Kata Calvin.
"Tidak sayang, kamu mau anak kita tersakiti jika terus bermain tanpa henti."
"Tidak mau, berarti aku tidak boleh meminta nya." Tanya Calvin.
"Benar, harus aku yang meminta nya." Jawab Nila.
"Hmmm baiklah, nanti malam kamu harus meminta nya."
"Tidak seperti itu juga konsep nya sayang, sudah ayo bersiap jangan biarkan ayah menunggu kita terlalu lama." Ucap Nila.
"Cium." Calvin memajukan bibir nya.
"Cup." Nila mengecup bibir Calvin.
Sementara itu Alka juga sedang bersiap-siap, ia tidak memperbolehkan Amanda ikut karena Amanda sedang hamil, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Sayang, Nila saja ikut. Dia juga sedang hamil, kenapa aku tidak boleh." Tanya Amanda.
"Tidak ada alasan sayang, Nila ikut karena Calvin, pasti di sana Calvin sangat terpukul, dan hanya Nila yang dapat menenangkan nya." Jawab Alka.
"Baiklah-baiklah aku tidak akan ikut, kamu hati-hati." Ucap Amanda sambil mengecup wajah Alka.
__ADS_1
"Istri ku benar-benar menggemaskan." Alka juga mengecup wajah Amanda.
Setelah selesai bersiap Alka langsung turun ke ruang keluarga berkumpul bersama Vino, ia pikir Calvin dan Nila telah selesai bersiap ternyata baru Vino yang menunggu nya.
"Dimana mereka pah." Tanya Alka.
"Belum datang, tunggu-tunggu kau memanggil ku pah, kenapa tidak ayah seperti yang lainnya."
"Calvin melarang ku, hanya dia yang boleh memanggil mu ayah." Ucap Alka.
"Anak itu, hahaha ingatan nya sudah kembali lagi, kau jadi tidak bisa memerintah diri nya seenak mu. Ingat kata-kata nya aku tidak mendapat kan perintah dari siapapun." Kata Vino.
"Ingatan nya sudah kembali, sifat seenak dan menyebabkan nya kembali lagi. Masalah panggilan saja aku harus berdebat dengan nya."
"Kau harus banyak mengalah, usia nya masih belum begitu dewasa. Dia juga banyak tekanan dari berbagai pihak, kau sudah lama bersama ku, jadi jangan iri atau salah paham jika aku lebih memperhatikan nya." Ucap Vino.
Tak lama orang yang mereka bicarakan datang juga, Calvin sengaja memakai kaca mata hitam karena tidak ingin memperlihatkan rasa sedih nya di sana.
"Sudah siap yah." Tanya Calvin.
"Sudah, ayo kita berangkat." Ucap Vino.
"Kau lama sekali." Kata Alka.
"Kau marah karena aku lama." Calvin menyentuh pundak Alka.
"Sabar Alka, abaikan saja sifat nya yang telah kembali." Batin Alka.
__ADS_1
Kali ini mereka hanya memakai satu mobil saja karena tidak banyak yang ikut hanya mereka berempat yang pergi ke makam Amel.
Sesampainya di sana Vino membawa Calvin ke makam keluarga nya, karena dalam kejadian itu bukan hanya Amel saja yang tewas. Kedua kakak angkat nya juga sudah tidak bernyawa saat Stiven dan Iqbaal datang menyelamatkan mereka di Eropa pada waktu itu.
Calvin benar-benar tidak menyangka kedua kakak angkat nya juga sudah tidak ada, dan ia merasa sudah sebatang kara saat ini. Tangan nya memeluk erat Nila, sesuai yang Vino katakan tadi tidak ada air mata di sini.
"Sayang, jangan menahan nya." Ucap Nila.
"Aku tidak papa." Kata Calvin.
Calvin tidak membuka kaca mata nya untuk menutupi mata nya yang pasti sudah memerah menahan air mata yang ingin lepas sedari tadi.
"Kau kuat Calvin, tunjukkan pada orang tua mu jika anak yang mereka banggakan anak yang kuat." Ucap Vino sambil mengusap rambut Calvin.
"Sudah ayo kita pulang." Kata Calvin yang tidak kuat berlama-lama di tempat ini.
"Sudah Calvin, hanya sebentar." Tanya Alka.
"Ah kau banyak tanya." Jawab Calvin.
"Sudah, dia sudah bersusah paya menahan air mata nya." Bisik Vino.
Di dalam perjalanan pulang Calvin memilih tidur untuk mengenang kan perasaan nya. Pelukan dari Nila benar-benar mampu membuat nya terlelap dengan cepat.
"Apa Calvin tidur." Tanya Vino.
"Dia sudah terlelap sedari tadi." Jawab Nila.
__ADS_1
"Keluarga nya saat ini hanya kita, jangan sampai dia merasa sendiri, walaupun ingatannya telah kembali dia tetap harus kita awasi." Ujar Alka.