Takdir Cinta Bella

Takdir Cinta Bella
Episode 152


__ADS_3

"Maaf Piter, aku tidak sengaja, kau masih marah pada ku," ucap Calvin.


"Kenapa kau tidak memakaikan ku pakaian," tanya Piter.


"Aku lelah, membawa mu yang mabuk pulang, membersihkan mu, harusnya kau berterimakasih pada ku," jawab Calvin.


"Ya ya ya Terima kasih anak baik, oh iya aku juga mau berterimakasih pada mu, uang yang kau kirim sangat banyak," ucap Piter.


"Aku akan memberikan mu uang, asalkan jangan kau membeli barang haram, kau pernah memakainya," tanya Calvin.


"Aku baru ingin mencoba nya," jawab Piter.


"Awas saja kau sampai memakainya, aku akan menarik kembali uang yang telah aku kirim, kau tau semua itu akan merugikan mu, berhenti berbuat hal yang menghancurkan masa depanmu," ucap Calvin.


Piter tersenyum saat Calvin begitu perhatian pada nya, orang tua nya saja tidak pernah memikirkan masa depan nya. Sedangkan Calvin orang yang baru kenal dengan nya sudah berpikir jauh tentang kehidupan nya.


"Terima kasih Calvin, kenapa kau begitu perhatian pada ku, tapi pada Rebecca kau seperti menjaga jarak," tanya Piter.


"Kita satu ayah, kau saudara ku aku ingin yang terbaik untuk orang di sekitar ku. Masalah adik mu aku memang menjaga jarak pada wanita, aku sangat menghargai istri ku. Apalagi saat ini ia sedang mengandung anak ku," jawab Calvin.

__ADS_1


"Kau memang laki-laki yang sempurna," ucap Piter.


Erwin terkejut saat membuka hp nya, ia mendapatkan kiriman 10 M dari seseorang. Tak lama ia tersadar jika yang mengirim uang itu adalah anak nya sendiri Calvin. Karena siapa lagi yang mau mengirim uang sebanyak itu pada nya.


Calvin dan Piter keluar dari kamar untuk sarapan pagi, Calvin sudah mulai terbiasa hidup bersama keluarga dari ayah kandung nya.


"Terima kasih sayang," Erwin langsung memeluk Calvin.


"Untuk apa yah," tanya Calvin.


"Uang yang kau kirim, itu sangat banyak untuk apa kau mengirim uang sebanyak itu," kata Erwin.


"Itu untuk mu yah, aku anak mu sudah seharusnya aku memberikan apa yang aku punya, minta lah lagu jika uang itu sudah habis, jangan pernah merasa ada jarak di antara kita," ucap Calvin.


Sesampainya di rumah Erwin Vino langsung di sambut oleh Calvin, karena sebelum berangkat ia sudah menghubungi Calvin terlebih dulu.


"Ayah, aku sangat merindukanmu," ucap Calvin sambil memeluk Vino.


"Kau tetap saja manja pada ku, sudah siap kembali bertemu dengan istri mu," tanya Vino.

__ADS_1


"Tentu aku sudah tidak sabar mendapat jatah sebelum dia melahirkan," jawab Calvin.


"Otak mu benar-benar sudah tercemar," kata Vino.


Siang itu Calvin kembali berpisah dengan ayah nya, ia ingin sekali membawa ayah nya ikut ke Indonesia dan memberikan pekerjaan yang layak di sana, ia tau jika ayah nya hanya bekerja di perusahaan kecil. Tetapi untuk mengatakan hal itu pada Vino ia belum mempunyai nyali.


Calvin membawa Vino ke dapur untuk membicarakan niat nya, Vino sedari tadi sudah mengerti jika Calvin ingin mengatakan sesuatu pada nya.


"Ayah ini permintaan terakhir ku di sini, aku janji. Tolong bawa ayah ku dan keluarga nya bersama kita, beri dia rumah yang lebih besar dan pekerjaan yang tetap yah, aku mohon kau bisa memakai uang ku. Aku sangat tidak tega melihat nya seperti ini, aku anak tertua nya yah, seharusnya aku memberikan kehidupan yang layak untuk nya," ucap Calvin.


"Kau benar-benar terlalu baik Calvin, dan kau tau apa yang tidak bisa aku tolak, yaitu permintaan orang yang tulus seperti mu," kata Vino.


Di Indonesia Marvin benar-benar mengurus Nathan sendiri, ia tau ini adalah hukuman dari ayah nya, Bunda nya bukan tidak ingin membantu nya tetapi sudah pasti di larang oleh Vino.


Hari ini Nathan sudah di perbolehkan pulang, meskipun harus memakai kursi roda untuk mempermudah aktifitas nya, Citra yang ikut menjemput Nathan tidak mengambil kursi roda dari rumah sakit karena di rumah masih ada kursi roda bekas Vino dulu.


Sesampainya di rumah Marvin masih bertanya-tanya dalam hati nya kenapa ayah nya mempunyai kursi roda.


"Aku sudah seperti ayah belum bun," tanya Nathan.

__ADS_1


"Buah tidak jatuh jauh dari pohon nya, ayah mu dulu juga seperti mu, tapi beda nya dia mengalami lumpuh dan harus berjuang keras untuk bisa sembuh," jawab Citra.


"Dulu ayah lumpuh bunda," tanya Marvin.


__ADS_2