
"Alka aku pinjam anak mu," ucap Calvin.
"Mana mungkin aku memberikan nya pada mu, tunggu saja anak mu lahir," kata Alka.
"Kau sangat pelit, ayah aku ingin menggendong anak itu." Calvin mendekati Vino dan merengek di depannya.
"Jangan manja Calvin, Alka tidak ingin memberikan nya, lagi pula anak itu masih terlalu kecil untuk kau gendong. Alka hanya takut terjadi apa-apa pada anak nya." Vino mengusap rambut Calvin.
Calvin yang kesal karena tidak di perbolehkan menggendong bayi Alka yang menggemaskan, ia berjalan keluar kamar itu dan langsung masuk ke dalam ke kamar nya.
"Ada apa dengan nya." Nila berjalan mendekati Calvin yang datang dengan wajah di tekuk.
"Kenapa sayang," tanya Nila sambil mengusap wajah Calvin.
"Aku sangat kesal, mereka tidak memperbolehkan menggendong bayi Alka," ucap Calvin.
"Sayang jangan marah seperti itu, kamu harus mengerti mereka. Nanti ketika anak kamu lahir kamu juga seperti mereka," kata Nila.
"Sayang jatah yah, malam ini tidak usah, sekarang saja." Calvin menunjukkan wajah yang sangat imut pada Nila.
__ADS_1
"Jatah apa, kamu tidak takut perut ku akan meletus saat kamu tusuk," Tanya Nila.
"Hehehe... Kamu ada-ada saja, mana mungkin perut mu meletus, milik ku besar mana mungkin jika meletus, kalau kecil seperti jarum baru lah akan meletus," Jawab Calvin.
"Kamu tau saja, jangan sekarang ya, nanti malam saja aku tidak suka berkeringat, akan lengket dan aku harus mengganti kasur lagi," Ucap Nila.
"Ah aku sangat kesal, semua tidak boleh, jatah tidak boleh, menggendong bayi Alka tidak boleh." Calvin membanting diri nya ke atas kasur dan menutup wajah nya dengan selimut.
Nila terkekeh melihat kelakuan Calvin yang semakin hari semakin kelanak-kanakan. Nila sangat bingung bagaimana cara merubah Calvin agar lebih dewasa lagi, ia takut hal ini akan berdampak buruk pada Calvin dan bayi nya nanti, apalagi Calvin sangat cemburuan pada sesuatu hal.
Nila berjalan keluar kamar nya untuk menemui Vino, ia ingin minta pendapat dari ayah nya yang ia yakin memiliki solusi dari masalah ini.
"Aku pikir ayah dapat memberikan ku masukan, jika kita terus memanjakan nya itu akan membuat nya bergantung pada kita, dan dia akan menganggap dengan merajuk semua hal yang ia inginkan bisa terkabul kan," ucap Nila.
Vino tanpa berpikir sesaat, usia Calvin sudah menginjak 21 tahun tetapi sifat nya benar-benar seperti anak-anak. Semua yang di katakan Nila juga benar apa adanya.
"Begini saja, ayah akan berbicara dengan nya, biasanya dia akan mendengarkan apa yang ayah katakan, "kata Vino.
Setelah berbincang cukup banyak dengan Nila, Vino memutuskan untuk langsung menemui Calvin yang sedang ngambek di dalam kamar.
__ADS_1
"Hey pakai baju mu, nanti masuk angin." Vino menepuk pantat Calvin.
"Ada apa," tanya Calvin sambil membalik badan nya.
"Kau kenapa lagi, jangan seperti ini, pakaian mu berserakan di lantai." Vino menarik selimut yang menutupi tubuh Calvin.
Dugaan Vino benar adanya, Calvin tidak memakai apapun. Ia bahkan tidak malu saat Vino melihat adik nya. "Calvin kenapa dengan mu, kenapa kau seperti ini, ayah sangat tidak suka."
"Ayah aku hanya merasa panas, tubuh ku gatal," ucap Calvin.
Tangan Vino bergerak mengecek suhu tubuh Calvin yang memang terasa cukup hangat, tubuh nya juga bentol merah-merah seperti tergigit nyamuk.
"Kau sakit apa, kenapa tidak bilang ke ayah atau Nila," Tanya Vino.
"Aku tidak tau yah, sebenarnya sejak tadi begini, tapi aku cuekin, beberapa menit yang lalu terasa cukup panas dan mulai bentol merah," jawab Calvin.
Vino memilih memanggil dokter untuk anak manja ini, tidak sakit saha sudah sangat manja apa lagi saat diri nya sakit, akan jauh lebih manja dari biasanya.
Sementara itu di Marvel grup, perusahaan milik Calvin yang sedang di tangani Stiven sedang ada kekacauan, Stiven kembali terbang ke Eropa untuk melihat apa yang terjadi di sana.
__ADS_1