
"Sabar Calvin, bukan nya masalah seperti ini sudah biasa untuk mu."
"Memang sudah biasa, tapi jika terus begini, pasti membuat ku pusing juga. Fokus ku juga pasti akan terbagi dengan yang lainnya," kata Calvin.
"Sudah kau fokus pada istri mu yang sedang hamil, masalah ini aku dan daddy ku yang mengurus nya. Bukan nya begitu dad," ucap Vino.
"Tidak yah, aku sudah sangat merepotkan ayah, aku tidak mau itu terjadi," kata Calvin.
"Sudah jangan di bahas lagi, kita selesai kan bersama," ucap Stiven.
Di sebuah kamar, Nathan dan Marvin masih fokus dengan Video yang Marvin tunjukkan pada Nathan. Ia ingin membuat Nathan cepat cepat menikah, karena Marvin pikir jika Nathan menikah beban yang Nathan pikul akan berkurang.
"Kau hebat sekali Marvin," kata Nathan.
"Hahaha sudah pasti lah, sosis mu sebesar itu juga kan," tanya Marvin.
"Kita kembar sudah pasti sama, tapi agak besar sikit lagi lah. Hahaha kenapa kita malah membahas sosis," jawab Nathan.
__ADS_1
"Sudah aku ingin keluar," kata Marvin
"Kirim video nya," ucap Nathan.
"Tidak perlu, kau buat saja video sendiri," kata Marvin dan pergi meninggalkan kamar Nathan.
Marvin pergi ke minimarket untuk membeli pengaman, stok pengaman nya sudah habis tidak tersisa. Ia harus menyetok nya dengan banyak karena setiap hari Marvin menggunakan nya.
Di kamar setelah kepergian Marvin. Nathan memberanikan diri untuk menelpon Fiyya, ia tidak pernah menghubungi Fiyya saluran telepon sebelum nya. Hanya pesan suara atau melalui wa saja.
"Halo," ucap Fiyya.
"Eh ini kamu, ah maaf aku tidak tau. Kenapa tida melalui wa saja. Ini nomor baru kamu ya," tanya Fiyya.
"Tidak bukan nomor baru ku, tapi ini nomor khusus untuk menghubungi seseorang," jawab Nathan.
"Oh begitu, apa kabar Nathan, eh kenapa aku bertanya kabar mu, bukannya kita cukup sering chatan," kata Fiyya.
__ADS_1
"Hahaha aku sangat baik, apalagi saat mendengar suara mu. Tidak papa Fiyya, aku pun bingung harus membicarakan apa jika teleponan seperti ini."
Nathan dan Fiyya mulai berbincang dengan santai. Mereka berdua mulai saling mengerti satu sama lainnya. Hal itu membuat Fiyya semakin nyaman dengan Nathan begitu juga dengan Nathan pada Fiyya.
"Bagus sayang dekati Nathan," ucap seseorang siapa lagi jika bukan ayah Fiyya.
Jhon ayah Fiyya, yang sedang bermain-main dengan keluarga Vins. Bukan hanya keluarga Vins tetapi juga pada Calvin karena Calvin target utama nya. Calvin dan Nathan terkenal cukup dekat, mereka berdua juga pewaris dua perusahaan besar, mau bagaimana pun jika berurusan dengan salah satu dari mereka pasti akan saling terkait. Apalagi Marvel grup masih di bawa nauangan Vins grup untuk sementara waktu.
"Seperti nya dia menyukai ku yah," kata Fiyya.
"Yayaya kamu benar sayang," ucap Jhon.
"Jadi bagaimana selanjutnya yah," tanya Fiyya.
"Ya kamu lanjutkan sampai dia benar-benar mencintaimu sayang, setelah itu bimbing dia dan Calvin masuk ke perangkap kita."
"Siap yah."
__ADS_1
Fiyya dan ayah nya sudah banyak mempersiapkan hal yang tidak bagus. Mereka tidak tau bagaimana perasaan Nathan yang sangat bahagia saat ini, jika Nathan tau semua nya, pasti hati nya akan hancur. Mereka juga tidak berfikir panjang telah berurusan dengan keluarga Vins.
Note :Mungkin cerita ini sampai ke kenapa Nathan marah dengan Calvin dan daddy nya. Untuk kelanjutan mau di buat Novel baru agar tidak terlalu panjang di sini. See you