
Keesokan harinya Calvin dan Sisil bangun secara bersamaan, mereka berdua saling menatap seperti dua manusia yang memiliki ikatan yang kuat.
"Sayang," ucap Calvin.
"Apa maksud mu," tanya Sisil.
"Aku tidak boleh memanggil mu sayang," tanya Calvin.
"Untuk apa kau memanggil ku sayang, kita baru saja kenal," tanya Sisil.
"Karena aku ingin, kau sudah aku beli, aku ingin bertemu dengan tuan mu," jawab Calvin.
"Tuan ku tidak bisa sembarangan kau temui," kata Sisil.
"Aku ingin memiliki ku seutuhnya, tidak ada yang boleh menyentuh mu selain aku."
"Kenapa kau mengeluarkan di dalam aku bisa hamil, aku sedang masa subur ku," tanya Sisil.
"Itu yang aku mau, kamu hamil anak ku agar aku bisa selalu bersama mu," jawab Calvin.
"Sekarang aku tanya, kamu mau tidur dengan sembarangan pria dengan bayaran yang sedikit apa dengan ku dengan bayaran yang sangat mahal, jika kau menikah dengan ku, kamu akan mendapatkan banyak harta ku."
__ADS_1
"Aku tidak mau menikah dengan mu, tapi aku memilih hanya tidur dengan mu dari pada banyak pria," ucap Sisil.
"Bagus sayang, aku suka itu," kata Calvin.
Sisil masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri nya, setelah itu ia berpamitan pada Calvin karena ia harus pulang karena sudah pasti tuan nya sedang mencari nya.
"Nanti malam ayah ku datang, jadi datang lah ke sini," ucap Calvin.
"Malas perjanjian kita dua hari sekali," kata Sisil sambil berjalan pergi meninggalkan Calvin di kamar itu.
Vini dan Marvin sedang bersiap-siap karena mereka berdua akan terbang ke New York mengantarkan Marcel pada ayah nya.
"Bye bye cucu oma, datang lah kembali dengan ibu yang menyayangimu," ucap Citra sebelum melepaskan kepergian Marcel.
"Jangan menggombal sayang, kamu tidak cocok menjadi Dylan. Aku tidak akan merindukan ku sayang," kata Wulan.
"Aku ingin ikut tapi aku tidak bisa, maaf yah," ucap Nathan.
"Iya Nat, kau harus belajar agar menjadi lebih baik lagi, kami berangkat dulu."
Setelah berpamitan mereka berdua langsung terbang karena pesawat akan segera lepas landas.
__ADS_1
Rintik-rintik hujan membasahi kota New York, orang-orang berlari mencari tempat berlindung agar tidak basah terkena air hujan. Termasuk Sisil yang langsung membeli payung karena ia harus buru-buru naik bus berikut nya.
"Kenapa tiba-tiba hujan begini, aku harus cepat pulang," batin Sisil.
Walaupun Sisil mendapatkan banyak uang, Sisil tidak bisa memakai uang itu sebelum di pegang oleh tuan nya.
Sesampainya di rumah Sisil langsung memberikan uang yang ia dapatkan pada tuan nya.
"Selamat datang, Sisil kau mendapatkan pelanggan," tanya Abraham.
"Ia tuan, saya mendapatkan nya," jawab Sisil.
"Bagus setelah ini aku akan memberikan mu tugas untuk menghancurkan seseorang, aku sudah menolong mu sebaiknya kau menuruti kemauan ku," ucap Abraham.
Malam hari telah tiba setelah menghabiskan waktu kurang lebih 22 jam perjalanan akhirnya Vino dan Marvin sampai di kota New York.
"Ayah," teriak Calvin yang menjemput mereka di bandara.
"Itu Calvin yah," kata Marvin sambil berjalan mendekati Calvin.
"Uwekkkk," tangis Marcel saat di peluk oleh Calvin.
__ADS_1
"Cup cup cup diam sayang, anak daddy tidak boleh cengeng," ucap Calvin
Notes : Mohon maaf kalau cerita nya membosankan, jika kalian sudah tidak suka tidak papa, tapi tlong jangan hate komen/ komen buruk