
"Kamu juga merasakan nya sayang." Tanya Vino.
"Iya aku merasakan apa yang kamu rasakan, awal nya dia marah-marah pada ku, tapi setelah aku mulai menyentuh nya pandangan nya ke pada ku benar-benar berbeda." Jawab Citra.
"Kita perbaiki dulu hidup nya, dia benar-benar sudah hancur. Setelah dia menjadi lebih baik dan hubungan kita pada nya baik aku akan melakukan tes DNA, semoga saja dia benar-benar anak kita dan dia dapat menerima kita seperti kita menerima dia." Ucap Vino.
"Aku ikut dengan mu saja, aku langsung yang akan turun tangan merawat nya." Kata Citra.
Malam hari nya, Marvin belum juga keluar kamar untuk makan malam. Citra sedikit khawatir dengan Marvin dan memutuskan untuk menjemput Marvin ke kamar nya.
"Mau kemana." Tanya Vino.
"Mau melihat Marvin, dia pasti belum bangun." Jawab Citra.
Perhatian Citra pada Marvin membuat semua orang sedikit terkejut tetapi mereka belum mencurigai apapun kecuali Nathan yang mulai terbakar api cemburu.
"Pantas saja dia belum bangun." Ucap Citra.
"Marvin bangun lah, hey ayo makan malam." Citra sedikit menggoyang kan tubuh Marvin agar cepat bangun.
"Hmmm bunda." Ucap Marvin yang pertama kali nya menyebut Citra Bunda.
Hati Citra terasa bergetar saat Marvin memanggilnya Bunda, walaupun ia tau jika Marvin tidak sengaja mengatakan hal itu.
"Eh maaf, ada apa." Tanya Marvin.
"Kamu belum makan malam ayo cepat mandi aku tunggu." Jawab Citra.
"Tidak perlu, aku akan makan setelah kalian selesai makan." Kata Marvin.
__ADS_1
"Tidak, kamu harus makan sekarang. Bunda tunggu." Ucap Citra dengan tegas.
"Aku belum mandi, apa boleh aku mandi terlebih dahulu." Tanya Marvin.
"Silahkan, apa mau bunda mandikan."
"Tidak itu sangat memalukan." Ucap Marvin.
"Marvin panggil seperti tadi bunda." Kata Citra.
"Bagaimana jika mamah saja, aku tidak terbiasa."
"Itu juga tidak buruk, jangan lama-lama mamah menunggu mu." Ucap Citra.
Dua puluh menit berlalu Marvin selesai mandi dan memakai pakaian nya. Citra membantu Marvin merapihkan rambut dan baju Marvin, tindakan Citra benar-benar membuat Marvin sangat senang. Ini pertama kali nya ia mendapat perhatian seperti ini oleh seseorang.
"Maaf sayang, aku menunggu nya." Jawab Citra.
Citra mengambil piring dan mengisinya dengan berbagai macam lauk pauk, lalu menyerah nya pada Marvin.
"Makan yang banyak." Ucap Citra.
"Maaf apa ini pedas." Tanya Marvin.
"Tidak apa kamu tidak bisa memakan makanan pedas."
"Iya, aku tidak bisa memakannya. Terimakasih mah." Ucap Marvin yang membuat semua orang kembali terkejut.
Vino tersenyum melihat kedekatan Citra dengan Marvin, padahal saat bersama nya Marvin tidak pernah berkata lembut dan selalu marah-marah, berbeda ketika bersama Citra yang menjelma menjadi Marvin yang benar-benar lembut.
__ADS_1
"Nathan, Marvin aku belum menerima penjelasan tentang perkelahian kalian tadi." Ucap Vino.
"Sudah mereka berdua hanya perlu berkenalan jangan mempermasalahkan nya." Kata Citra.
"Berkenalan dengan nya, aku tidak sudi." Ucap Nathan.
"Nathan jaga bicara mu, dia yang menyelamatkan ayah, ayah tidak akan ada di sini jika tidak ada Marvin." Ujar Vino.
"Apa masalah nya dengan ku, kenapa dia sangat membenci ku." Batin Marvin.
Mata Nila terus saja melihat ke arah Marvin, ia tidak mengerti kenapa ia enggan melepaskan pandangan itu. Calvin yang menyadari itu langsung terbakar api cemburu, ia memalingkan wajah Nila ke arah yang lain.
"Berhenti menatap nya sayang, atau aku akan menghukum mu." Bisik Calvin.
Selesai makan Citra mengajak Marvin ke kamar Nathan untuk memilih pakaian untuk nya, setidaknya untuk besok pagi sebelum mereka belanja pakaian baru.
"Bunda, kenapa bunda sangat perhatian pada nya." Ucap Nathan.
"Kamu cemburu sayang." Tanya Citra.
"Cemburu dengan nya, dia bukan level ku." Jawab Nathan.
"Ya sudah kalau begitu, jangan seperti ini, sudah ayo bantu bunda memilih pakaian untuk Marvin."
"Tidak mau bunda saja, aku ingin bersama ayah." Tolak Nathan.
"Maafkan Nathan Marvin, dia memang seperti itu sangat manja dan mudah cemburu pada orang lain." Kata Citra.
"Iya mah, aku mengerti." Ucap Marvin.
__ADS_1