
"Aku ingin bertemu dengan mereka." Ucap Marvin.
"Hmmm bagaimana ya, kau bisa meminta ayah agar kakek dan nenek datang." Kata Nathan.
"Apa bisa nat." Tanya Marvin.
"Bisa kau kan anak kesayangan ayah." Jawab Nathan.
"Jangan mulai nat, tapi mungkin saat ulang tahun kita mereka akan datang."
"Nah iya, yang lainnya juga akan datang mereka akan terbang dari Korea hanya untuk bertemu dengan kita, tapi tidak semua si, mungkin hanya beberapa." Ucap Nathan.
"Aku tidak sabar bertemu dengan mereka." Kata Marvin.
Abraham masih tidak bisa kemana-mana, ia hanya bisa berdiam diri di tempat persembunyian nya bersama para pasukan nya, Stiven gencar-gencaran mencari keberadaan nya itu yang membuat nya hanya bisa berdiam diri.
"Ayah." Ucap Elisa yang baru saja pulang.
"Kau tidak pulang kemarin malam." Tanya Abraham.
"Hehehe maaf yah, tapi aku membawa kabar baik untuk mu." Ucap Elisa.
"Apa itu jangan bilang kau hamil anak orang." Tanya Abraham.
"Tidak yah, aku akan hamil anak kak Marvin." Jawab Elisa.
"Bagaimana kau bisa hamil anak nya, sedangkan kau saja tidak tau keberadaan nya." Ucap Abraham.
__ADS_1
"Aku bertemu dengan kak Marvin yah, itu yang ingin aku katakan pada mu."
"Elisa apa benar kau bertemu dengan nya? Mana dia kenapa tidak kau bawa pulang." Tanya Abraham yang sangat senang karena orang yang sangat ia cari berhasil Elisa temukan.
"Aku tidak bisa membawa nya pulang, dia sudah bersama keluarga baru nya, dan yah apa kau tau dia memiliki adik kandung." Ucap Elisa.
"Apa dia sudah bertemu dengan keluarga baru nya, siapa nama adik kandung nya." Tanya Abraham.
"Hmmm siapa ya, aku sedikit lupa, Nathan yah, nama nya Nathan." Jawab Elisa.
"Sial dia sudah bertemu dengan keluarga nya, apa dia sudah tau semua nya, orang yang ingin aku jadikan senjata malah kembali sendiri ke keluarga kandung nya." Batin Abraham.
"Aku ingin bersama kak Marvin yah."
"Bagaimana bisa kau bersama nya, kak saja sudah kehilangan jejak nya lagi." Ucap Abraham.
"Tenang yah, aku sudah mendapatkan nomor telepon nya, sebelum pergi dia memberikan ku nomor telepon yang baru." Kata Elisa.
"Bagus Elisa, bawa kakak ku pulang dan aku akan mencuci otak nya kembali agar ia membenci keluarga nya saat ini, banyak cara untuk membuat nya bisa kembali pada kita." Batin Abraham.
Elisa masuk ke dalam kamar nya dan langsung menghubungi nomor Marvin. Marvin sedang berjalan menuju kamar nya, saat telepon nya berdering Marvin langsung mengangkat nya.
"Hallo siapa ya." Tanya Marvin.
"Kak ini aku Elisa." Jawab nya.
"Elisa." Marvin langsung mematikan sambungan telepon itu dan memblokir nomor Elisa.
__ADS_1
"Maaf Elisa aku tidak bisa bertemu dan berhubungan dengan mu lagi." Ucap Marvin.
Elisa sangat kesal ketika Marvin langsung mematikan sambungan telepon itu. Saat ingin menghubungi nya lagi nomor itu sudah tidak bisa di hubungi lagi.
"Kau pikir aku akan menyerah kak, tidak masih banyak cara lainnya." Ucap Elisa.
"Mas." Ucap Wulan saat melihat Marvin masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, kamu kenapa." Tanya Marvin.
"Aku hanya terkejut." Jawab Wulan dan langsung mempercepat gerakan nya agar Marvin tidak melihat jika diri nya sedang berganti pakaian.
"Oh dia baru selesai mandi." Batin Marvin.
Marvin mendekati Wulan dan langsung menarik Wulan ke atas kasur. Saat ini Wulan berada di atas tubuh Marvin.
"Mas." Wulan langsung menutup bagian atas nya.
"Kenapa di tutup, itu salah kamu kenapa pakai pakaian di ruang ganti." Tanya Marvin sambil membuka penutup di itu.
"Untung saja Wulan sudah memakai celana nya jadi Marvin tidak melihat bagian bawa nya.
"Wow milik mu besar sekali." Ucap Marvin.
"Mas aku malu." Wulan kembali menutup nya.
Marvin menepis tangan Wulan. "Aku suamimu untuk apa kamu malu, aku sangat suka melihat pemandangan ini." Ucap Marvin.
__ADS_1
"Mas aku malu." Wulan kembali menutup nya, ia dapat melihat tatapan Marvin sudah berubah menjadi tatapan mesum.
"Boleh aku menyentuh nya." Tanya Marvin yang sama sekali tidak mengalihkan pandangan mata nya ke benda itu.