
"Aku tidak akan pernah mau memiliki saudara seperti dia, apa dia tidak memiliki perasaan." Batin Marvin.
Marvin mulai menyusun semua pakaian yang ia beli bersama Citra tadi, ada tersirat perasaan yang sangat bahagia di hati Marvin saat melihat baju-baju pilihan dari Citra, saat ini ia benar-benar mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.
Setelah selesai menyusun pakaiannya, Marvin berjalan melewati Nathan masuk ke dalam kamar mandi, perkataan Nathan tadi sangat menusuk hati nya padahal diri nya sudah berniat baik pada Nathan.
"Cih terserah, apa untung nya bagi ku." Nathan pergi meninggalkan kamar itu karena gerah dengan tingkah laku Marvin.
Setelah kepergian Nathan, Marvin kembali merapihkan kamar itu seperti semula, ia sangat tidak biasa dengan kamar yang berantakan seperti ini. "Apa yang habis mereka semua lakukan, kenapa sampai seberantakan ini." Batin Marvin.
Nathan berjalan menuju Calvin dan Alka yang sedang duduk berdua di ruang keluarga.
"Nat milik ku." Ucap Calvin yang makanan nya di ambil tiba-tiba oleh Nathan.
"Apa aku tidak boleh meminta nya." Tanya Nathan.
"Ambil sendiri di kulkas itu milik ku." Jawab Calvin.
"Sudah kalian masalah makanan saja di rebut kan." Ujar Alka.
Karena waktu sudah sangat larut mereka semua kembali masuk ke dalam kamar, sebenarnya Nathan sangat malas jika harus tidur bersama Marvin tapi apa boleh buat bunda nya yang meminta nya.
__ADS_1
"Aku tidur di sofa, kau bisa tidur di tempat mu, tanpa gangguan ku." Ucap Marvin saat melihat Nathan masuk.
"Tidak perlu, tubuh mu akan sakit jika kau tidur di sana, lagi pula kasur ini sangat besar lebih dari cukup untuk kita berdua." Kata Nathan.
"Terimakasih." Ucap Marvin.
"Oh iya maaf jika perkataan ku tadi menyakiti hati mu, aku tidak bermaksud mengatakan nya." Kata Nathan sebelum memejamkan mata nya.
Pukul 2 dini hari Marvin bangun dari tidur nya saat mendengar suara dan suara itu berasal dari orang di samping nya.
"Apa mati lampu, gelap sekali." Batin Marvin.
Marvin mengambil hp nya yang berada di atas meja, setelah mendapat kan hp nya Marvin menghidupkan flash dan mengarahkan nya pada Nathan.
"Silau." Ucap Nathan dengan suara yang serak.
"Kau sakit Nat." Tanya Marvin sambil menyentuh wajah Nathan.
"Tidak aku sedikit demam." Jawab Nathan.
"Mati lampu Nat, bagaimana aku bisa mengambil kan mu obat." Ucap Marvin.
__ADS_1
"Tidak perlu, terimakasih." Nathan kembali memejamkan mata nya.
Marvin sama sekali tidak tega melihat Nathan yang terlihat sangat menyedihkan. Padahal hubungan nya dengan Nathan sama sekali tidak baik tetapi rasa iba nya benar-benar besar.
Marvin bangkit dari atas kasur dan berjalan menuju dapur, sial nya Marvin belum hafal rumah ini, rumah yang begitu besar membuat nya cukup bingung.
"Ini lantai tiga, ruang makan di lantai dua berarti dapur juga di lantai dua." Ucap Marvin.
Marvin menyiapkan kompres untuk Nathan, dulu ia pernah melakukan ini pada seorang wanita yang tak lain adalah adik tiri nya sendiri. "Aku merindukan mu Elisa." Ucap Marvin.
"Nat, minum dulu." Ucap Marvin sambil membangun kan Nathan.
"Hmmm." Nathan kembali membuka mata nya dan berusaha untuk duduk.
"Ini obat demam, aku tidak tau berguna atau tidak." Ucap Marvin.
Nathan mengambil obat itu dan langsung meminum yang Marvin berikan, Setelah itu ia kembali tidur.
Marvin meletakkan kompres di kepala Nathan, ia merasa seperti mengobati adik nya sendiri.
"Jika kau jadi adik ku, aku akan merawat mu dengan baik, sebenarnya kau baik tapi mulut mu sangat menyakitkan." Batin Marvin.
__ADS_1
Pagi hari nya Nathan kembali membuka mata nya, ia sudah merasa enakan. Ia melihat ke arah Marvin yang tidur sambil duduk, seperti nya Marvin menjaga nya sepanjang malam.
"Dia sangat baik pada ku, tapi aku belum bisa menerima nya, apa aku sangat egois." Batin Nathan.