
"Menikah, tidak yah, aku tidak mau. Aku tidak memiliki pacar." Ucap Marvin.
"Dengarkan ayah, ayah tidak mau kau seperti ini, kau hampir merusak seorang wanita. Kau tau Wulan itu berasal dari panti asuhan, bunda mu yang membawa nya dan kau malah ingin merusaknya. Marvin jika kau menikah kau bisa melakukan dengan istri mu, percaya dengan ayah semua pasti akan baik-baik saja. Karena hanya satu solusi ini semua kau harus menikah."
"Aku menikah dengan siapa yah." Tanya Marvin.
"Kau benar-benar tidak memiliki pacar." Tanya Vino.
"Tidak yah, aku tidak dekat dengan siapapun. Aku tidak mau asal menikah dengan orang lain." Jawab Marvin.
"Ayah yang akan mencari kan mu istri dan pilihan ayah pasti yang terbaik, Nathan bawa Marvin masuk ke dalam kamar, ayah harus berbicara terlebih dahulu pada Wulan, pasti hal ini membuat Wulan ketakutan." Ucap Vino.
"Iya yah." Nathan membantu Marvin masuk ke dalam kamar mereka. Tubuh Marvin terasa sangat sakit akibat pukulan dari Vino.
"Sudah aku katakan tadi, kenapa kau masih saja melakukan nya. Ayah kalau sudah marah tidak pernah pandang seseorang mau kau anak kesayangan nya sekali pun, kau tetap akan babak belur." Ucap Nathan.
"Terimakasih Nat, kau sudah membantu ku, aku sangat senang memiliki adik seperti mu." Kata Marvin.
"Sudah sekarang kau pikirkan nasib diri mu, sebentar lagi kau akan menikah, sebenarnya aku tidak rela. Aku ingin lebih jauh mengenal mu, tapi demi kebaikan mu aku akan tetap mendukung mu."
"Itu tanda nya kau sudah menerima ku sebagai kakak mu." Tanya Marvin.
"Mau bagaimana lagi, kau benar semakin aku menolak mu semakin besar kenyataan jika kau memang benar saudara kembar ku. Kau juga sangat baik pada ku, walaupun kau sering membuat ku kesal." Jawab Nathan.
__ADS_1
"Terimakasih Nat." Marvin memeluk Nathan.
"Untuk apa terimakasih pada ku, sudah lebih baik kau mandi sana, nanti malam aku ingin bertemu dengan pacar ku." Ucap Nathan.
"Sesuai janji mu Nat, aku ikut dengan mu."
"Iya kau boleh ikut, mana tau kau akan mendapatkan jodoh." Ucap Nathan.
"Wulan atas nama Marvin, saya benar-benar meminta maaf atas perlakuan nya pada mu, jika tidak bisa bekerja lagi tidak papa, saya akan tetap menggaji mu, tenang kan perasaan mu terlebih dahulu." Ucap Vino.
"Tidak tuan, saya tidak papa, saya hanya sedikit trauma." Jawab Wulan.
"Apa Marvin pernah melakukan hal lain pada mu, sebelum ini." Tanya Vino.
"Mau menikah dengan Marvin." Tanya Vino.
"Maksud tuan." Tanya Wulan.
"Saya ingin kamu menikah dengan Marvin, tapi jika kamu tidak mau juga tidak papa, saya tidak memaksa mu, tapi saya mohon Wulan pikirkan ini baik-baik, saya sangat terhormat jika kamu mau menikah dengan Marvin dan menjadi menantu keluarga Vins."
"Maaf tuan saya rasa, saya tidak pantas. Tuan bisa mencari calon istri yang lebih baik dari pada saya yang hanya seorang pelayan." Ucap Wulan.
"Pikirkan dulu Wulan, besok saya akan meminta jawaban dari kamu." Vino pergi meninggalkan Wulan yang sedang kebingungan.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan, tuan Vino langsung yang meminta nya, keluarga mereka sudah sangat membantu ku." Batin Wulan.
Malam hari nya Marvin dan Nathan sudah bersiap untuk pergi, sebelum mereka berdua pergi Nathan dan Marvin berjalan menghampiri Vino dan Citra untuk meminta izin.
"Mau kemana kalian berdua." Tanya Vino.
"Ingin menemani Marvin bertemu dengan seseorang yah, kami juga ingin memperbaiki hubungan kami." Jawab Nathan.
"Sial kau Nat, ayah masih marah pada ku, dan kau memakai nama ku." Bisik Marvin.
"Marvin, ayah masih kesal dengan mu, jangan berbuat aneh-aneh lagi." Kata Vino.
"Iya yah, ada Nathan yang selalu bersama ku." Ucap Marvin.
"Marvin, bunda benar-benar kecewa dengan mu." Ujar Citra.
"Bunda maaf, Marvin salah. Marvin janji tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi." Ucap Marvin sambil memeluk Citra.
"Sudah pergi lah bersama Nathan, jaga Nathan dengan baik." Ucap Citra.
Saat dalam perjalanan tiba-tiba Lisa membatalkan pertemuan mereka, sontak saja mereka berdua sangat kesal dan memilih ke cafe untuk makana malam.
"Kau tidak jelas Nat." Ucap Marvin.
__ADS_1
Sesampainya di Cafe mereka berdua langsung memesan makanan, mata Nathan tertuju pada seseorang wanita yang tidak asing menurut nya.