
Vino dan Stiven dapat dengan cepat menemukan dimana Calvin dan Nathan berada. Setelah mereka berdua memastikan jika Nathan dan Calvin hilang, Vino melacak keberadaan mereka berdua melalui alat pelacak. Calvin dan Nathan pewaris utama perusahaan besar, di tubuh mereka sudah di tanamkan pelacak khusus jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti saat ini.
"Sudah pasti," tanya Stiven.
"Sudah dad, sudah pasti," jawab Vino.
"Oke siapkan pasukan kita pergi sekarang, kita babat abis mereka semua."
Di gedung itu, Nathan sudah terpengaruh dengan ucapan Jhon. Ia benar-benar membenci Calvin yang membuat hidup nya terasa sangat sulit..
"Kau marah pada ku, aku saja tidak tau jika ini akan wwterjadi."
"Ini semua terjadi karena mu, sejak kau masuk ke dalam keluarga ku, semua nya berubah kau biang dari semua masalah keluarga ku."
w
"Apa dengan kau menyalahkan ku semua nya akan selesai, pemikiran mu masih terlalu anak anak," ucap Calvin.
Perdebatan mereka berdua terus berlanjut. Nathan tidak berhenti menyalahkan Calvin dan Calvin tidak mau di salahkan. Jhon yang memang berniat mengadu domba mereka berdua benar-benar sangat senang. Mereka menculik Nathan dan Calvin hanya untuk itu. Jika mereka berdua saling membenci di masa depan nanti saat sudah menjadi pemimpin perusahaan mereka berdua lebih muda di taklukan.
"Sebelum mereka semua datang sebaiknya kita segera pergi," ucap Jhon.
"Tunggu yah." Fiyya berlari mendekati Nathan.
Nathan menatap benci Fiyya, rasa cinta nya dikhianati oleh seorang Fiyya, Nathan benar-benar tidak bisa menerima hal itu.
"Aku benar-benar mencintaimu, maaf kan aku, aku harap di masa depan kita bertemu." Fiyya berisik pada Nathan, sebelum pergi ia mencium bibir Nathan.
__ADS_1
Nathan hanya diam, ia masih memiliki perasaan pada Fiyya, tetapi Fiyya benar-benar sudah mengkhianati nya.
"Jika kalian selamat sekarang belum tentu di masa depan akan selamat." Jhon meletakan sebuah bom. Ia berubah pikiran dengan sangat cepat, membuat mereka berdua mati jauh lebih baik.
Setelah mereka semua benar-benar pergi. Nathan melihat ke arah Calvin, Calvin tampak tenang seperti tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, hal itu semakin membuat Nathan jengkel, padahal ada bom yang tak lama lagi akan meledak.
"Sikap seorang pimpin seperti itu, kau sangat bodoh," kata Nathan.
"Jadi aku harus apa? berteriak meminta tolong percuma, tidak ada yang mendengar kita," ucap Calvin.
"Setidaknya tidak diam seperti itu, aku sangat jijik mati bersama orang seperti mu. Aku heran kenapa adik ku menikah dengan seorang beban seperti mu."
Perkataan Nathan benar-benar pedas, Calvin juga tidak Terima di katakan seperti itu. Ia membela diri nya dan berbalik menjatuhkan Nathan.
"Oh iya, kau pikir kau tidak beban keluarga mu. Lihat kau jatuh cinta pada wanita yang salah," kata Calvin.
"Kau juga jangan asal berbicara tentang kehidupan ku," kata Calvin.
Di satu menit terakhir mereka berdua tetap saja saling menyalakan. Untung saja Vino dan Stiven datang tepat waktu, jika tidak nyawa mereka berdua pasti sudah melayang ntah kemana.
"Daddy," teriak Nathan.
"Di sana." Vino dan Stiven berlari ke arah mereka berdua
"Bom," ucap Stiven.
Pasukan Vino yang mendengar hal itu langsung berlari mendekat, mereka tau apa yang harus di lakukan. Dengan cepat sebelum 10 detik terakhir habis bom itu sudah jinak.
__ADS_1
"Ayah." Calvin sangat senang Vino melepaskan ikatannya.
Sedangkan Nathan menatap benci apa yang di lakukan ayah nya. Di sini dia anak nya tetapi Vino malah lebih melepaskan Calvin lebih dulu.
"Kau tidak papa." Tanya Vino sambil memeriksa tubuh Calvin.
"Tidak yah, aku baik baik saja."
"Kakek lepaskan aku, aku bukan manusia."
"Aku saja," ucap Vino.
"Tidak, aku mau kakek."
Setelah Nathan lepas. Nathan langsung mengindari Vino dan Calvin.
"Ini semua karena nya, jika aku tidak bertemu dengan mu Calvin hidup ku tidak akan seburuk ini," kata Nathan.
"Nathan untuk apa mau menyalahkan nya," ucap Vino.
"Daddy juga, aku sangat membenci Daddy, aku pasti bukan anak mu, anak mu itu Calvin. Kau lebih perhatian pada nya dari pada aku."
"Nathan, bukan nya yang salah kau, kau yang menjalin hubungan dengan anak itu."
"Cih, terus menyalahkan ku sampai aku benar benar pergi." Nathan pergi meninggalkan tempat itu
Selesai.
__ADS_1
Sesuai dengan yang saya janjikan hanya sampai kenapa Nathan membenci Calvin. Nah untuk selanjutnya akan author buat novel baru. Tetapi tidak d sini karena terlalu panjang.