Takdir Cinta Bella

Takdir Cinta Bella
Episode 147 S2


__ADS_3

Keraguan.


"Ka lepas, aku ud." belun selesai citra berbicara vino membukam mulut citra dengan bibir nya, ia melum*at bibir citra dengan lembut. Tangan citra naik keatas leher vino ia mendorong vino agar memperdalam ciuman nya.


Tangan vino mulai menjalar keseluruh tubuh citra, ia melepaskan satu persatu pakaian citra. Vino mengakhiri ciuman nya, wajah nya mendekat kearah telinga citra dan membisikan suatu hal.


"Aku menginginkan nya sekarang." bisik vino.


Citra langsung diam seketika, vino yang melihat citra diam ia langsung menghentikan aksi nya. Ia tidak akan melakukan nya sebelum mendapatkan persetujuan dari citra.


"Maaf, aku berlebihan." ucap vino dan bangkit dari kasur menuju kamar mandi.


Citra masi diam di tempat nya, ia masi bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Perlahan ia bangkit dari kasur sambil merapikan pakaian nya yang hampir terlepas. Citra berjalan keuangan ganti untuk menyiapkan pakaian kerja vino, setelah itu ia turun kebawah untuk membantu bella.


"Pagi mah, maaf telat." ucap citra.


"Tidak sayang, mulai besok kamu tidak perlu membantu mamah." ucap bella.


"Kenapa mah." tanya citra.


"Mamah tau mengurus vino sudah sangat merepotkan." jawab bella.


"Tidak mah, aku harus tetap membantu." ucap citra.


"Tugas kamu sekarang cuma satu sayang, berikan kami seorang cucu." ujar bella.


"Mah, apa mamah pernah merasa ragu akan sesuatu." tanya citra.


"Pernah, bahkan sering." jawab bella.


"Lalu bagaimana cara mamah mengatasi keraguan itu." tanya citra.


"Yakin saja dengan diri kita sendiri, kita harus yakin apapun yang menjadi keputusan kita itu yang terbaik untuk kita dan orang lain." ucap bella sambil tersenyum pada citra.


Citra langsung menghentikan pekerjaan sesaat, ia langsung merasa bersalah karena telah menolak vino yang status nya sudah resmi menjadi suami nya.


"Kenapa sayang, apa kamu sedang ragu dalam suatu hal." tanya bella.


"Sedikit mah, tapi sekarang citra sudah yakin ko." jawab citra.


"Bagus kalau begitu, sekarang kamu kembali kedalam kamar, pasti vino sedang mencari mu." ucap bella.

__ADS_1


"Iya mah." ucap citra.


Citra langsung kembali naik kekamar nya, di dalam kamar citra melihat vino sedang kesulitan memakai dasi di leher nya. Citra berjalan menghampiri vino dan langsung membantu vino memakai kan dasi nya.


"Jika kesulitan, minta bantuan la pada orang lain." ucap citra sambil membantu vino.


Vino tidak menjawab ucapan dari citra ia hanya memperhatikan citra yang sedang membantu nya memakai dasi.


"Sudah." ucap citra.


"Terimakasi." ujar vino.


Citra tersenyum pada vino, setelah membantu vino ia mengambil handuk nya dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


Vino duduk di atas ranjang untuk menunggu citra selesai bersiap sambil memain kan hp nya, ia melihat citra keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk tidak seperti biasa nya.


Setelah selasai bersiap mereka berdua langsung turun untuk sarapan pagi.


"Selamat pagi." sapa citra.


"Pagi." jawab bella.


"Aku pengen makan nasi." ucap vino.


"Nthalah dad, akhir-akhir ini perut ku sering terasa lapar jika tidak memakan nasi." ucap vino.


Citra langsung mengambil kan nasi beserta lauk pauk nya, tak lupa pula segelas air meneral. Setelah itu baru lah ia mengambil roti tawar dan susu untuk ia makan.


"Tumben, kamu makan roti." tanya vino.


"Sedang ingin saja." jawab citra.


"Kamu harus makan nasi, pekerjaan kita hari ini cukup berat." ucap vino sambil menyodorkan sesendok nasi kedepan mulut citra.


Dengan ragu citra memakannya, stiven dan bella yang melihat itu tersenyum bahagia. Mereka berdua langsung teringat saat mudah dulu.


Setelah sarapan mereka berdua langsung menuju ke vins grup. Citra melihat wajah vino dengan sangat intens, ia semakin merasa berasalah karena menolak vino. Di dalam ruangan vino, mereka langsung di hadapan kan oleh setumpuk berkas yang membuat mereka berdua lemas seketika.


"Seperti nya kamu benar, pekerjaan hari ini terasa berat." ucap citra.


"Iya dan seperti nya aku membutuhkan secangkir kopi." ucap vino.

__ADS_1


"Bilang saja kamu ingin aku membuatkannya, kamu mau kopi panas atau dingin." ujar citra.


"Dingin seperti nya enak." jawab vino.


Citra keluar dari ruangan vino untuk membuat kan vino kopi, dan vino langsung duduk di kursi kebesaran nya. Tak lama citra datang kembali dengan segelas kopi dingin di tangan nya.


"Terimakasih." ucap vino.


"Sedang apa." tanya citra.


"Lihatlah, ini proyek hotel yang akan ku tungani." ucap vino sambil menujukan laptop nya.


"Pasti kamu berhasil." ucap citra.


"Kenapa kamu seyakin itu." tanya vino.


Citra mendekati telinga vino sambil berkata "Karena aku percaya kamu." bisik citra.


Vino bangkit dari kursi nya, ia mendekatkan wajah nya ke wajah citra. perlahan vino menarik tubuh citra untuk lebih dekat dengan tubuh nya. Vino mencium bibir citra dengan sedikit agresif yang membuat citra kewalahan membalas ciuman itu.


Agar lebih sejajar dengan tinggi badan nya, vino menaikan tubuh citra keatas meja kerja nya, naas nya kopi yang belum ia minum tumpah dan mengenai pakaian citra.


"Ya basah." ucap citra.


"Maaf." ucap vino sambil membersiakan pakaian citra.


Vino membawa citra masuk kedalam ruangan pribadi nya, ia mengambil beberapa pakaian kerja nya untuk citra kenakan.


"Pakai la ini dulu, nanti kamu masuk angin." ucap vino.


Citra membuka baju nya di depan vino, ia membersikan badan nya dari kopi dengan tisu basah. Vino yang melihat citra hanya menggunakan bra menelan air liur nya secara kasar.


"Biar ku bantu." ucap vino sambil mengambil tisu basah dari tangan citra.


Dengan telaten vino membersihkan tubuh mulus citra menggunakan tisu basah, ulah jahil dan mesum nya datang seketika, ia menyentuh bagian-bagian sensitif citra hingga membuat citra mejamkan mata nya.


"Ka, jangan." ucap citra.


Vino menarik tangan citra hingga mereka berdua jatuh keatas kasur, vino naik keatas tubuh citra dan menatap nya dengan tatapan seribu arti. Citra menarik wajah vino dan mencium nya dengan sangat agresif berbeda dengan biasa nya, dengan senang hati vino membalas ciuman itu.


Tangan vino mulai merabah tubuh citra, ia membuka bra yang menutupi buah dada citra sambil memainkan nya, ciuman vino mulai turun keleher dan dada citra yang membuat citra mengeluarkan desahan. Vino sudah tidak bisa menahan nafsu nya lagi ia menatap citra untuk meminta persetujuan dari nya.

__ADS_1


Sambil tersenyum citra mengangguk kepalah nya pertanda ia mensetuju permintaan vino.


__ADS_2