
Setelah Nathan terlihat tidur dengan pulas, Citra mengecup dahi Nathan lalu mematikan lampu dan keluar dari kamar itu. Ia kembali masuk ke dalam kamar nya untuk istirahat.
"Sayang seperti nya Marvin dan Nathan sulit untuk di satukan." Ucap Citra.
"Iya aku juga heran, jika mereka saudara kembar pasti mereka berdua ada ikatan, seperti akan dan Vira yang selalu memiliki ikatan." Kata Vino.
"Mungkin mereka berdua belum merasakan nya saja, besok aku akan bertanya pada Nila, pasti Nila berbeda dengan Nathan." Kata Citra.
Keesokan harinya Citra berjalan masuk ke dalam kamar Marvin, hari-hari nanti nya saat ini tertuju pada Marvin, ia ingin memperkuat dan menyakinkan ikatan antara mereka berdua.
Kali ini Marvin sudah mandi dan wangi, ia duduk di atas ranjang dengan pandangan yang kosong. Ntah apa yang Marvin pikirkan saat ini sampai-sampai Marvin tidak sadar jika Citra sudah berada di dalam kamar nya.
"Ada apa Marvin." Tanya Citra.
"Mamah, tidak ada, aku hanya sedang suntuk saja." Jawab Marvin.
"Oh apa kamu tidak memiliki hp." Tanya Citra.
"Ada tapi ada di dalam mobil, nanti akan aku ambil." Jawab Marvin.
"Ada yang kamu pikirkan Marvin." Citra duduk di samping Marvin sambil mengusap dahi Marvin.
"Aku sedang memikirkan perasaan ku, belakangan ini aku benar-benar merasakan perasaan yang aneh. Apalagi saat bersama mu mah." Ucap Marvin.
__ADS_1
"Perasaan bagaimana, jangan bilang kamu mencintai mamah."
"Bukan rasa cinta tapi benar-benar ada yang aneh mah, aku juga tidak tau mah perasaan apa ini, aku sangat nyaman di dekat mu, aku sangat ingin menjadi anak mu." Ucap Marvin.
"Kamu memang anak mamah Marvin, kamu sudah berada di keluarga ini itu berarti kamu sudah menjadi anak mamah. Panggil mamah bunda seperti Nathan dan Nila." Kata Citra.
"Tidak perlu, itu akan membuat Nathan semakin marah pada ku, perhatian mu pada ku itu lebih dari cukup untuk ku, terimakasih mah." Marvin memeluk Citra.
"Hey hey siapa yang memperoleh kan mu menyentuh istri ku." Ucap Vino.
"Vino." Kata Marvin.
"Marvin itu tidak sopan, panggil ayah." Ujar Citra.
"Tidak mau mah, dia bukan ayah ku, dia menjengkelkan tidak seperti mu yang sangat baik pada ku." Marvin kembali memeluk Citra.
"Tidak boleh, aku tidak setuju. Dia tidak memiliki kewajiban apapun." Ujar Nathan.
"Kau boleh mengambil kasih sayang bunda ku, tapi ayah ku tidak ada yang boleh." Ucap Nathan.
"Aku tidak mengambil apapun dari mu, bunda mu sendiri yang sangat perhatian pada ku." Kata Marvin.
"Itu hanya alasan mu, sebenarnya siapa diri mu, kenapa kau ada di sini, pergi dari keluarga ku." Ucap Nathan.
__ADS_1
"Aku akan pergi, kau tidak perlu repot-repot mengusir ku." Kata Marvin.
"Nathan diam, jangan membuat ayah marah pada mu." Vino merangkul Nathan.
"Marvin tidak ada yang boleh pergi dari sini, mulai sekarang kalian berdua harus tidur dan berada di dalam satu kamar yang sama." Ucap Citra.
"Tidak mau." Tolak Marvin dan Nathan secara bersama.
"Ayah setuju demi memperbaiki hubungan kalian berdua." Ucap Vino yang bersifat mutlak.
"Ayah, Nathan tidak mau." Kata Nathan.
"Tidak ada penolakan Nathan." Ucap Vino.
"Percaya dengan bunda, kalian berdua dapat menjadi saudara yang saling melengkapi." Kata Citra.
"Aku tidak memiliki masalah dengan nya, tapi dia selalu mencari masalah pada ku." Ucap Nathan.
"Jangan seakan-akan kau yang paling di rugikan di sini, kau benar-benar kepala batu." Kata Nathan.
"Kepala batu kau bilang, itu diri mu bukan diri mu." Ucap Marvin.
Citra dan Vino pergi meninggalkan kamar itu membiarkan dia orang itu saling bertengkar.
__ADS_1
Sementara itu Abraham sedang kebingungan karena aset nya benar-benar menghilang secara tiba-tiba. Marvin anak angkat nya yang ia jadikan senjata pergi ntah kemana, padahal Abraham sudah memiliki rencana baru untuk menghancurkan keluarga Vins, keluarga yang sangat ia benci sedari dulu.
"Cari dia sampai ketemu, pancing dia dengan para gadis yang cantik." Ucap Abraham yang sangat tau kegilaan Marvin dana berhubungan intim karena dia seorang hiper sex.