Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 10 Kehidupan Khayangan


__ADS_3

Sementara itu, setelah para raksasa menguasai khayangan, tentu banyak perubahan besar yang terjadi. Sebenarnya perubahan ini juga berdampak pada kehidupan dunia tengah, hanya saja belum terlalu terasa dan belum disadari oleh para manusia.


Jika pada masa sebelumnya, dunia khayangan merupakan dunia yang indah layaknya surga, maka saat ini yang ada di sana adalah hal sebaliknya. Para raksasa adalah mahkluk yang tak pernah bisa menjaga kebersihan.


Sebagian besar dari mereka sangat kotor dan jorok layaknya binatang. Bahkan tak jarang dari mereka yang hanya memiliki kecerdasan setara dengan binatang.


Para raksasa ini ibarat kombinasi dari binatang, manusia, dan siluman yang dilebur dalam satu wujud. Terkadang ada juga raksasa yang cerdas seperti manusia, ada juga yang kuat dan buas seperti binatang, dan ada juga yang sakti seperti siluman.


Kalapati merupakan raksasa yang paling sempurna diantara raksasa lainnya. Ia bertubuh besar, berkulit keras, memiliki wajah seperti singa dengan empat taring besar yang tumbuh di mulutnya. Ia juga sangat sakti dan cerdas berkat usahanya 1000 tahun bertapa.


Untungnya, kecerdasannya hanya sebatas kecerdasan manusia, tak seperti kecerdasan para dewa sehingga dalam situasi seperti ini, sang raja dewa masih bisa sedikit banyak mengendalikannya.


Kalapati memenjarakan Raja Dewa di dalam cincin pusakanya. Oleh karenanya, mereka berdua masih sering bercakap-cakap, berdebat, bertengkar, atau bahkan saling bercerita. Raja Dewa sejauh ini telah berusaha keras membuat raja raksasa tidak mengetahui bahwa kelak akan ada pusaka dewa yang datang membunuhnya. Hanya saja, saat ini belum waktunya.


Apabila Kalapati mengetahui tentang adanya pusaka dewa yang menjelma manusia, maka ia tak akan tinggal diam. Tentu saja tak satupun dewa ada yang membocorkan rahasia ini sejak mereka semua meninggalkan dunia khayangan dan bersembunyi di dunia tengah, membaur dengan alam dan manusia. Ada yang menjelma menjadi pohon, batu, binatang, dan tentu saja menjelma menjadi manusia.


Selama 7 tahun ini, para raksasa hidup di khayangan dengan mengandalkan sumber energi yang ada di khayangan. Sumber ini semestinya selalu dirawat dan diperbaharui sebagaimana dulu para dewa melakukannya. Lambat laun, sumber ini akan habis.


“Raja raksasa! Hei Kalapati!” Raja Dewa memanggil Kalapati.


“Ada apa?” sahut Kalapati.


“Tidakkah kau melihat bahwa sebentar lagi sumber energi khayangan ini akan segera habis? Kalian terlalu serakah

__ADS_1


menggunakannya.” Kata Raja Dewa.


“Memangnya bisa habis?” balas Kalapati.


“Ah, dasar bodoh.” Kata Raja Dewa


“Apa katamu?” balas Kalapati marah.


“Apa yang akan kau lakukan jika sumber itu habis?” tanya Raja Dewa


“Mungkin kami akan kembali menyantap manusia seperti dulu sebelum kami tinggal di sini, hahahahaha…” Kalapati tertawa terbahak-bahak seolah tak peduli dengan yang ia lakukan.


Raja Dewa mulai khawatir. Namun percuma saja mengajarkan caranya memperbaharui sumber energi khayangan karena hanya para dewa yang bisa melakukannya. Tak ada pilihan lain selain membiarkan bangsa raksasa itu bertindak semau mereka.


Sumber energi yang ada di khayangan itu berasal dari doa-doa manusia. Dari doa-doa tersebut, para dewa mengolahnya menjadi mata air khayangan. Selama manusia masih berdo’a, masih memuja para dewa, maka sumber energi itu akan terus mengalir.


Dengan kata lain, dewa ada karena adanya manusia. Sebagian dari para dewa ini adalah manusia yang memiliki tingkat kesaktian setara dengan dewa. Apabila manusia terus menerus memurnikan energinya, terus menerus melakukan tapa, maka ia tak akan lagi menjadi manusia, melainkan menjadi dewa dan hidup abadi selamanya.


Para dewapun juga bisa memiliki keturunan. Dewa yang murni adalah dewa yang lahir dari perkawinan antar dewa. Dewa campuran adalah dewa yang lahir dari perkawinan antara dewa dengan manusia, dewa dengan raksasa, atau dewa dengan binatang. Sedangkan dewa golongan terakhir adalah manusia sakti yang berubah menjadi dewa.


“Jika kalian memangsa manusia dan seluruh sumber daya yang ada di dunia tengah, lalu ketika semua habis, apa yang akan kau lakukan?” Raja Dewa memancing Kalapati untuk berfikir.


“Diam kau! Tak usah mengajariku. Dengan kekuatanku sekarang, aku bahkan bisa hidup tanpa apapun selamanya.” Kalapati membalas pertanyaan Raja Dewa dengan sombong.

__ADS_1


“Ya, kau bisa hidup tanpa apapun. Namun tidak bagi rakyatmu. Semua akan binasa. Dan kau akan sendirian di dunia yang perlahan akan hancur ini.” Kata Raja Dewa.


“Aku tak akan sendirian, kau akan menemaniku. Kita sama-sama tak bisa mati bukan?!” Kata Kalapati.


Dalam hati Raja Dewa membenarkan kata Kalapati. Sial, dalam hal ini raksasa bodoh ini cerdas juga. Batin Raja Dewa.


“Aku memang tidak bisa dibunuh oleh siapapun, tapi aku bisa memusnahkan diriku sendiri.” Kata Raja Dewa. Aku lebih memilih musnah dan membiarkanmu sendiri di sini.” Lanjut Raja Dewa.


“Kau benar. Kau memberiku ide menarik. Sebaiknya aku menyuruh bangsaku mengembangbiakkan manusia. Bagaimana dengan itu? Jika kami beternak manusia, tentu kami tidak akan kekurangan sumber daya bukan?” kata Kalapati


“Kenapa kau masih saja *****. Jangankan beternak, para manusia melihat wajah kalian saja mereka akan mandul selamanya.” Balas Raja Dewa menertawakan kebodohan Kalapati.


“Lalu apa solusinya?” Kalapati bertanya.


“Kau tahu kenapa dulu para dewa membunuh para raksasa?” kata Raja Dewa.


“Kau membuatku marah jika mengatakan hal itu.” Balas Kalapati.


“Tentu agar jumlah kalian sedikit dan tidak akan menghabiskan sumber daya yang ada di dunia tengah. Bagaimanapun juga, kalian hidup dengan mengandalkan kepandaian manusia. Mereka yang beternak binatang dan kalian yang datang merampoknya kalau binatang di hutan habis bukan?!” Raja Dewa menekankan, “Kalau kau ingin bangsa raksasa tetap bertahan, maka bunuhlah sebagian bangsamu sebagaimana kami dulu melakukannya.”


Raja Dewa tersenyum penuh kemenangan karena sepertinya Kalapati menyetujui perkataannya meski tak mengakuinya. Ia tak menceritakan bahwa sumber energi itu sebetulnya berasal dari doa-doa manusia. Dengan demikian, sebenarnya para dewa sangat bergantung pada kehidupan manusia.


“Kata-katamu sungguh tak bisa kuterima. Inilah yang membuat kami dendam kepada bangsa dewa. Ini sungguh tak adil. Takdir kami menjadi seperti ini. Menjadi pemangsa dan akan selamanya demikian.” Kata Kalapati, “Kau pikir kami mau menjadi seperti ini? Manusia selalu memandang kami lebih buruk dari binatang.”

__ADS_1


“Ingat ini baik-baik. Kelak jika kalian memangsa manusia dan binatang. Maka ada masa bangsa manusia dan binatang akan punah. Ketika itu terjadi, bangsa kalian akan saling memangsa. Sudah menjadi tugas kami untuk menciptakan keseimbangan. Tentu saja, dengan berat hati kami selalu memburu bangsa kalian agar jumlahnya sedikit. Maafkan kami, tapi itulah takdir.” Kata Raja Dewa.


“Sudah, aku tak ingin mendengar perkataan darimu” Jawab Kalapati ingin mengakhiri percakapan mereka dengan kesal untuk kesekian kalinya.


__ADS_2