
Batari Mahadewi pun masih tertegun dengan pedang buatannya itu. Ia tak menyangka pedangnya itu mampu menghancurkan sebuah batu ketika kakek Tagama mengujinya.
“Pedangmu sangat bagus, nona. Lebih keras dari berlian, dan memancarkan kekuatan yang tinggi. Karya ini benar memantulkan jiwamu. Hehehe, aku jadi penasaran, apa yang kau pikirkan ketika kau membuatnya tadi! Dan yang membuatku terkesan, bagimana kau bisa mengubah tanah liat menjadi seperti ini?” tanya kakek Tagama.
“Saya juga baru tahu kalau pedang itu menjadi keras setelah kakek menjatuhkannya di atas batu. Setelah selesai mengerjakannya, aku hanya meletakkannya di meja, lalu aku jalan-jalan keluar, melihat para kakak seperguruan berlatih di tebing sana itu,” jawab Batari Mahadewi.
“Kau menggunakan tenaga dalammu untuk mengeraskan pedang ini?” tanya sang kakek.
“Benar kakek,” jawab Batari Mahadewi.
“Ya, berarti kau memang sudah bisa menciptakan senjata dari logam. Senjatamu itu sangat bagus, tapi hanya kau saja yang bisa menggunakannya. Pedang itu tak akan pecah saat kau alirkan tenaga dalam dari dirimu sendiri, sebab kau yang membuatnya demikian. Namun, jika orang lain yang menggunakannya, pedang itu belum tentu bisa menahan tenaga dalam besar. Kalaupun bisa, ketika pedang itu dipergunakan dalam pertarungan, sudah pasti pedang itu tak akan sanggup menahan benturan dari pedang yang berbahan logam,” kata sang kakek.
“Ketika membuatnya, saya bahkan tidak berfikir akan menggunakan pedang itu sebagai senjata,” kata Batari mahadewi. Tentu saja, ia memikirkan Nala, lalu membuat pedang itu begitu saja dan ia mengalirkan berbagai elemen energi dalam tubuhnya ke dalam pedang itu sehingga wujudnya menjadi hitam mengkilap, halus serta lebih keras dari berlian.
“Tapi kau bisa menggunakan pedang ini sebagai senjata, nona. Hanya kau sendiri atau orang lain yang memiliki energi yang sama denganmu. Nah, setiap karya, sebaiknya kau beri nama. Apa nama yang tepat untuk pedangmu ini?” tanya sang kakek.
Batari Mahadewi berfikir, lalu ia menimang lagi pedang hitam itu. “Aku tahu namanya kakek, Pedang Berlian Hitam. Itulah namanya,” jawab Batari Mahadewi.
“Nama yang bagus. Aku akan membuktikan omonganku. Tunggu sebentar,” kakek itu mengambil sebuah pedang lain dari dalam lemari. Pedang itu adalah pedang logam yang panjang dan besar.
“Pedang ini meskipun bukan pusaka, namun sangat keras dan terbuat dari bahan yang bagus. Potong pedang ini dengan pedang pusaka hitammu itu!” pinta sang kakek.
“Jadi pedang berlian hitam ini menurut kakek adalah pusaka?” tanya Batari Mahadewi.
“Tentu saja! apa yang kau pikirkan?! Pedang hitammu itu menyimpan energi yang sangat kuat. Apakah kau pernah bertarung menggunakan pedang?” tanya sang kakek.
__ADS_1
“Belum,” jawab Batari Mahadewi.
“Hubungkan dahulu kekuatanmu sendiri dengan kekuatan yang telah ada dalam pedang itu. Nanti kau bisa merasakan perubahannya. Jika sudah, tebaslah pedang besar ini,” kata sang kakek.
“Baik kakek.” Batari Mahadewi mencoba melakukan yang dikatakan oleh kakek itu. Tenyata benar, ketika ia mencoba menghubungkan kembali energinya ke dalam pedang itu, maka energi yang tersimpan dalam pedang itu seketika aktif dan memancarkan cahaya yang terang serta kekuatan yang tak terduga.
Kakek Tagama benar-benar takjub. Baru kali ini ia menemui pedang dengan jenis energi yang sangat berbeda dengan ratusan pedang pusaka yang pernah ia temui.
Batari Mahadewi mengayunkan pelan pedangnya ke arah pedang besi besar itu. Seketika, pedang besi itu terpotong menjadi dua dengan potongan yang sangat halus.
“Benar bukan apa yang kukatakan?! Hahahaha!! Sungguh luar biasa!” kata kakek Tagama.
Tanpa pedangpun, Batari Mahadewi bisa mematahkan pedang itu menjadi beberapa bagian hanya dengan ujung jarinya. Namun dalam hal ini, ia sedang menguji pedang itu. Kelak, sedikit banyak pedang itu akan berguna baginya.
“Nah, nona, besok kita akan lanjutkan lagi. Nona akan membuat pedang dari besi. Masih ada bahan-bahan yang bagus yang didapatkan oleh guru Udhata. Aku menyimpannya di dalam ruanganku. Kau boleh menggunakannya, dan meleburkan beberapa mustika siluman ke dalam pusaka itu nantinya,” kata kakek Tagama.
“Beliau memberikannya kepadaku. Sudah pasti beliau tidak akan keberatan. Sayang sekali, saat ini beliau masih bertapa di puncak gunung. Beliau pasti sangat bangga melihatmu menciptakan pusaka luar biasa dari tanah liat,” kata kakek Tagama.
“Baiklah kakek, tapi setelah pedang logam pertamaku selesai, aku akan mencari bahan baku sendiri,” kata Batari Mahadewi.
Udara malam hari di perguruan itu sangatlah dingin sehingga mampu membekukan air. Memang benar, hanya pendekar tangguh yang bisa bertahan lama di sana. Meskipun kakek Tagama bisa dibilang murid guru Udhata terlemah dalam hal beladiri, tetapi bagaimanapun juga jika dibandingkan dengan pendekar lainnya di Siwarkatantra, ia tetaplah pendekar hebat.
Keesokan harinya, kakek Tagama mengajak Batari Mahadewi ke gudang senjata perguruan Tongkat Langit. Di sana ada berbagai jenis senjata dan senjata pusaka, mulai dari senjata yang berbentuk jarum hingga senjata yang berbentuk pedang delapan mata. Hampir semua jenis senjata di dunia persilatan ada di sana.
“Ini seperti perpustakaan senjata, kakek,” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Hahaha, bisa dibilang begitu. Tiap senjata ini memiliki fungsi berbeda-beda, tergantung jenis ilmu yang dimiliki oleh penggunanya. Kelak kau akan menciptakan pusaka untuk orang lain, kan? Jadi kemampuan dan kesaktian orang itu juga harus kau pertimbangkan,” kata kakek Tagama.
“Baiklah kakek, aku mengerti,” kata Batari Mahadewi.
“Kau pelajari dulu, aku akan mempersiapkan bahan dan membawanya ke bengkel,” kata kakek Tagama.
Hampir setengah hari Batari Mahadewi mempelajari seluruh senjata yang ada di sana, beberapa diantaranya adalah pusaka yang dilengkapi dengan aksara rahasia. ‘Guru Udhata benar-benar ahli senjata,’ batin Batari Mahadewi.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu berjalan ke bengkel. Di sana, kakek Tagama telah menunggunya bersama dengan beberapa bongkah logam mentah yang tergolek di meja. Ia tak menyalakan tungku api.
“Nona, bahan-bahan ini tak bisa dilunakkan dengan api biasa. Karena kemarin aku melihat jejak kekuatan api yang tinggi dalam pusaka berlian hitam, maka aku membawakan bahan-bahan ini untuk nona. Ini semua adalah bahan terbaik. Semestinya, kekuatan nona bisa meleburkan bahan-bahan ini,” kata kakek Tagama.
Batari Mahadewi mempelajari semua bahan yang ada di meja itu. Tiap-tiap bongkahan logam itu berbentuk seperti kristal, namun warnanya gelap dan lebih berat.
Bongkahan-bongkahan logam itu sangat keras dan memang tak mungkin jika dibentuk dengan palu biasa, kecuali yang bahannya sama atau lebih keras lagi dari logam-logam itu.
“Aku akan mencobanya kakek,” kata Batari Mahadewi.
“Aku akan membantu dan menunggu nona di sini selama apapun nona mengerjakannya. Jangan tergesa-gesa,” kata kakek Tagama.
Kakek itu kemudian memberikan penjelasan tentang perbandingan bahan yang baik untuk karakter senjata yang berbeda-beda, setelah itu Batari Mahadewi memilih dan menakar beberapa bahan yang sekiranya sesuai dengan senjata yang akan ia buat.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu tak bisa menyembunyikan kekuatannya. Bagaimanapun juga, untuk meleburkan dan menyatukan bahan-bahan itu dengan takaran yang sesuai membutuhkan energi api yang cukup besar.
Batari Mahadewi mengubah kedua tangannya menjadi tangan api yang memancarkan api berwarna merah kehitaman. Ia membuat semua bahan mengambang di udara, lalu membakarnya dengan api dari tangannya. Logam-logam itu kemudian melunak dan menjadi cairan logam yang bergerak-gerak dan mengambang di udara.
__ADS_1
Perhatian Batari Mahadewi sepenuhnya terpusat pada logam yang ia cairkan itu hingga ia tak memperhatikan kedatangan kakek Sada dan beberapa muridnya yang terpancing untuk datang karena menangkap pancaran energi yang luar biasa dari bengkel senjata, yang tak lain merupakan energi gadis jelmaan pusaka dewa itu.