Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 225 Mengikuti Jejak Pasukan Kerajaan Hitam


__ADS_3

Batari Mahadewi telah meninggalkan pulau Mahabhumi. Setelah singgah sejenak di pelabuhan barat Catrabhumi, gadis jelmaan pusaka dewa itu terus bergerak ke arah barat, mencoba untuk menyusul para pendekar kerajaan hitam Tirayamani yang telah pergi entah kemana dengan mengendarai kapal-kapal besar.


Tak sulit bagi Batari Mahadewi untuk menemukan rombongan para pendekar hitam itu. Namun Batari Mahadewi tak ingin keberadaannya diketahui sehingga ia harus menjaga jarak. Gadis itu telah mendapatkan sebuah jubah untuk menyamarkan dirinya sehingga tak dikenali lagi oleh para pendekar hitam itu.


Batari Mahadewi terbang di langit yang sangat tinggi sehingga tak mungkin bagi para pendekar hitam itu bisa mengetahui keberadaannya. Dari bawah, bahkan gadis jelmaan pusaka dewa itu sama sekali tak terlihat. Tubuhnya tertutup bongkahan awan putih di angkasa. Sebaliknya, dengan mata saktinya itu, Batari Mahadewi masih bisa melihat dengan jelas apa saja yang dilakukan oleh para pendekar itu.


Kapal-kapal besar milik kerajaan Tirayamani itu merapat pada sebuah pelabuhan di suatu pulau. Batari Mahadewi masih di langit, menunggu saat yang tepat untuk turun. Kali ini ia ingin mencari tahu banyak hal tentang kerajaan Tirayamani dan segala seluk-beluk tentang ratu Ogha. Oleh karenanya, ia hanya ingin menyamar saja dan membuntuti sepak terjang para pendekar hitam itu. Ia yakin, dengan cara itu nantinya ia bisa menemukan sang ratu kegelapan.


Pulau itu bernama pulau Mandara yang sepenuhnya dikuasai oleh satu kerajaan yang bernama kerajaan Mandaraloka. Batari mahadewi tak tahu, kenapa para pasukan hitam itu diterima dengan baik oleh orang-orang Mandaraloka.


Tanpa diketahui oleh siapapun, Batari mahadewi memijakkan kaki di pulau Mandara. Semua wilayah di sana merupakan wilayah perkotaan yang tak banyak penduduknya. Tidak seramai kota-kota di Swargadwipa. Namun demikian, banyak bangunan besar di wilayah itu.


Para pendekar kerajaan hitam Tirayamani meninggalkan kapal dan berkumpul di sebuah gedung terbesar di pelabuhan itu. Gedung besar itu biasanya dipergunakan untuk gudang barang-barang yang di datangkan dari luar pulau, atau sebaliknya, barang-barang yang akan diangkut menuju ke pulau lain.


Selain kapal-kapal kerajaan Tirayamani, Pelabuhan itu juga penuh dengan kapal yang mengibarkan lambang kerajaan Mandaraloka. Hal itu terlihat aneh di mata Batari Mahadewi sebab semestinya semua pulau yang didatangi oleh pasukan Tirayamani adalah pulau yang telah ditaklukkan. Namun yang terlihat tidaklah demikian. Para prajurit Tirayamani tak terlihat sebagai penjajah di pulau itu.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu berjalan-jalan menyusuri pasar pelabuhan. Ia berniat mendekat ke arah gedung dan mencoba untuk menangkap pembicaraan orang-orang yang ada di sana.


“Nona sedang mencari sesuatu?” seorang lelaki berusia lewat paruh baya menyapanya.


“Oh, paman, tidak, aku hanya sekedar jalan-jalan,” jawab Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Nona bukan orang sini?”


“Ya, aku berasal dari daerah lain,” jawab Batari Mahadewi. Ia tak ingin terlibat pembicaraan yang terlalu panjang dengan orang-orang Mandaraloka, sebab ia belum benar-benar tahu situasi yang terjadi di wilayah itu.


“Apakah nona lapar? Aku menjual makanan ini,” kata lelaki itu sambil menyodorkan keranjangnya yang penuh makanan. Ia adalah seorang laki-laki yang setiap hari berkeliling menjual makanan di pelabuhan.


“Maaf, paman, aku sudah makan,” jawab Batari Mahadewi. Bukannya tak ingin, tapi Batari Mahadewi hanya membawa beberapa butir emas pemberian Nala. sudah pasti pedagang itu tak memiliki kembaliannya. Dengan kata lain, Batari Mahadewi tak memiliki uang yang tepat untuk membeli apapun, sementara, perut manjanya sudah merengek minta makan setelah sekian hari di dunia satu rembulan ia belum makan apapun kecuali buah-buahan yang ia dapatkan di hutan ketika ia bersama Jalu dan Niken.


“Oh, kalau begitu maaf sudah mengganggu nona, sebentar nona, aku berikan ini untuk nona,” lelaki penjual makanan itu memberikan buntalan makanan, kemudian ia berlalu. Ada yang aneh dengan lelaki itu, namun Batari Mahadewi belum bisa mengetahuinya.


Batari Mahadewi tak bisa lebih dekat lagi menuju ke gedung besar itu. Di sana banyak prajurit yang berjaga di luar. Tak jadi soal, ketika gadis jelmaan pusaka dewa itu kembali membuka seluruh indera tubuhnya, mata saktinya bisa melihat apa yang ada di balik tembok gedung itu dan telinganya juga bisa mendengar semua percakapan orang-orang di dalam gedung. Namun yang ia lihat dan ia dengar bukanlah hal penting. Para pasukan kerajaan hitam itu hanya sedang ingin beristirahat.


Batari Mahadewi mencari tempat yang nyaman untuk membuka makanan pemberian lelaki penjual makanan itu. Ia sedikit terkejut ketika ia melihat aksara rahasia di dalam makanan itu. “Luar biasa, ia bisa membuat aksara rahasia di dalam makanan. Siapa lelaki itu?” batin Batari Mahadewi.


Isi aksara rahasia itu hanyalah sebuah pesan pendek yang berbunyi, “Temui aku di ujung timur pelabuhan.”


“Jika pesan ini ditujukan padaku, tentu ia bukan orang biasa. Setidaknya ia tahu aku bisa membaca aksara rahasia. Andai saja aku tadi menggunakan mata saktiku, maka aku bisa melihat kemampuan orang itu. Setidaknya, ia berkemampuan tinggi karena sanggup menyembunyikan siapa dia sebenarnya.” batin Batari Mahadewi.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu bergegas menuju bagian paling timur di pelabuhan itu. Benar dugaannya, lelaki itu sedang duduk sendirian memandang ke arah laut. Batari Mahadewi datang mendekat.


“Sudah kuduga, kau bukan gadis sembarangan. Kau bisa membaca pesanku di makanan itu,” kata lelaki penjual makanan itu.

__ADS_1


“Siapa paman dan apa tujuan paman menemuiku?” tanya Batari Mahadewi.


“Aku pendekar Mata Langit. Salah satu kemampuanku adalah menilai orang dengan penglihatanku. Justru aku yang ingin tahu, apa yang kau lakukan di sini?” tanya lelaki itu.


“Aku ingin tahu kenapa pasukan kerajaan hitam itu datang ke sini. Sebelumnya, mereka datang ke pulau kami, di Mahabhumi. Paman belum menjawab pertanyaanku,” kata Batari Mahadewi.


“Aku sudah sebulan berada di sini. Tujuan kita sama, yakni sedang mencari tahu pergerakan kekuatan kerajaan Tirayamani. Mereka semua telah memporak-porandakan wilayah kami,” kata lelaki itu.


“Jika paman sudah sebulan berada di sini, pasti paman sudah tahu banyak hal, bukan?” tanya Batari Mahadewi.


“Kerajaan Mandaraloka adalah sekutu Tirayamani. Kerajaan ini tidaklah besar dan kuat, namun mereka bisa menciptakan sesuatu yang dibutuhkan oleh para pendekar hitam. Oleh karena itulah, kerajaan Tirayamani tak menghabisi kerajaan ini, sebaliknya, mereka melindunginya,” kata lelaki itu.


“Tapi tentunya, paman ke sini bukan hanya untuk mencari tahu tentang hal ini, bukan?” tanya batari mahadewi menyelidik.


“Kau pintar. Aku ingin menemukan letak pusaka kuno yang tersembunyi di pulau ini. Dengan pusaka itu, pendekar sepertiku memiliki kemampuan untuk menghadapi para pendekar hitam itu. Aku ingin membalas rasa sakit hatiku karena orang-orang itu telah membantai semua orang di wilayahku,” kata lelaki itu.


Batari Mahadewi masih menahan diri untuk tak menyatakan pendapatnya. Ia masih ingin menyembunyikan identitasnya dari siapapun. Setidaknya, gadis jelmaan pusaka dewa itu merasa lega, sebab pendekar Mata Langit itu belum sepenuhnya bisa melihat seluruh kemampuan yang ia miliki.


 


 

__ADS_1


__ADS_2