Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 39 Api dan Angin


__ADS_3

Pagi itu hampir semua warga desa Atas Awan berkumpul di halaman rumah Ki Elang Langit untuk menyaksikan pertandingan perempat final. Keempat peserta itu masing-masing mewakili tiap perguruan di desa Atas Awan.


Peserta dengan nomor urut 1 adalah pendekar perguruan Langit Timur yang bernama Pancala. Pendekar dengan nomor urut 2 adalah pendekar perguruan Langit Barat yang bernama Adrini. Peserta dengan nomor urut 3 adalah pendekar perguruan Langit Utara yang bernama Ajiraga, dan peserta dengan nomor urut 4 adalah pendekar perguruan Langit Selatan yang bernama Andaru.


Keempat peserta itu merupakan pendekar muda terbaik yang mewakili masing-masing perguruan. Ki Elang Langit mengadakan pertandingan itu setiap tahun untuk mendorong para pendekar di desa Atas Awan agar tetap terus menerus mengembangkan kemampuan mereka. Oleh karena itu, pertandingan ini merupakan ajang yang sangat penting di desa Atas Awan.


Pemenang tak akan mendapatkan imbalan uang atau harta, melainkan beberapa mustika alam untuk meningkatkan kesaktian dan gelar pendekar yang merupakan suatu kehormatan yang tak ternilai bagi pendekar atas awan.


Para peserta dan penonton telah siap di tempatnya masing-masing. Ki Elang Langit memberikan sambutan sekaligus menjadi juri dalam pertandingan tersebut. Maka ia mengumumkan pertandingan spesial yang akan di adakan di tengah dan akhir acara.


“Saudara-saudaraku semuanya, hari ini kita akan melanjutkan pertandingan sekaligus uji kanuragan yang telah kita mulai kemarin. Hari ini kita juga kedatangan tamu istimewa dari padepokan Cemara Seribu yang akan melakukan pertandingan persahabatan. Semoga dengan pertandingan tersebut, kita semua bisa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman penting untuk mengembangkan jalan pendekar yang kita tempuh.”


“Berdasarkan undian, maka pertandingan pertama nantinya adalah pertandingan para peserta dengan nomor urut 2 dan 4 yaitu Adrini dari perguruan Langit Barat dan Andaru dari perguruan Langit Selatan, dan selanjutnya adalah nomor urut 1 dan 3 yaitu Pancala dari perguruan Langit Timur dan Ajiraga dari perguruan Langit Utara. Silahkan peserta pada sesi pertama mempersiapkan diri.” Kata Ki Elang Langit.


Adrini dan Andaru mempersiapkan diri untuk menampilkan capaian terbaik mereka selama beberapa tahun ini melatih kanuragannya. Peserta akan dinyatakan kalah apabila ia menyerah atau keluar dari arena pertandingan dan jatuh menyentuh tanah. Arena itu merupakan panggung berlantai batu yang tak terlalu luas. Para penonton duduk bersila mengelilingi panggung tersebut.


Ki Elang Putih maju ke tengah arena untuk memanggil peserta. Adrini dan Andaru memasuki arena bertukar salam dan hormat, lalu kemudian memasang kuda-kuda.


“Keluarkan kemampuan terbaikmu, Adrini.” Kata Andaru tersenyum sambil menatap lawannya dengan tatapan siaga.

__ADS_1


“Pasti akan kulakukan, Andaru. Siapkan pertahanan terbaikmu.” Balas Adrini. Ia kemudian memancarkan energinya pada level puncak, lalu ia tiba-tiba menghilang dari pandangan. Sekian detik kemudian, ia menghujamkan pukulan dari atas Andaru.


Sedari tadi Andaru telah membaca pergerakan energi Adrini dan dengan tangkas ia menangkis serangan itu dengan perisai energi. Gesekan dua energi pendekar itu menimbulkan dentuman hebat. Seandainya penonton di sana bukanlah para pendekar berilmu tinggi, mereka pasti akan terpental.


Andaru tak mau kalah, seketika ia melakukan serangan balasan dengan kecepatan dan energi tinggi sehingga pukulan-pukulan yang dilakukannya nyaris tak terlihat oleh mata biasa. Adrini masih bisa menangkis tiap-tiap serangan yang sangat cepat itu, namun lagi-lagi ia menghilang dari pandangan lalu


mendadak muncul di belakang Andaru dan melontarkan sebuah pukulan yang keras


dan tak dapat dihindari oleh Andaru.


Andaru terpental, namun ia masih menguasai diri. Ia berdiri mengambang.dari permukaan tanah. Adrini melakukan hal serupa. Kini arena pertarungan mereka lebih luas lagi karena mereka tak menyentuh lantai. Keduanya saling menyerang di udara dengan serangan-serangan angin. Kedua pendekar itu memiliki kemampuan yang baik mengelola energi untuk mengendalikan udara sebagai senjata mematikan.


Jalu dan Niken berdecak kagum atas kecepatan serangan pendekar Atas Awan. Sedari awal, mereka bertiga mempelajari setiap jurus yang dilontarkan oleh Adrini dan Andaru. Pendekar desa Atas Awan memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat baik dan mereka akan menguasai medan pertarungan tanpa menapak tanah. l Sementara, Batari Memejamkan mata untuk memantapkan kembali ilmu Kitab Langit yang telah ia pelajari.


Arena pertandingan itu berubah menjadi pusaran angin yang kuat hasil dari adu kekuatan Adrini dan Andaru yang menggunakan jurus sama. Ini adalah saat yang menentukan karena pemenangnya bisa ditebak, yaitu diatara mereka berdua yang memiliki energi yang lebih besar.


Beberapa saat kemudian, pusaran angin itu menelan tubuh Andaru dan melemparkannya hingga jatuh ke tanah. Pukulan Adrini yang sebelumnya telah mengenai punggung Andaru telah membuatnya kehilangan banyak energi dan di puncak adu kekuatan itu, Andaru kalah telak.


“Pemenangnya adalah Adrini.” Teriak Ki Elang Langit.

__ADS_1


Dengan demikian pertandingan pertama itu usai. Andaru jatuh tanpa cidera. Ia kecewa dengan kegagalannya mewakili perguruannya memperoleh kehormatan. Dengan perasaan getir, ia tersenyum dan memberikan selamat kepada Adrini.


“Baik para saudara-saudariku sekalian. Seperti yang telah saya janjikan, usai pertandingan pertama ini, selanjutnya adalah pertandingan persahabatan. Salah satu pendekar tamu dari Padepokan Cemara Seribu, Jalu Pamungkas, akan bertanding dengan pendekar bergelar dari perguruan Langit Barat, yaitu pendekar Mata Angin. Kedua pendekar dipersilahkan bersiap diri.” Ki Elang Langit mengumumkan.


Jalu dan pendekar Mata Angin memasuki arena pertandingan. Keduanya bertukar


salam dan memperkenalkan diri secara singkat.


“Saya Jalu Pamungkas dari Padepoka Cemara Seribu. Suatu kehormatan bisa


bertanding melawan pendekar Mata Angin.”


“Saya Pendekar Mata Angin dari perguruan Langit Barat, suatu kehormatan bagi saya bisa bertanding dengan pendekar tubuh api.” Balas pendekar Mata Angin.


Jalu tak menduga sebelumnya jika Ki Elang Putih akan memasangkan dirinya dengan salah satu pendekar bergelar yang usianya kurang lebih sekitar 40 tahun. Lawannya merupakan seniornya, jika dilihat melalui status dan usianya.


Sebaliknya, pendekar Mata Angin tak ingin menganggap remeh Jalu yang memiliki ilmu tubuh api dan 8 indera aktif pada tubuhnya. Dalam hal ini, keduanya memiliki kapasitas energi yang setara. Namun, pendekar Mata Angin lebih memiliki banyak pengalaman dalam pertarungan di sepanjang hidupnya.


“Sudah siap?” Tanya pendekar Mata Angin.

__ADS_1


“Siap, paman.” Balas Jalu. Keduanya mulai memancarkan energi tubuh mereka. Jalu mengeluarkan hawa panas yang membuat beberapa penonton di barisan depan memilih untuk mundur menjauh dari arena pertandingan.


Hawa panas itu semakin melebar karena pancaran energi pendekar Mata Angin menimbulkan pusaran angin di sekitar arena itu. Jalu bersiap mengerahkan serangan dari jurus apinya yang telah ia kembangkan setelah ia menyerap beberapa mustika alam yang meningkatkan kemampuannya secara drastis. Kini kapasitasnya memungkinkan untuk menciptakan jurus panah api yang sangat berbahaya.


__ADS_2