
Kalamerah benar-benar marah. Gigi depannya telah ompong. Ia memerintahkan anak buahnya untuk maju dengan aba-aba dari tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memegangi mulutnya.
Nala melesat dengan tubuh naga petir, menyambar satu per satu lawan-lawannya hingga hangus dan jatuh ke bumi. Sementara itu, Batari Mahadewi hanya perlu menggunakan sedikit tenaganya saja untuk menyentuhkan ujung jarinya dan mengirim lawannya ke alam baka. Sebut saja jurus itu sebagai jurus jari dewa pencabut nyawa.
Satu persatu para raksasa berjatuhan seperti hujan, mayat mereka mengujam bumi dengan keras dan menimbulkan gelegar-gelegar suara serta goncangan yang terus menerus terjadi. Kalamerah dan para pasukan terkuatnya telah mati terlebih dahulu. Kematian yang sangat cepat dan menyedihkan, tanpa bumbu cerita yang panjang.
“Kalian tak menghiraukan peringatanku! Maka inilah janjiku. Jika beruntung saja maka kalian bisa selamat!” teriak Batari Mahadewi dengan suara yang bisa di dengar di segala penjuru, diantara teriakan dan raungan para pasukan raksasa yang bertemu dengan ajal mereka. Gadis itu bergerak dengan sangat cepat, seperti cahaya yang tak bisa dihindari oleh siapapun, dan membunuh para raksasa tanpa mereka sadar bahwa mereka telah mati.
Raksasa yang dibunuh oleh Batari Mahadewi lebih baik nasibnya, setidaknya mereka tak sadar kalau telah mati. Sementara, para raksasa yang dibunuh Nala lebih naas nasibnya. Tubuh mereka hangus dan kadang hancur menjadi beberapa bagian. Mereka masih sempat merasakan sakit sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Kalapati muncul ketika pasukan raksasa itu hampir habis. Ia memperlihatkan wajah yang penuh kegeraman melihat pembantaian keji itu.
“Apa salah kami sehingga kau berbuat seperti ini!” kata Kalapati dengan suara bergetar.
“Tidak ada yang salah, Kalapati. Aku hanya mengabulkan kemauan mereka. Senang bisa bertemu lagi denganmu!” kata Batari Mahadewi.
Nala hanya bisa memperhatikan keduanya dari jarak yang cukup jauh. Ia sadar, kekuatannya tak akan cukup bahkan untuk memberikan bantuan kecil. Namun, ia tak mau meninggalkan kekasih hatinya itu berjuang sendirian. Jantungnya berdegup keras. Baru kali ini ia merasa sangat khawatir. Ia tak mau sekali lagi kehilangan belahan hatinya itu.
“Ayo kita bertarung!” kata Kalapati. Ia mengecilkan tubuhnya hingga seukuran manusia. Lalu mulai menampakkan sedikit kekuatannya. Pancaran kekuatan itu menciptakan dorongan kuat yang mengacaukan arah angin.
__ADS_1
“Aku menantangmu bertarung di pulau sepi, apakah kau keberatan dengan itu?” tanya Batari Mahadewi.
“Tak masalah, di manapun itu!” jawab kalapati.
“Ikuti aku!” ajak Batari Mahadewi. Ia melesat ke arah utara hingga menemukan sebuah pulau yang cukup luas untuk menjadi arena pertarungan, dan pulau itu berada jauh terpencil di tengah lautan. Kalapati mengikutinya dari belakang. Dan agak di belakang, Nala juga melesat mengimbangi kecepatan mereka berdua.
“Di sinilah tempat yang tepat, Kalapati. Kau boleh memancarkan seluruh kekuatanmu!” kata Batari Mahadewi.
“Aku tak perlu memancarkan semua kekuatanku untuk mengalahkan makhluk kecil sepertimu!” jawab Kalapati.
“Baiklah kalau begitu, aku tak akan sungkan!” Batari Mahadewi mulai mengerahkan kekuatannya yang sesungguhnya. Perlahan tubuhnya di selimuti oleh perisai perang berwarna emas. Kamudian, ia menghentakkan energi kejut yang membuat Kalapati sempat terdorong mundur dan cepat-cepat menahan hentakan kekuatannya itu dengan kekuatannya sendiri.
“Jadi itukah kekasihku? Seram sekali…” batin Nala. Tapi ia setia, sekalipun kekasihnya itu berwujud monster. Lagipula, ia sendiri juga berwujud monster yang lebih aneh lagi saat bertempur.
Di angkasa, para dewa masih menunggu di atas tempurung kura-kura emas. Kalapati tahu, tetapi ia tak menghiraukan keberadaan para dewa itu. Ia lebih tertarik dengan sosok monster kuat yang menantangnya itu.
“Raja dewa, kapan kita harus beraksi?”
“Tunggu dulu, kalian harus dalam keadaan baik-baik saja saat mengunci Kalapati. Jadi serahkan dahulu semua ini kepada Maharuna!”
__ADS_1
Kalapati bergerak perlahan mendekati Batari Mahadewi yang diselimuti dengan cahaya keemasan itu. “Jadi inikah kekuatanmu yang sesungguhnya? Jika begitu, aku tak mau kalah darimu!” Kalapati mengerahkan kekuatanya lebih dahsyat lagi, lalu ia segera menyerang Batari Mahadewi, menghujamkan pukulan-pukulan dengan kecepatan tinggi. Batari Mahadewi tak mau menjadi bulan-bulanan, ia juga membalas serangan itu dengan kecepatan yang sama-sama tinggi.
Petarungan mereka sulit dilihat dengan mata. Kadang tubuh mereka benar-benar lenyap, namun suara dentuman pukulan bisa terdengar dengan jelas. Nala hanya melihat guratan-guratan cahaya emas yang menandakan keberadaan Batari Mahadewi. Ia menggutuki dirinya sendiri yang tak bisa memberikan bantuan apapun, sebab ia sendiri pun cukup kesulitan untuk hanya melihat bagaimana pertarungan itu sedang berlangsung.
Tubuh Kalapati terlindungi dengan baik oleh kekuatannya, sehingga tubuh itu sangat keras. Bahkan lengan golok Batari Mahadewi tak bisa melukainya meski berkali-kali sang pusaka dewa itu berhasil mengayunkan lengannya, dan menebas kepala Kalapati!
Mereka berhenti sejenak, saling berhadapan di angkasa.
“Lumayan juga kau ini! Tetapi sepertinya lenganmu yang aneh itu tidak berguna ya?” ejek Kalapati.
“Bagaimana dengan ini!” Batari Mahadewi mengubah bentuk perisai di lengan kirinya menjadi sebuah capit kepiting. Menyenangkan sekali bisa berubah-ubah wujud. Sementara lengan kanannya kembali ke wujud normal, yakni bentuk lengan manusia yang terbungkus perisai dewa.
Keduanya kembali bertempur. Lagi-lagi mereka berdua tak terlihat mata, hanya suara-suara saja yang terdengar, seperti dentuman logam yang bertalu-talu.
Sesaat kemudian, Batari Mahadewi berhasil mencapit tubuh Kalapati, dan berusaha keras terus menekan hingga tubuh itu putus. Namun itu tak terjadi. Meski Kalapati sempat memekik kesakitan, namun ia kembali mengerahkan kekuatannya untuk menahan tekanan dari capit besar itu.
Kalapati lalu menggunakan kedua lengannya untuk memengang capit itu, meregangkannya, dan setelah berhasil, ia membanting Batari Mahadewi hingga tubuh gadis itu meluncur ke bawah, membentur pulau hingga tercipta lubang yang sangat besar dan dalam. Dari atas, Kalapati yang kesal sebab hampir saja tubuhnya cacat gara-gara cepit itu kemudian menghujani Batari Mahadewi dengan pukulan-pukulan cahaya yang menciptakan ledakan di tempat jatuhnya sang pusaka dewa itu. Asap dan debu terus mengepul dan semakin tebal, namun Kalapati masih terus mengerahkan serangannya.
“Aku di sini, bodoh! Apa yang kau lakukan!” Tiba-tiba Batari Mahadewi telah ada di belakang Kalapati, lalu memukul raksasa itu dengan tangannya yang telah berubah bentuk menjadi gada besar.
__ADS_1
Kalapati terpental dan tubuhnya menghantam permukaan laut. Batari Mahadewi membalas dengan cara yang sama, ia mengerahkan garis-garis cahaya dari jari tangannya yang melesat seperti hujan peluru yang mendarat di tempat jatuhnya Kalapati. Serangan itu membuat laut terbakar, dan segala makhluk di sekitarnya matang mendadak, mengapung di permukaan laut.