
Pangeran Andhakara, ratu Ogha dan Rodya menemukan sekelompok raksasa buas yang tengah makan daging binatang di hutan lebat.
“Ogha, mereka yang ada di sana itu akan menjadi percobaan pertama. Lakukan yang terbaik!” perintah Andhakara.
Sang ratu kembali mengeluarkan asap hitam dari tubuhnya. Bibit-bibit jiwa iblis yang tumbuh subur dalam darahnya keluar bersamaan dengan asap hitam yang perlahan merayap menuju ke arah sekelompok raksasa itu.
Hasil dari percobaan itu tak buruk. Sebagian dari kelompok raksasa itu bergerak seperti kesurupan saat kesadarannya diambil alih oleh jiwa iblis. Teman-teman mereka yang tak terjangkit itu hanya bengong dan bingung menyaksikan persitiwa aneh itu. Mereka mau menolong, tetapi tak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Selebihnya, beberapa raksasa yang telah terjangkit itu telah berada di bawah kendali sang ratu dan pangeran kegelapan. Mereka tiba-tiba menyerang teman-temannya dengan buas. Kekuatan raksasa iblis itu jauh lebih kuat dari raksasa biasa. Mereka memancarkan hawa iblis yang kuat, sepekat iblis pada umumnya. Setelah berhasil membunuh teman-temannya itu, mereka belari entah kemana untuk mencari korban baru.
“Tak kusangka, raksasa jelata semacam itu tak semuanya bisa dipengaruhi dengan jiwa iblis,” kata ratu Ogha.
“Tak masalah, dari sedikit itu, mereka tetap akan merepotkan seluruh bangsa raksasa. Sebentar lagi, jiwa-jiwa iblis akan mulai menyebar, seperti halnya yang terjadi pada bangsa manusia itu. Ayo kita cari korban lainnya!”
“Baik, pangeran.”
Mereka kembali bergerak ke tempat lain, mencari korban baru untuk dijadikan iblis. Barulah setelah mereka berhasil menciptakan setidaknya seratus raksasa iblis, mereka kembali ke istananya. Yuri, Samara dan sepuluh anaknya belum kembali. Mereka melakukan perjalanan jauh, menelusuri setiap pulau untuk menemukan keberadaan bangsa raksasa lainnya.
Dalam satu hari itu, bangsa raksasa yang dipimpin oleh Kalahitam telah banyak kehilangan pasukan. Semua pasukan yang dikerahkan di wilayah barat ludes tak bersisa. Sementara, kekacauan baru mulai muncul di wilayahnya.
Seratus raksasa iblis itu telah menularkan jiwa-jiwa iblis pada lebih banyak raksasa lainnya. Negri raksasa itu sedang riuh. Tak ada waktu untuk bersantai, raja Kalahitam mengerahkan seluruh raksasa ksatria untuk menumpas saudara-saudara mereka yang telah menjadi iblis itu.
__ADS_1
Kalahitam sangat geram. Ia telah kebobolan hanya karena keteledoran kecil, yakni menyepelekan bangsa iblis. Belum tuntas mereka menyelesaikan masalah di wilayah dalam, manusia iblis yang tersisa pada pertempuran hari itu mulai bergerak memasuki wilayah tengah.
Seluruh raksasa ksatria yang jumlahnya tak lebih dari lima puluh ribu itu harus bekerja ekstra keras sampai-sampai Kalahitam harus ikut turun tangan langsung.
Raja raksasa yang berukuran tiga kali lebih besar dari raksasa pada umumnya itu mengamuk menerjang barisan manusia iblis yang mulai masuk di wilayahnya. Senjata gada emas sebesar pohon kelapa miliknya itu mampu menghancurkan puluhan manusia iblis dalam satu kali hentakan.
Namun jumlah manusia iblis itu jauh lebih banyak dari jumlah bangsa raksasa. Untuk melenyapkan mereka semua tidaklah mudah. Ditambah lagi, mereka semua tak kenal takut dan seolah tak memiliki rasa lelah. Mereka berhenti bergerak hanya jika mereka telah mati.
Bail yang memantau pertarungan dari jauh itu merasa tidak bagus jika seluruh pasukannya terus menerus menyerang. Ia menarik mundur satu juta pasukan yang tersisa. Dan membawanya kembali menuju ke istana hitam di wilayah barat. Sementara, pasukan raksasa itu tak mengejarnya. Mereka terlalu lelah. Belum lagi masih ada hal yang belum beres di wilayah mereka sendiri.
Kalahitam menutup seluruh jalur masuk ke kota kerajaan yang telah ia dirikan di wilayah itu. Ia tak mau wabah jiwa iblis merebak ke pusat kekuasaannya itu. Di sepanjang benteng kota yang setinggi gunung itu dijaga ketat oleh para pasukannya yang hanya tinggal setengah.
Di luar benteng, masih ada beberapa manusia iblis dan raksasa iblis yang masih hidup, berkeliaran mencari korban-korban lainnya yang tersebar di seluruh wilayah tengah pulau Siwarkatantra.
“Paduka, masalah ini bukanlah masalah sederhana. Yang kita hadapi adalah manusia dan raksasa yang telah berubah menjadi iblis. kita belum menghadapi iblis yang sesungguhnya. Apakah kita bisa menang?” kata salah satu petinggi istana di sana.
“Betul paduka, belum lagi mereka bisa pulih dengan cepat dan jumlah mereka bertambah banyak lagi,” yang lain menambahkan.
Lalu jendral perang bangsa iblis itu juga ikut menyumbang pemikirannya yang tak seberapa itu, sekedar untuk menutupi rasa malu dan rasa bersalah atas keteledorannya. “Hamba yakin, dan sepengamatan hamba, makhluk-makhluk iblis itu dikendalikan dari jarak jauh. Jika kita bisa membunuh yang mengendalikannya, kita bisa memenangkan perang ini!”
“Kau melihatnya sendiri?” tanya sang raja.
__ADS_1
“Benar, paduka. Ada iblis yang bersembunyi sangat jauh di belakang para manusia iblis yang menyerbu dari arah barat itu. Dia iblis yang sebenarnya dan tak pernah turun langsung ke medan perang,” kata jendral itu.
“Lalu menurutmu, apa yang harus kita lakukan?” tanya raja kepada jendral itu.
“Kita serang istana mereka di barat. Kita kerahkan semua kekuatan kita. Tak usah pedulikan bangsa kita atau bangsa manusia iblis yang telah menyebar luas itu. Jika kita berhasil membunuh iblis sejati itu, aku yakin bangsa kita atau bangsa manusia itu juga bebas seperti sediakala!” kata sang jendral. Tentu iblis sejati yang ia maksud adalah Bail.
“Tunggu dulu, maaf menyela, paduka. Tetapi menurut hamba, belum tentu iblis sejati itu ada di istana mereka. Kita harus cari tahu dulu, apa tujuan mereka menciptakan kekacauan ini?!” kata salah satu petinggi istana itu.
“Sejak dulu, bangsa iblis memang ingin menguasai dunia. Hnya saja, dulu masih ada para dewa. Sehingga kejadian seperti ini tak pernah terjadi! Mungkin mereka semua ingin menjadikan kita semua sebagai budak-budak iblis!” kata petinggi yang lain.
“Semua diam dulu!” bentak sang raja. Wajahnya merah padam. “Kalian semua benar. Besok, aku ingin mengirimkan beberapa dari kita untuk memberitahukan hal ini kepada Kalamerah, Kalahijau, dan Kalajingga. Mereka harus bersiap-siap. Selebihnya, kita semua akan mencoba mencari keberadaan iblis itu. Bunuh mereka sebelum mereka membuat lebih banyak pasukan lagi!”
“Tidakkah sebaiknya kita juga memberitahukan hal ini kepada baginda Kalapati?” tanya salah satu dari bawahan raja.
“Bodoh! Kita turun ke dunia ini atas permintaan kita sendiri. Beliau akan murka dan membunuh kita jika sampai tahu kita bertindak seperti pengecut yang tak bisa menyelesaikan masalah kita sendiri!” bentak sang raja. Semua terdiam.
“Jadi, besok kita semua pergi mencari para iblis itu. Kita tinggalkan istana ini. Kita hiraukan semua kekacauan yang telah terjadi,” kata sang raja.
“Baik, paduka!”
Rapat selesai. Mereka segera mempersiapkan apa yang harus disiapkan. Sementara itu, sang raja sendiri memiliki rencana lain. Jika ia gagal dalam penyerangan esok hari, ia akan pergi menemui Kalamerah. Dengan kata lain, ia akan melarikan diri dan merelakan rakyatnya gugur ditelan bangsa iblis.
__ADS_1
Keesokan harinya, dua puluh lima ribu pasukan telah siap berangkat ke wilayah barat. Beberapa utusan yang harus pergi ke istana raksasa di pulau lainnya untuk menyampaikan berita itu telah diberangkatkan beberapa saat setelah rapat semalam selesai.
Rencana penyerangan bangsa raksasa itu sangat tidak matang dan tergesa-gesa, dan memang itulah yang diharapkan oleh Andhakara. Sang pangeran kegelapan itu sedang senang hatinya, sebab rencananya untuk menguasai seluruh Siwarkatantra sebentar lagi akan segera terwujud. Selebihnya, ia akan bergerak ke pulau lainnya, melebarkan sayap-sayap iblis ke segala penjuru dunia.