Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 62 Segel Ke Lima


__ADS_3

Perempuan yang mirip Niken itu ternyata bukan Niken. Ada sedikit rasa kecewa dalam hati Jalu. Jika bukan karena ia rindu, tentu ia sangat bisa membedakan mana Niken dan mana yang bukan meskipun ia tak perlu menggunakan kedua matanya untuk mengenali Niken. Rasa rindu membuatnya sedikit bodoh dan sering kehilangan ketenangannya.


Jalu memasuki kedai makan itu, lalu memesan seporsi makanan kepada pelayan yang mempersilahkannya masuk dan mengantarkannya ke salah satu meja yang kosong. Sambil menunggu pesanannya, ia melamun. Memandang kosong ke meja kosong di hadapannya itu.


Jalu teringat pelajaran Agrapana dalam semedinya. Bulu kuduknnya berdiri jika ia teringat pedang apinya menebas leher kakek itu yang menjelma dalam bentuk Niken. Ia serasa menebas lehernya sendiri. Tiba-tiba saja, hatinya merasa sangat gelisah. ‘Apakah Niken baik-baik saja? Bagaimana jika ia…’ Jalu tak berani membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi.


‘Apa yang harus aku katakan kepada guru jika Niken tak pernah kembali…lebih jauh lagi, apa yang harus kulakukan? Hatiku telah sepenuhnya untuk Niken…jika bukan kepadanya, ah…’ Hati Jalu bergejolak. Ia begitu kaget ketika tiba-tiba pelayan kedai itu mengantarkan pesanannya.


“Selamat Makan, tuan muda.” Kata pelayan kedai itu.


“Terimakasih, bibi.” Kata Jalu.


Ia merasa sangat ceroboh sampai-sampai tak menyadari kehadiran pelayan yang mengantarkan makanan itu. Jika pedang yang melayang ke arahnya, maka ia tak akan sempat menyicipi pesanan makanannya itu. Ia segera melahap makanannya tanpa sadar bahwa sepasang pendekar di kedai itu sedang mengawasinya dengan seksama.


####


Batari Mahadewi terus menyerang kakek Agrapana dengan kekuatan penuh. Kakek tua yang menjelma sebagai dirinya itu tampak tak bergeming dengan serangan-serangannya, dan seolah tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia kehabisan energi.


Batari Tak segan-segan untuk menggunakan kekuatan penuhnya karena ia tahu, kakek itu tak akan bisa dibunuh dalam meditasinya. Beberapa kali Batari Mahadewi menggunakan jurus Tapak Petir dan Pukulan Matahari, dua jurus legenda yang belum pernah ia gunakan selama ini. Ia sendiri kaget dengan daya hancur dari jurus itu dan separuh energinya telah terkuras gara-gara menggunakan jurus-jurus puncak dari Ilmu Matahari dan Ilmu Kitab Langit.


Tubuh Batari Mahadewi gemetar menahan efek sakit dari jurus yang ia gunakan sendiri. Energinya belum cukup tinggi untuk menahan dampak buruk dari jurus-jurus legendaris. Maka, ia mengurungkan niatnya untuk mencoba jurus pamungkas dari Ilmu Raga Membelah Bumi.

__ADS_1


Kakek Agrapana tak terlihat lelah sedikitpun, seolah energinya tak pernah habis. “Ayo Batari Mahadewi. Jangan batasi dirimu dengan keraguan. Jangan biarkan pikiran terlalu mengendalikan tubuhmu. Biarkan tubuhmu menggunakan nalurinya untuk bertarung. Gunakan jurus yang tak pernah kau gunakan itu!” kata Agrapana.


‘Bagaimana bisa kakek ini mengetahui semua jurusku, bahkan yang belum aku gunakan…ia bisa meniru jurusku dan menggunakannya dengan mudah…’ Batin Batari Mahadewi.


“Aku tahu semua jurusmu. Jangan ragu.” Kata Agrapana.


‘Kakek ini juga bisa  membaca pikiranku…’ batin Batari Mahadewi.


Agrapana hanya tersenyum. Ia tahu semua hal yang ada dalam benak Batari Mahadewi. Semakin gadis sakti itu berfikir, maka semakin banyak yang diketahui oleh kakek Agrapana.


“Kukatakan satu hal padamu, jika kau ingin mengalahkanku, berhentilah berfikir. Gunakan tubuhmu. Hanya tubuhmu.” Kata Agrapana.


Batari Mahadewi masih belum bisa melepaskan pikirannya. Namun ia belum patah semangat. Ia memutuskan untuk mencoba jurus yang belum pernah ia coba, jurus Raga Membelah Bumi. Batari Mahadewi merentangkan kedua tangannya hingga ke atas, menyedot seluruh energi dari sekelilingnya sebanyak dan secepat yang ia bisa.


Tubuh Batari Mahadewi diam tak bergerak. Pancaran energinya sirna dan bentuk tubuhnya kembali ke ukuran semula. Ia tak sadarkan diri. Namun dalam ketaksadarannya itu, tubuhnya menyerap energi di sekitarnya jauh lebih cepat dan kuat dari sebelumnya. Bahkan, energi Agrapana ikut terserap. Kakek itu menjauh dan memandang hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ruang putih yang sangat luas itu perlahan menyempit dan menampakkan batas tepinya, seolah energi yang menciptakan ruangan itu ikut tersedot dalam tubuh Batari Mahadewi.


Bola energi berwarna emas menyelubungi tubuh Batari Mahadewi yang masih pingsan. Kakek Agrapana meninggalkan Batari Mahadewi di sana seorang diri hingga tubuh gadis kecil itu selesai memulihkan diri.


Selama satu hari penuh Batari Mahadewi tak sadarkan diri. Selubung emas yang menyelimuti tubuhnya telah sirna. Batari Mahadewi membuka mata. Ia memandang ke sekeliling, mencari keberadaan kakek Agrapana. Namun tak ada siapapun di sana. Bahkan energi kakek itu tak ia rasakan keberadaannya.


Batari Mahadewi mencoba untuk mengingat apa saja yang telah ia alami. Jurus Raga Membelah Bumi membuatnya kehilangan tenaga dan ia juga harus menahan jurus yang sama yang dilontarkan oleh kakek Agrapana.

__ADS_1


Batari Mahadewi belum menyadari bahwa kedua lengannya kini telah berubah menjadi logam berwarna keemasan. Ketika ia memeriksa tubuhnya untuk melihat luka apa saja yang ia alami, ia terperangah melihat lengannya yang menjadi logam keemasan. Ia juga kaget mengetahui tak ada luka apapun di tubuhnya, malahan ia merasakan tubuhnya terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Sesaat kemudian, kakek Agrapana menampakkan diri dalam wujud aslinya. “Kau sudah siuman, nona kecil. Sekarang kau jauh lebih kuat dari sebelumnya. Mungkin aku mengetahui beberapa hal tentang dirimu.” Kata Agrapana.


“Aku tak mengerti, kakek, kenapa tanganku berubah menjadi seperti ini?!” Kata Batari Mahadewi.


“Di dalam tubuhmu ada 12 segel yang mengunci seluruh kemampuanmu dan seluruh energimu. Saat ini kau telah berhasil membuka 5 segel dalam tubuhmu dan dengan terbukanya segel ke lima ini, maka tubuhmu mengalami perubahan. Tak hanya itu, kini kau memiliki 14 indera dalam tubuhmu. Jika sebelumnya kau belum mengerti kenapa kau bisa dengan sendirinya membaca banyak jenis aksara, dan mengerti banyak bahasa, itu karena salah satu sebabnya kau telah memiliki lebih dari 10 indera.” Agrapana menjelaskan.


Batari Mahadewi hanya terdiam mendengar penjelasan kakek tua itu karena ia memang tak memahami keanehan dalam tubuhnya.


Agrapana melanjutkan, “Kau juga memiliki pendengaran, penglihatan, serta mampu merasakan hal-hal di luar dirimu jauh lebih tajam dan peka dari siapapun juga saat ini. Mungkin kau satu-satunya yang telah memiliki 14 indera dalam tubuhmu. Hanya saja aku tak tahu, siapa yang menyegel kekuatanmu itu dan bagaimana kau memiliki semua ini. Mungkin saja tiap kali kau melakukan hal yang membuatmu bisa melampaui batasanmu, maka segel energi dalam tubuhmu akan terbuka dengan sendirinya.”


Agrapana diam sejenak, lalu ia melanjutkan penjelasannya. “Kau bisa membuka segelmu dengan cara menyerap banyak energi. Mungkin itu saja caranya. Sewaktu kau tak sadarkan diri, tubuhmu dengan sendirinya menyerap energi. Satu hal yang kusimpulkan, untuk membuka tiap segel berikutnya, kau membutuhkan energi yang jauh lebih besar dari yang kau miliki sekarang ini. Setidaknya, saat ini, kesadaranmu, pikiranmu, akan menjadi penghalang bagi pencapaianmu.”


“Aku mulai memahaminya sekarang kakek. Tapi ada satu hal saja yang masih menjadi ganjalan. Kenapa tubuhku harus berubah seperti ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Sejauh yang aku tahu, kamu pasti akan mengalami perubahan. Soal kenapa tanganmu menjadi logam berwarna emas, itu aku tak mengerti. Tapi sebenarnya tak hanya itu saja. Lihat tubuhmu sekarang, ukuran tubuhmu menjadi jauh lebih besar dan tinggi dari sebelumnya. Ini mengagumkan, aku tak pernah melihat manusia yang berkembang seperti dirimu.” Jawab Kakek Agrapana.


Batari Mahadewi kembali mengamati perubahan tubuhnya. Kakek itu benar, ia merasa lebih tinggi dan besar. Batari Mahadewi juga tak menyangka bahwa ia telah memiliki 14 indera pada tubuhnya dan ada 12 segel yang harus ia buka untuk meningkatkan kemampuannya


“Sekarang, yang harus kau alami lagi adalah mencari cara untuk mengalahkanku. Kau harus menemukannya sendiri. Sudah ku katakan sebelumnya, jangan gunakan pikiranmu untuk menyerangku.” Kata Agrapana.

__ADS_1


Batari Mahadewi hening sejenak, ia lalu tersenyum. “Baik kakek, sepertinya aku tahu caranya untuk mengalahkanmu.”


__ADS_2