
Kuburan itu merupakan kuburan umum desa Air Kehidupan dan keluarga siapapun boleh menguburkan sanak keluarganya yang meninggal dengan caranya masing-masing. Bisa dibilang, toleransi antar budaya di desa itu berjalan dengan baik.
Kuburan itu sangat luas dan banyak terdapat makam-makam kuno yang diantaranya adalah makam pendekar terkenal di masa lalu. Makam semacam itu selalu tampak megah diantara makam lainnya.
“Kurasa memang sulit untuk menangkap pencuri ini jika dilakukan oleh warga biasa. Kemungkinan besar mereka akan ketakutan berjaga di kuburan ini malam hari.” Kata Jalu.
“Ya, aku dapat merasakan energi yang kuat di tempat ini.” Kata Batari Mahadewi. Lalu kemudia ia mendatangi sebuah pohon tua yang berukuran besar dan rimbun di kuburan itu. Ia berdiam sejenak, seolah tampak seperti berbincang-bincang dengan pohon itu. Jalu dan Niken hanya berpandangan saja menyaksikan tingkah Batari Mahadewi yang aneh itu.
Sesaat kemudian, Batari Mahadewi mendatangi kedua kakak seperguruannya. “Sepertinya aku tahu siapa pencuri itu.” Kata Batari Mahadewi.
“Ha? Semudah itu?” tanya Jalu tidak percaya.
“Sulit menjelaskannya. Tapi ini tidak sesederhana menemukan pencuri itu. Aku yakin ada hal besar di balik pencurian ini. Tentu saja kita bisa bertindak sendiri, tanpa melibatkan warga, dan mereka tak akan pernah tahu kalau pencuri ini bisa kita lenyapkan. Hanya saja, dibelakang pencuri ini ada kelompok yang menyuruhnya.” Kata Batari Mahadewi.
“Menurutmu siapa pencurinya?” Tanya Niken.
“Kakak ingat ketika kita makan di kedai setelah lembah kematian kemarin? Di meja bagian pojok kedai itu ada dua orang yang sedang bercakap-cakap. Laki-laki yang tinggi itulah pencurinya dan kurasa seseorang yang bersamanya ada kaitannya dengan pencurian ini.” Kata Batari Mahadewi. “Yang pasti, pencuri ini akan terus beraksi sebelum menemukan yang ia cari.”
“Menurutmu, apa yang ia cari?” tanya Jalu.
“Tepat seperti dugaan kakak sebelumnya, pencuri ini ingin mencari tengkorak pendekar sakti yang dimakamkan disini. Aku tahu letaknya dimana. Pendekar itu tidak dikuburkan dengan kuburan yang besar. Lihat ke arah sana.” Batari Mahadewi menunjuk sebuah pohon besar yang lain agak jauh dari pohon yang ia dekati sebelumnya.
“Kuburan pendekar itu tak akan terlacak. Dengan begitu rahasianya yang ia simpan dalam tulang-tulangnya akan tersimpan rapi, kecuali para siluman yang mencarinya.” Batari Mahadewi melanjutkan. “Kita bisa tahu kejelasannya kalau bisa menangkap pencuri itu hidup-hidup. Nanti malam kita akan mengintainya.”
“Kurasa malam ini beberapa warga akan menjaga kuburan ini. Jadi sebaiknya kita tidak berurusan dengan mereka mengingat kita juga baru saja sampai di desa ini. Aku khawatir mereka akan salah sasaran.” Kata Jalu.
__ADS_1
“Jadi sebaiknya kita lakukan diam-diam?” Tanya Niken.
“Ya.” Jawab Jalu. “Bisa saja kita cari orang itu sekarang. Tapi sepertinya lebih menarik kalau kita bisa memergokinya ketika ia sedang beraksi. “
Mereka kemudian bergegas kembali ke penginapan. Setibanya di sana, Batari Mahadewi meminta izin dari kakak
seperguruannya untuk berjalan-jalan sebentar sendirian.
“Kau yakin ingin jalan-jalan sendirian?” tanya Jalu.
“Jangan khawatir. Di sini tak ada yang akan mencelakakanku, setidaknya untuk saat ini.” Kata Batari Mahadewi sambil tersenyum, lalu ia berjalan-jalan sendirian, menaiki sebuah bukit kecil di depan penginapan.
“Anak itu sungguh luar biasa. Sampai sekarangpun aku tak bisa berhenti kaget dengan hal-hal yang ia lakukan.” Kata Jalu kepada Niken.
“Ya, guru tak pernah salah mengangkat murid. Batari Mahadewi anak gadis yang tangguh, dan mungkin di masa depan ia akan menjadi salah satu legenda dunia persilatan. Aku tak mengerti bagaimana ia bisa memperoleh kemampuan-kemampuan langka itu yang menurutku di luar kewajaran manusia.” Kata Niken.
“Batari Mahadewi memang pendiam, tapi sebetulnya ia akan bicara panjang lebar pada saat-saat tertentu. Seperti tadi di kuburan. Dia pernah mengatakan padaku kalau ia sendiri tak tahu bagaimana caranya ia bisa menjadi seperti itu.” Kata Niken.
“Ya, kita baru beberapa hari bersamanya. Lambat laun pasti kita tahu misteri dari Batari Mahadewi. Kira-kira apa yang akan dia lakukan sendirian saat ini?” tanya Jalu.
“Entahlah, kita tunggu saja sampai ia pulang nanti.” Jawab Niken.
Batari Mahadewi menaiki bukit itu dan mencari pohon tertinggi yang tumbuh di sana, lalu dengan segera ia melompat ke atas pohon itu. Dari sana ia bisa melihat wilayah desa itu sepenuhnya memetakan keberadaannya, jalan-jalan kecil, dan bangunan-bangunan besar yang ada di sana.
Batari Mahadewi memusatkan pikirannya dan mencoba terhubung dengan pijaran energi sejauh yang bisa ia tangkap. Tak kusangka tempat ini dihuni oleh banyak pendekar. Apa yang mereka cari di tempat ini? batin Batari Mahadewi.
__ADS_1
Lalu ia terusik dengan untuk melihat ke salah satu bangunan bertingkat di desa itu, bangunan yang mirip menara dengan tiga atap. Ada energi yang aneh di sana, tapi apa itu? batin Batari Mahadewi.
Sekilas Batari Mahadewi tergoda untuk berjalan menuju bangunan itu, namun ia membatalkannya karena tak ingin membuat kakak seperguruannya cemas. Ia pun kembali ke penginapan. Hari sudah kelewat siang. Langit mulai mendung dan sebentar lagi akan turun hujan. Batari Mahadewi segera bergegas.
“Ada hal menarik yang kau temukan, adik?’ tanya Niken.
“Tidak banyak petunjuk kakak, jadi mungkin kita lakukan saja rencana kita nanti malam.” Kata Batari Mahadewi.
“Bagaimana jika malam nanti hujan. Menurutmu apakah pencuri itu akan datang dan beraksi dalam hujan?” tanya Niken kepada Jalu.
“Justru ia akan beraksi ketika hujan. Saat itu tak akan ada yang berjaga di kuburan.” Kata Jalu.
“Baiklah. Kurasa nanti malam akan terasa dingin di sana.” Kata Niken.
“Kurasa tubuhmu jauh lebih dingin dari hujan. Tapi tenanglah, aku selalu berbagi api untukmu.” Kata Jalu menggodanya.
Niken tertawa sambil tersipu malu.
“Es dan api tak pernah akur, tapi kurasa kalian saling melengkapi.” Kata Batari Mahadewi gantian menggoda mereka berdua. “Tenang, aku tak akan berceritakepada guru, toh beliau sudah mengerti.” Kata Batari Mahadewi terus menggoda mereka berdua yang mulai sedikit salah tingkah.
“Ternyata kau juga bisa bercanda, adik. Ku kira kau sangat pendiam.” Kata Jalu mengalihkan topik pembicaraan.
“Tenang saja kakak-kakaku, aku punya selera humor yang tinggi. Hanya saja ku tak tahu apakah kalian akan menyukainya atau tidak.” Kata Batari Mahadewi. Niken tersedak mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Batari Mahadewi, lalu ia tertawa terbahak-bahak.
“Astaga adik!!! Yang barusan itu seharusnya tidak lucu, tapi aku tak tahu kenapa aku tiba-tiba tertawa mendengarnya.” Kata Niken sembari mencoba menghentikan tawanya yang membuat wajahnya memerah.
__ADS_1
Jalu menggaruk-garuk kepala, mencoba mencari letak kelucuan yang membuat Niken tertawa puas, hingga akhirnya ia ikut tertawa hanya karena melihat Niken tertawa, dan melihat Batari Mahadewi yang memasang
tampang polos.