Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 200 Panglima Kera Api


__ADS_3

Sementara kerajaan-kerajaan di wilayah timur sedang memperhitungkan banyak hal untuk menyikapi kedatangan kerajaan hitam Tirayamani, maka di wilayah barat, ketegangan sudah terjadi.


Sebelum ratu Ogha tiba di bagian barat Mahabhumi, delapan puluh ribu pasukan kerajaan hitam Tirayamani yang telah datang terlebih dahulu di sana telah bergerak terlalu jauh dari apa yang telah diperintahkan sang ratu. Delapan puluh ribu pasukan itu dipimpin oleh seorang panglima perang kepercayaan ratu Ogha, yakni panglima Kera Api. Dia adalah pendekar setengah siluman yang berwujud manusia kera. Seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu kera berwarna merah. Sebagaimana Jalu, panglima Kera Api juga memiliki tubuh api.


Tak hanya tubuh api itu saja yang menjadikannya sebagai pendekar tangguh di Tirayamani, panglima Kera Api memiliki ilmu sihir tingkat tinggi dan dengan kemampuannya itu ia bahkan bisa merubah pepohonan menjadi monster yang tunduk pada perintahnya. Maka, layaklah ia menjadi seorang panglima yang membawahi delapan puluh ribu pasukan Tirayamani yang bergerak terlebih dahulu untuk sampai di pelabuhan paling barat di pulau Mahabhumi.


Dari delapan puluh ribu pasukan yang semuanya merupakan pendekar dengan ilmu dan kekuatan tinggkat tinggi itu, separuh dari seluruh prajurit itu telah bergerak untuk menaklukkan kota-kota di Catrabhumi, dan selanjutnya membayang-bayangi pergerakan kekuatan pasukan kerajaan yang dipimpin oleh raja Talawangsa itu.


Empat puluh ribu pasukan pendekar hitam lebih dari cukup untuk menaklukkan kerajaan Catrabhumi, terlebih mereka semua jelas jauh lebih unggul jika dibandingkan dengan tiga ribu pasukan hitam yang menyerang Swargadwipa waktu itu.


Kerajaan Catrabhumi hanya sendirian saja menghadapi malapetaka itu. Kerajaan yang terletak di sebelah timurnya, yakni kerajaan Catrawana, memilih untuk mundur ke timur menuju kerajaan Swargawana dan bergabung dengan pasukan lainnya dari kerajaan Swargabhumi dan Swargaranu.


Raja Talawangsa mengumpat kesal karena ia merasa ditinggalkan oleh para sekutunya. Namun di saat yang sama, ia juga menyadari bahwa tak mungkin cukup waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan seluruh kekuatan kerajaan-kerajaan aliansi wilayah barat ke Catrabhumi. Nyatanya, para pasukan kerajaan hitam bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan. Mereka sangat berbeda dan masing-masing prajurit merupakan pendekar yang mandiri; mereka bisa melesat secepat angin untuk datang ke wilayah-wilayah tertentu.


Sedikit waktu yang dimiliki oleh raja Talawangsa dipergunakan untuk mengumpulkan seluruh pendekar dari semua perguruan beladiri di Catrabhumi. Semua pendekar dari segala umur yang ada di Catrabhumi jika dikumpulkan hanya berjumlah tak lebih dari tigapuluh ribu pendekar saja. Sebagian besar dari mereka hanya berilmu sedang dan bahkan sungguh tak sepadan jika mereka hanya melawan seribu pasukan Tirayamai saja.

__ADS_1


Sehingga, lima ratus ribu prajurit dan anggaplah tiga puluh ribu pendekar Catrabhumi akan mati dalam sekejab melawan separuh dari delapan puluh ribu pendekar yang dipimpin langsung oleh panglima Kera Api. Ia sungguh haus pertarungan sehingga tak mau jika harus berdiam diri di pelabuhan.


Melihat kenyataan bahwa lawan-lawan yang akan di taklukkan di Mahabhumi merupakan lawan empuk, panglima Kera Api melupakan perintah sang ratu untuk bersabar dan mau menunggu kedatangannya sebelum mulai menyerang dan menaklukkan kerajaan-kerajaan di Mahabhumi satu-persatu. Tentu saja, panglima itu tak benar-benar tahu apa yang ada dalam benak sang ratu.


Yang ada dalam kepala panglima itu hanya membunuh dan membunuh sebanyak mungkin lawan-lawannya. Ia berhasrat untuk menaklukkan semua kerajaan tanpa bantuan sang ratu dan dengan begitu ia mengira bahwa ia akan mendapatkan pujian dari ratu tercantik yang umurnya telah mencapai ribuan tahun itu. Pada dasarnya para pasukan kerajaan hitam memang senang membunuh. Mereka kuat namun tak terlalu cerdik. Dalam hal ini, kekuatan merupakan kelemahan.


Pada suatu malam setelah beberapa hari pasukan kerajaan hitam itu menginjakkan kaki di pulau Mahabhumi, panglima Kera Api bersama dengan empat puluh ribu pasukannya telah mengepung kota kerajaan Catrabhumi.


Mula-mula, sebelum ia memerintahkan anak buahnya untuk menikmati pesta pembantaian di malam itu, panglima Kera Api mengubah rerumputan kering menjadi ratusan ribu lebah beracun yang terbang dan menyerang siapa saja yang ada di dalam benteng kota kerajaan Catrabhumi.


Para pendekar Catrabhumi yang belum selesai berurusan dengan lebah-lebah yang diciptakan dari sihir panglima Kera Api sungguh tak siap jika harus menghadapi serangan-serangan racun yang seolah-olah datang dari segala penjuru arah.


Dalam waktu singkat, kerajaan Catrabhumi telah jatuh tanpa perlawanan yang berarti menghadapi ilmu hitam dan ilmu sihir dari pasukan Tirayamani. Raja Talawangsa dipermalukan. Ia tak langsung dibunuh, melainkan dibiarkan melihat sang permaisuri dan para putri-putrinya dilecehkan beramai-ramai oleh para pendekar buas itu.


Setelahnya, Talawangsa dibiarkan hidup meski pada akhinya ia memilih mati bunuh diri karena tak kuat menahan beban batin atas apa yang telah ia saksikan. Belum pernah seumur hidup ia melihat manusia-manusia yang lebih buas dari binatang.

__ADS_1


Berita jatuhnya kerajaan Catrabhumi dalam waktu singkat itu membuat empat kerajaan wilayah barat yang tersisa gemetar. Namun mereka yakin masih bisa bertahan untuk menghadapi seluruh pasukan Tirayamani yang telah datang di Mahabhumi itu jika mereka menyerang sebelum ratu mereka dan bala tentara lainnya yang lebih banyak jumlahnya akan telah sampai di pelabuhan barat Catrabhumi.


Panglima Kera Api terlalu berpuas diri atas kemenangan yang mudah itu. Ia menjadi pongah dan lupa daratan. Ia tak tahu bahwa setidaknya ada beberapa tetua pendekar dari wilayah barat bersama dengan hampir tiga ratus ribu pendekar gabungan dari empat kerajaan ditambah dengan tiga juta pasukan yang bergabung menjadi satu.


Keempat kerajaan wilayah barat yang tersisa itu harus bekerja dengan cepat untuk mempersiapkan kedatangan panglima Kera Api dan para pasukannya. Berbagai jenis senjata penangkal ilmu hitam dan ilmu sihir telah dipersiapkan atas petunjuk para tetua pendekar dari wilayah barat itu yang bagaimanapun juga mereka adalah para pendekar papan atas sekelas Ki Gading Putih. Sudah lama mereka mengundurkan diri dari dunia persilatan. Mereka terpaksa harus kembali lagi ke medan laga mengingat situasi yang terjadi merupakan situasi darurat.


Beberapa minggu berikutnya, panglima Kera Api membawa serta tujuh puluh ribu pasukannya untuk bergerak menuju Swargawana dan hanya menyiskan lima ribu pasukan saja untuk mendiami kerajaan Catrabhumi dan lima ribu lainnya untuk berjaga di kerajaan Catrawana yang telah kosong; semua pasukan dan keluarga kerajaan telah mengungsi ke Swargawana.


Kali ini, panglima Kera Api tak ingin terburu-buru untuk menantang seluruh pendekar dan pasukan yang jumlahnya sangat besar. Panglima itu tak menyangka jika beberapa kerajaan telah bergabung dan menjadi satu di Swargawana sekaligus menjadi benteng yang menghalangi pergerakannya ke wilayah-wilayah timur.


Mula-mula, ia hanya mengira bahwa kerajaan Swargawana hanya bergabung dengan kekuatan Catrawana yang telah mengungsi ke sana. Padahal, di sana telah menunggu kekuatan dari kerajaan Swagabhumi dan Swargaranu. Ia harus memikirkan siasat jitu untuk menghindari banyak korban pada pihaknya. Ia percaya dengan kekuatan yang ia miliki, ia bisa menang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2