
Sungguh naas, alih-alih ingin mengajak kompromi siluman gurita itu, namun begitu sang siluman telah sampai di tepian, beberapa kaki panjangnya yang lengket dan berlendir telah menyambar empat pendekar yang ada di sana dan melilit tubuh mereka hingga hancur.
Dengan demikian, sang pemimpin sekelompok pendekar itu langsung paham bahwa lawannya tak bisa diajak kompromi, dan tentu saja, mereka sungguh terlambat untuk melarikan diri. Kaki mereka sama sekali tak bisa digerakkan untuk berlari. Kaku. Maka, mereka hanya punya sedikit waktu saja untuk berdoa sebelum ajal menjemput.
Sungguh beruntung, Nala tak mau membiarkan siluman gurita itu menambah jumlah korban. Sebelum sebuah kaki gurita yang besar itu menyambar tubuh semua pendekar yang tak bisa bergerak itu, Nala tiba-tiba muncul dan menangkis sambaran kaki besar dan lengket itu dengan tangan kirinya.
Tak hanya itu, dengan sedikit kekuatan yang dikerahkan Nala, kaki gurita itu hangus menjadi abu. Siluman itu menyadari bahwa lawannya sekarang adalah sosok yang tak mungkin ia lawan, maka dengan segenap keyakinan, gurita itu melesat mundur dan menenggelamkan dirinya ke dalam laut.
Nala tak mau membiarkannya lolos. Lelaki itu yakin bahwa siluman itu kelak akan datang lagi. Nala melesat masuk ke dalam laut dan menyusul monster besar itu. Suasana di pinggir laut itu hening. Semua orang masih terlalu tegang untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
Tak lama kemudian, cahaya jingga menyeruak ke angkasa, disusul dengan tubuh siluman gurita yang terlempar ke atas, lalu Nala menyusulnya, menghantam tubuh monster besar itu dari bawah dan mendorongnya hingga jauh ke langit malam. Di sanalah Nala meledakkan tubuh siluman itu. Sejenak cahaya terang berpendar di langit, lalu sesaat kemudian kembali menjadi gelap. Monster itu hancur menjadi debu setelah Nala berhasil merenggut mustikanya. Lumayan, mustika siluman berumur seribu tahun.
Setelah itu, Nala tak memperlihatkan diri. Ia menyaksikan orang-orang yang tengah sibuk untuk mengurus potongan-potongan mayat beberapa pendekar yang menjadi korban keganasan siluman itu. Setelahnya, suasana kembali hening. Semua orang kembali ke rumah masing-masing, membawa pulang cerita seram sekaligus menarik untuk diceritakan selama beberapa tahun ke depan.
Keesokan paginya, Nala telah terlihat duduk sendirian di tepi laut. Beberapa nelayan mulai terlihat beraktivitas, membenahi kapal-kapal mereka yang rusak akibat kengerian semalam. Ki Janggut berjalan tergesa-gesa menghampiri Nala.
“Tuan, terimakasih banyak. Sungguh apa jadinya jika tuan tak menyelamatkan kami tadi malam,” kata ki Janggut.
“Tak apa-apa, paman. Tidak usah terlalu dipikirkan. Bagaimana dengan rombongan pendekar itu?” tanya Nala.
“Mereka langsung kembali pulang setelah menguburkan rekan-rekan mereka. Oh iya, tuan, jangan khawatir, kami telah menyiapkan hadiah untuk tuan,” kata Ki Janggut.
“Tidak usah, paman. Sungguh, saya tidak mengharapkan apapun. Saya cukup senang bisa membantu,” kata Nala.
__ADS_1
“Tetapi, jika tuan mau menerimanya, kami akan lebih bahagia lagi,” kata Ki Janggut. Nala tak bisa berkata-kata lagi. “Rasanya masih tak percaya jik tuan masih berkenan menolong kami meski rombongan pendekar itu telah menghina tuan Nala. Kenapa mereka begitu membenci tuan, padahal baru saja bertemu dan tuan memperlihatkan niat yang baik?”
“Saya pendekar aliran hitam, paman. Tidak semua orang bisa menerima kehadiran orang-orang seperti saya,” kata Nala singkat.
“Tetapi tuan lebih sopan dan baik jika dibandingkan dengan mereka, ya, saya hanya tidak bisa memahami hal itu. Seharusnya, orang menilai orang lain berdasarkan perilakunya, bukan berdasarkan golongan, asal-usul, kepercayaan, dan lain sebagainya yang belum tentu ada sangkut pautnya dengan masalah perilaku masing-masing,” kata Ki Janggut.
“Tidak semua orang memiliki kebijaksanaan seperti paman, tetapi biarkan saja paman, kebencian mereka ada alasannya. Saya bisa menerimanya,” kata Nala.
“Rekan tuan belum kembali?” tanya Ki Janggut.
“Belum, paman. Mungkin akan sedikit lama,” kata Nala.
****
Berbeda dengan perguruan Pedang Dewa, perguruan milik Nyi Lohita itu menerima tamu dengan cukup ramah. Mungkin karena tamunya adalah seorang perempuan muda, cantik, dan terlihat sakti sebab bisa menyeberang laut untuk sampai di pulau itu tanpa alat bantu apapun.
Seperti yang dikatakan oleh Ki Janggut, semua penghuni pulau itu adalah perempuan, mulai dari yang masih sangat muda hingga yang sudah tua. Para pendekar pulau Perawan itu, yang masih tinggal di sana dan berusia matang, tentu saja tidak berkeluarga. Sementara, murid-murid muda dan anak-anak, sebagian besar dari mereka adalah perempuan-perempuan terlantar yang di selamatkan atau ditemukan oleh Nyi Lohita dan murid-murid seniornya.
Tak ada paksaan untuk selamanya menetap di pulau itu, tentu saja. Setiap murid berhak untuk meninggalkan pulau dan menemukan jalan kehidupan mereka sendiri ketika mereka sudah merasa cukup belajar di sana. Hanya saja, sebagian besar tetap memilih untuk tetap di sana, menjalankan misi utama, yakni menyelamatkan kaum perempuan.
Di pagi hari itu, dua orang pendekar senior perguruan Selendang Merah mengantarkan Batari Mahadewi untuk menemui Nyi Lohita. Guru besar itu tampak masih cantik dan anggun meski usianya telah menua. Ia mengenakan pakaian khas pendekar yang berwarna serba merah.
“Selamat datang, nona Tari. Maafkan aku, baru pagi ini bisa menemuimu. Sudah tiga hari ini aku berada di ruang meditasi,” kaya Nyi Lohita.
__ADS_1
“Terimakasih banyak bibi, sebenarnya maksud kedatangan saya hanya untuk mengantarkan dua pusaka ini kepada bibi. Semoga bibi berkenan menerima dan menggunakannya,” Batari Mahadewi mencoba terlabih dahulu untuk menyerahkan golok dan baju pusaka dan melihat respon guru besar itu selanjutnya.
“Oh, pusaka yang sungguh menawan. Hanya saja, nona, aku bukanlah pendekar yang bisa memainkan pedang pusaka. Jadi, golok ini justru hanya akan menjadi pusaka yang tak akan digunakan jika nona memberikannya kepadaku. Tetapi, kalau boleh tahu, tentunya ada alasan khusus kenapa nona memberikan pusaka ini kepada kami,” kata Nyi Lohita.
“Saya dan rekan saya yang saat ini sedang menunggu di kota pesisir membuat pusaka-pusaka itu untuk kami serahkan kepada para tetua pendekar di seluruh Mahabhumi. Kedepannya, kami akan melakukan hal serupa di pulau-pulau lain. Hal ini kaitannya dengan pergerakan kekuatan kerajaan Tirayamani yang tak mungkin dilawan dengan cara biasanya,” kata Batari Mahadewi.
“Tunggu sebentar, jangan-jangan nona adalah pendekar muda yang waktu itu berhasil mengusir semua pasukan Tirayamani kan?” Nyi Lohita baru saja menyadari siapa sosok gadis itu setelah Batari Mahadewi mengatakan bahwa pusaka yang ia bawa adalah ciptaannya.
“Benar, bibi. Waktu itu kita semua hanya beruntung, sebab pasukan Tirayamani yang datang bukanlah pasukan iblis. Saat ini, ratu kerajaan itu telah membebaskan banyak sekali pasukan iblis dan dalam waktu dekat, mereka pasti akan datang kemari. Setelah peristiwa itu, bukan tak mungkin jika sang ratu itu tak mencariku. Beberapa waktu sebelumnya, ketika saya sedang berada di pulau Siwarkatantra, dua makhluk iblis utusan ratu itu mencari saya. Beruntunglah saya masih bisa selamat,” kata Batari Mahadewi.
“Jika nonapun kesulitan, lalu bagaimana dengan kami?” sahut Nyi Lohita.
“Itulah sebabnya, dengan pusaka semacam ini, setidaknya para pendekar putih tak akan ada masalah ketika melawan para pendekar hitam atau pasukan iblis yang lemah. Mungkin kita akan kalah, tetapi bukankah sebaiknya kita melawan,” kata Batari Mahadewi. Kata-katanya penuh keyakinan sehingga ikut menyulut keyakinan pendekar Selendang Merah itu.
“Kau benar, nona. Selagi kita masih bernafas, maka kita akan melawan. Tetapi, sekali lagi, aku tak bisa menerima golok pusaka ini, nona,” kata Nyi Lohita.
“Saya bersedia untuk membuatkan pusaka yang bisa bibi gunakan. Tentunya, sebelum membuat itu, saya perlu mempelajarinya terlebih dahulu, hanya jika bibi tak keberatan,” kata Batari Mahadewi.
“Apakah tidak merepotkan nona nantinya?” tanya Nyi Lohita.
“Tentu tidak, bibi. Dengan senang hati saya kan membuatkannya jika saya mampu,” kata Batari Mahadewi.
“Baiklah kalau begitu, tentu aku tak keberatan memberitahukan berbagai hal tentang senjata pusaka Selendang Merah,” kata Nyi Lohita. Wanita elegan itu kemudian memejamkan mata, memancarkan kekuatannya, dan sehelai selendang merah muncul di tangannya.
__ADS_1