
Dari kejauhan, Jalu dan Niken melesat menuju ka arah adiknya yang saat itu turun perlahan dari atas setelah siluman naga air itu menghilang di balik derasnya air terjun Berkah Langit.
“Adik baik-baik saja?” tanya Niken.
“Ya, seperti yang kakak lihat, taka da sesuatupun yang berkurang dariku, kecuali beberapa memar di wajahku.” Jawab Batari Mahadewi sambil menyengir.
“Pertarungan yang luar biasa.” Jalu berkomentar.
“Makhluk itu sungguh berbahaya. Untung saja siluman naga air membatu kita. Jika tidak, pasti akan sangt sulit mengalahkan monster itu. Mungkin saja gas beracun dari tubuhnya bisa menyebar ke kota dan membinasakan banyak orang di sana.”
“Syukurlah, kita bisa selamat. Kalau begitu, kita langsung saja melanjutkan perjalanan?” tanya niken.
“Tunggu sebentar kak, urusan kita di sini belum selesai. Ada dua orang lagi yang mengintai dari sana.” Kata Batari Mahadewi sambil menoleh ke sebuah sudut yang jauh.
“Siapapun kalian yang bersembunyi di sana, keluarlah sekarang juga.” Kata Batari Mahadewi pelan, namun suaranya yang ia kirim dengan tenaga dalam sampai juga di telinga kedua orang yang bersembunyi jauh dari ketiga murid Ki Gading Putih itu.
Kedua orang itu keluar dari persembunyiaannya. Wajah mereka pucat pasi. Namun mereka tak punya pilihan. Keduanya melompat dan mendekati ketiga murid Ki Gading Putih.
“Maafkan kami, tuan dan nona pendekar. Kami tak bermaksud ikut campur. Kami ada di kota ini, dan sewaktu kami menangkap pancaran energi yang kuat, kami melesat kemari dan menemukan tuan dan nona-nona ini sedang bertarung.” Kata salah satu dari kedua orang itu.
“Kukira kalian berdua bagian dari ketiga pendekar pulau neraka tadi. Kalau begitu, kalian boleh pergi.” Kata Jalu.
“Ee…maaf tuan dan nona. Apabila tak keberatan, kami ingin menyampaikan sesuatu.” Kata salah satu dari kedua orang itu.
“Silahkan disampaikan, tuan.” Kata Jalu.
“Apakah tuan dan nona-nona sekalian sedang mengembara dan belum memiliki tujuan tertentu?” tanya orang itu.
__ADS_1
“Antara iya dan tidak. Ada apa, tuan?” tanya Jalu.
“Sebenarnya kami utusan dari kerajaan. Mahapatih memerintahkan kami untuk mengundang para pendekar kelana untuk turut berpartisipasi di kerajaan. Ada situasi genting yang tak kami ketahui. Namun, apabila tuan dan nona berkenan, maka sang Mahapatih akan menjelaskannya kepada tuan dan nona-nona sekalian.” Kata orang itu.
“Kebetulan, kami memang akan berkunjung ke kota Swargadwipa.” Kata Jalu.
“Oh, sungguh suatu kebetulan yang menggembirakan kami, tuan. Ini merupkan tanda bukti bahwa tuan telah diundang.” Orang itu mengeluarkan tiga buah batu kecil berbentuk persegi panjang yang ditengah-tengahnya terukir lambang bendera kerajaan Swargadwipa. “Batu ini merupakan undangan khusus dari sang Mahapatih. Bila tuan berkenan datang, perlihatkan batu ini kepada petugas penjaga gerbang ke enam. Mereka akan mengantarkan tuan dan nona-nona bertemu dengan sang Mahapatih.”
“Baiklah tuan sekalian. Undangan ini kami terima. Kami akan segera melanjutkan perjalanan.” Kata Jalu.
“Sekali lagi terimakasih banyak tuan dan nona-nona sekalian. Kami mohon pamit undur diri.” Kata utusan kerajaan itu, lalu keduanya pergi meninggalkan Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi.
“Ada apa ini? Kenapa paman Mahapatih mengundang para pendekar secara rahasia. Pasti ada sesuatu yang terjadi di istana.” Kata Jalu.
“Kalau begitu kedatangan kita tepat. Kak Jalu bisa berpartisipasi membantu pamanmu.” Kata Niken.
“Ya, kita akan tanyakan langsung kepada beliau nanti.” Kata Jalu.
“Hahaha, kita tak membutuhkannya untuk bertemu dengan paman Mahapatih.” Kata Jalu. “Baiklah, kita lanjutkan perjalanan kita.”
“Oh, masih ada satu lagi. Akan kita apakah lelaki yang tergeletak pingsan di sana itu?” tanya Niken sambil menunjuk tubuh Wisa yang tak sadaran diri sejak Batari Mahadewi mengabil semua energi dan ilmunya.
“Biarkan saja ia di sana. Ia tak akan mati sekalipun sudah tak memiliki tenaga dalam. Tubuhnya sangat kuat. Biarkan ia memulai kehidupan barunya.” Kata Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi, Jalu dan Niken kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Ketiganya melenting ke atas, melompat dari satu dinding batu ke dinding lainnya untuk melewati gunung air terjun Berkah Langit agar segera sampai di kerajaan Swargadwipa. Setelah berhasil melewati gunung itu, ketiganya melaju menembus hutan yang luas dengan kecepatan tinggi.
Tak sampai setengah hari perjalanan, akhirnya ketiga pendekar muda itu sampai di lahan pertanian dan pemukiman petani milik kerajaan. Lahan itu sangat luas dan ditanami dengan berbagai jenis tanaman pangan. Para petani masih sibuk bekerja di sana dan mereka tak menyadari ketika Batari Mahaewi, Jalu, dan Niken melintas cepat di atas mereka.
__ADS_1
Dinding kota Swargadwipa telah terlihat. Batari Mahdewi, Jalu dan Niken mengurangi kecepatan mereka, lalu berhenti. Ketiganya melanjutkan perjalanannya lagi dengan berjalan kaki.
“Luas sekali wilayah ini. Pasti akan sulit bagi kerajaan lain untuk menaklukkan kota ini.” Kata Niken.
“Area persawahan ini akan menjadi ladang pertumpahan darah jika ada kerajaan lain yang menyerang kerjaan Swargadwipa.” Kata Jalu. Ketiganya ahirnya sampai di gerbang pertama. Jalu menemui penjaga gerbang itu dan mengatakan sesuatu kepada mereka. Serentak mereka semua memberi hormat, lalu menyiapkan tiga ekor kuda untuk Jalu, Batari Mahadewi, dan Niken.
“Terimakasih, pengawal. Kami akan langsung ke istana.” Kata Jalu.
Para penjaga gerbang itu kembali memberikan hormat, lalu Jalu, Niken, dan batari Mahadewi melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda. Batari mahadewi baru pertama kali itu menunggang kuda. Ia merasa tidak nyaman dan sedikit kikuk. Tingkahnya itu menjadi bahan tertawaan Jalu dan Niken.
“Ah, kenapa harus naik hewan ini!” Batari Mahadewi menggerutu. Wajahnya yang sedikit tegang karena harus menyeimbangkan tubuhnya di atas kuda itu terlihat lucu.
“Kita lalui saja siksaan ini, adik. Ada baiknya kita tak memperlihatkan kekuatan kita di kota kerajaan ini.” Kata Jalu.
“Iya, kakak, aku mengerti. Aku hanya lebih suka jalan kaki.” Kata Batari Mahadewi.
Ketiga kuda itu melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa prajurit dengan jabatan rendah yang mengenali kuda itu memberikan hormat ketika mereka berpapasan dengan Jalu, Niken, dan batari Mahadewi. Tidak sembarangan orang diperbolehkan naik kuda khusus yang disediakan di gerbang pertama, sehingga semua prajurit akan dengan mudah mengenali kuda itu karena sudah pasti yang menungganginya adalah kerabat kerajaan.
Akhirnya mereka sampai di gerbang tembok istana. Berbeda dengan gerbang-gerbang sebelumnya, gerban istana lebih ketat penjagaannya. Siapapun yang akan masuk, meski menunggangi kuda khusus, akan diperiksa sekali lagi.
“Selamat datang, tuan dan nona, mohon maaf kami harus memeriksa kembali tuan dan nona sekalian.” Kata penjaga gerbang itu.
Tak satupun dari para penjaga gerbang itu yang mengenali Jalu. Mereka semua adalah orang baru di kerajaan. Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi turun dari kuda. Jalu berjalan mendekat, lalu ia mengatakan sesuatu kepada penjaga gerbang itu. Seketika, semua penjaga gerbang itu memberikan hormat.
__ADS_1