Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 59 Penyelamat Niken


__ADS_3

Niken melanjutkan perjalanannya. Ia tak ingin terlalu lama menunda dan tak ingin tertinggal terlalu jauh. Masih ada harapan untuk bertemu dengan Jalu dan Batari Mahadewi. Ia melenting seperti belalang yang dengan lincahnya berpindah dari satu dahan pohon ke dahan lainnya. Ia tak sadar, sepasang mata yang mengintainya sejak pertarungannya dengan pendekar Sungai Darah kini diam-diam mengikutinya. Namun, lambat laun ia bisa merasakan getaran energi yang menyusulnya dari belakang.


Niken menghentikan perjalanannya. Ia diam berdiri sambil menajamkan inderanya, berusaha menangkap gerak-gerik yang mengikutinya. ‘Ilmunya cukup tinggi, setidaknya ia bisa menyamarkan pancaran energinya. Sejak kapan ia mengikutiku?’ Batin Niken. Setelah Niken berhenti, pancaran energi itu juga ikut menghilang. Hal itu membuat Niken semakin waspada.


‘Jika ia berniat menantangku, semestinya ia sudah menemuiku saat ini. Tapi ia hanya bersembunyi dan mengikutiku dari jauh. Hmm…sebaiknya aku lanjutkan saja perjalanan ini.’ Batin Niken. Ia lalu kembali melenting dari pohon ke pohon dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ia tak peduli jika pancaran energinya itu akan mengundang para pendekar kelana di wilayah itu untuk datang dan menantangnya.


Niken tak hanya merasakan getaran energi yang mengikutinya dari belakang. Kini ia merasakan sepasang energi yang sedang bertarung tak jauh dari arah yang ia tuju. Niken mengurangi pancaran energinya, menyembunyikan sebisa yang ia lakukan, lalu ia mendekat ke arah pertarungan. Ia ingin tahu siapa yang sedang bertarung itu.


Niken diam dan menyamarkan dirinya diantara rimbun daun pepohonan tak jauh dari pertarungan itu. Selagi ia mengintai petarungan itu, Niken tetap memasang kewaspadaan tinggi mengingat ia masih diikuti oleh sosok yang belum mau menampakkan diri.


Niken sedikit terkejut karena sosok yang bertarung di depannya itu adalah pendekar dengan jurus dan pancaran energi yang mirip dengan pendekar Sungai Darah. Bedanya, pendekar itu telah berubah wujud menjadi naga hitam yang menyerang seorang pendekar aliran putih yang sudah tampak kewalahan karena tubuhnya telah menahan banyak serangan racun.


Niken berniat untuk menolong pendekar itu, namun ia urungkan niatnya. Ia ingat bahwa pertarungan semacam itu tak semestinya diganggu. Dua pendekar yang sedang berduel di tengah hutan semestinya memang sedang mempertahankan harga dirinya. Jikalau ia mati, maka ia mati dengan cara terhormat, dan ia telah menyadarinya selagi ia menantang atau menerima tantangan lawannya.


Selang beberapa saat, pendekar aliran putih itu telah tewas mengenaskan. Pendekar yang merubah wujudnya menjadi seekor naga hitam itu dengan kejam melilit tubuh lawannya dan menggigit lehernya. Setelah lawannya mati, perlahan ia merubah dirinya ke wujud aslinya. Wajah itu tak asing bagi Niken. Sosok wajah yang sama dengan pendekar Sungai Darah.


‘Bukankah aku telah membunuhnya? Bagaimana ia bisa berada di sini dan kenapa ia berubah wujud menjadi naga hitam?’ Batin Niken. Ia masih belum menyadari bahwa sosok di depannya adalah pendekar yang berbeda dengan yang baru saja ia kalahkan itu.


Belum selesai dengan lamunannya, pendekar yang menyerupai Sungai Darah itu telah menangkap kehadirannya dan memanggilnya dengan keras.

__ADS_1


“Siapapun itu yang bersembunyi di atas pohon, keluarlah! Jika kau hendak menantangku, maka kemarilah. Jika tidak maka kau harus menjelaskan padaku, kenapa kau mengintip pertarunganku!?”


Niken mau tak mau harus keluar dari persembunyiaannya. Ia agak menyesal karena tak memilih untuk menghindari pertarungan itu. Energinya belum cukup pulih sejak ia menggunakan jurus Nyanyian Pengantar Mimpi dan melakukan perjalanan dengan kecepatan tinggi. Jika ia harus bertarung, mungkin situasinya tak terlalu baik meski lawannya juga baru saja mengerahkan banyak energi untuk membunuh lawannya.


“Maafkan aku, aku tak sengaja lewat sini dan menyaksikan pertarungan kalian. Tapi sejujurnya aku sedang dalam perjalanan dan tak ingin bertarung.” Kata Niken.


Tiba-tiba saja, sosok yang mengikutinya tadi menampakkan diri. Niken bertambah kaget karena sosok itu memiliki wajah yang sama dengan pendekar yang baru saja memenangkan pertarungan itu, hanya saja sosok itu bukanlah perempuan, melainkan laki-laki.


“Adik Sungai Hitam, pendekar ini baru saja menghabisi adik Sungai Merah.” Kata sosok pendekar laki-laki itu.


“Apa, benarkah itu kakak Sungai Jingga?” Tanya pendekar Sungai Hitam kepada Sungai Jingga.


“Maafkan saya, tuan dan nona pendekar. Saya harus menerima tantangan saudari perguruan kalian. Saya harap tak ada dendam dengan peristiwa itu.” Kata Niken yang berusaha untuk mencari jalan keluar agar ia lolos dari masalah itu. Bagaimanapun juga, ia tak memiliki cukup energi untuk berhadapan dengan dua pendekar yang memiliki ilmu siluman itu. Jika satu pendekar Sungai darah saja telah membuatnya kerepotan, maka dua pendekar aliran hitam di depannya itu sudah pasti akan bisa melumatnya dengan mudah.


“Kami tak menyalahkan nona pendekar karena berhasil mengalahkan adik kami. Tapi, dengan hormat, kami juga berhak menuntut balas.” Kata pendekar Sungai Jingga.


“Saya akan terima jika tuan dan nona pendekar menantang saya bertarung sebagai pendekar. Satu lawan satu.” Kata Niken masih berusaha bernegosiasi.


“Sayangnya, meski kami tahu etika, namun kami juga adalah pendekar aliran hitam, yang tak peduli etika jika pertarungan ini ada kaitannya dengan kematian saudari seperguruan kami.” Jawab pendekar Sungai Hitam. Nada bicaranya jauh lebih tak menyenangkan dari pendekar Sungai Jingga. Jelas ia sangat marah dengan kematian saudarinya.

__ADS_1


“Baiklah jika demikian. Apa boleh buat, aku akan memenuhi tantangan tuan dan nona pendekar.” Balas Niken. Ia tak yakin jika ia bisa memenangkan pertarungan yang akan berlangsung itu. Ia tak mungkin menggunakan jurus yang ia pelajari dari pendekar Syair Kematian karena tak memiliki energi yang memadai pada saat itu. Setidaknya, pertarungan itu jauh dari sungai, sehingga masih ada sedikit harapan bagi Niken.


Niken memasang kuda-kuda dan mengerahkan energinya untuk menciptakan Kristal es mengelilingi tubuhnya. Ia lebih memilih untuk memperkuat pertahanannya dan melakukan serangan di saat yang paling tepat.


“Adik Sungai Hitam, gunakan seluruh kemampuanmu.” Kata Sungai Jingga memperingatkan sebab ia telah tahu jurus berbahaya yang dimiliki Niken.


Kedua pendekar aliran hitam itu merubah wujud mereka menjadi naga hitam dan naga jingga. Pancaran energi kedua pendekar itu membuat keringat dingin menetes dari kepala Niken. ‘Andai saja ada kak Jalu dan Adik Batari di sini…” Batin Niken. Ia hanya bisa pasrah apabila ia akan terbunuh hari itu.


Kedua pendekar yang telah berubah wujud menjadi naga itu menyerang Niken bersamaan disertai dengan semburan racun yang mematikan. Niken terus menghindar dan menangkis serangan itu dengan tameng esnya. Namun, Niken cukup kerepotan ketika sepasang naga itu menyerangnya dari arah yang berbeda.


Pada akhirnya, Niken tak bisa mengimbangi kecepatan kedua lawanya yang menyerang dengan formasi serangan yang sangat mengagumkan. Niken terpental jauh dan tubuhnya menabrak pohon besar. Pancaran energinya sirna dan perlahan ia tak sadarkan diri.


“Kita habisi saja perempuan itu.” kata Pendekar Sungai Hitam. Ia lalu bersiap untuk menyerang Niken yang telah pingsan itu. Tanpa ia sadari, sesosok pendekar lain dari aliran putih datang melesat dan membawa pergi Niken dengan kecepatan kilat. Sambil membopong Niken, ia melesat ke cakrawala dan meninggalkan pendekar Sungai Hitam dan Sungai Jingga yang tampak jengkel karena telah teledor tak menangkap kehadiran pendekar yang membawa pergi Niken itu.


“Bagaimana kalau kita kejar pedekar itu, kakak?” tanya pendekar Sungai Hitam.


“Jangan adik, ilmunya terlalu tinggi buat kita berdua. Sebaiknya kita tunda saja dan melaporkan peristiwa ini kepada guru.” Kata pendekar Sungai Jingga.


Pendekar yang menyelamatkan Niken itu sampai di tepi danau. Dengan segera ia memulihkan kesadaran Niken dan berusaha mengobati racun yang mengenai tubuhnya. Perlahan Niken tersadar. Ia membuka matanya dan melihat sosok lelaki tampan telah ada di hadapannya. “Terima kasih tuan pende….” Belum sempat Niken menyatakan rasa terimakasihnya, pendekar tampan itu menyuruh Niken untuk diam agar racun di dalam tubuhnya tak menyebar.

__ADS_1


__ADS_2