
Pagi itu di air terjun Hati Suci, Ki Gading Putih hendak mengajar Batari Mahadewi untuk pertama kalinya. Niken dan Jalu masing-masing meneruskan pelajaran kitabnya di pendopo. Ada rasa penasaran dalam benak mereka berdua dan ingin rasanya melihat latihan apakah yang akan diberikan guru kepada Batari Mahadewi. Namun mereka mengurungkan niat itu, takut apabila hal itu tidak diperkenankan oleh guru mereka.
“Baiklah Batari, pagi ini kamu akan melanjutkan latihanmu. Hal pertama yang selalu kuajarkan kepada murid-muridku adalah latihan menyerap energi bumi. Latihan ini ada beberapa tahap. Dengar baik-baik penjelasanku.”
“Tahap awal latihan dari ilmu ini adalah merasakan ketenangan dari alam sekitarmu, tenangkan pikiranmu dan buka dirimu untuk menerima dan merasakan segala hal yang terjadi di sekelilingmu, suara air terjun, suara burung, hembusan angin, dan apapun sebanyak yang bisa kamu rasakan.” Ki Gading Putih mulai menjelaskan kepada Batari Mahadewi.
“Pertama-tama, duduklah di tempat yang paling nyaman buatmu. Apabila nanti kamu merasa lelah, maka kau boleh berbaring. Jangan kekang tubuhmu, dan yang terpenting jangan kekang pikiranmu. Mengalirlah seperti air terjun yang jatuh. Bernafaslah seperti angin berhembus. Apakah kamu paham?”
“Paham guru, murid akan mencobanya.” Jawab Batari Mahadewi.
“Kalau begitu lakukanlah. Nanti siang aku akan ke sini lagi.” Kata Ki Gading Putih.
“Baik guru.” Kata Batari Mahadewi. Setelah itu Batari Mahadewi duduk bersila di atas sebongkah batu besar di sekitar air terjun. Ki Gading Putih melangkah pergi meninggalkan Batari Mahadewi sendirian di sana.
Sebenarnya, Batari Mahadewi sudah melewati kemampuan ini. Tapi ia tak ingin bersikap berlebihan kepada gurunya. Dan tentu saja ia ingin latihan menyerap energi bumi melalui cara yang disampaikan oleh gurunya karena ia merasa kemampuannya menyerap energi itu datang begitu saja, sejak pertemuannya dengan harimau di hutan Cemara Seribu ketika usianya dua tahun.
Apabila ia mau, maka saat inipun ia bisa menyerap energi di sekitarnya sebanyak yang ia mau hingga batas tubuhnya mampu menampung energi itu. Namun ia enggan melakukannya.
Batari Mahadewi mengikuti petunjuk dari gurunya. Ia membiarkan saja pikirannya mengalir. Banyak hal yang terlintas dalam benaknya dan tiba-tiba saja, terbersit sebuah pertanyaan dalam kepalanya; siapakah aku ini? Kenapa aku berbeda dengan anak lainnya? Apa tujuanku hidup? apa tujuanku belajar di sini?
Batari Mahadewi terus menerus mempertanyakan dirinya. Tak pernah sebelumnya ia memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh karena kesadarannya adalah bahwa ia manusia yang bernama Batari Mahadewi anak perempuan dari Nyi Kunyit. Keinginannya adalah membahagiakan ibunya, merawatnya ketika tua hingga kelak ajal menjemputnya. Setelah itu ia berhenti di sana, dan tak memikirkan hal setelahnya.
__ADS_1
Namun kini, duduk di dekat air terjun Hati Suci, ia mulai mempertanyakan hal lain yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kelak bila ibu telah tiada, apa yang akan aku lakukan? Apakah aku akan hidup sendiri di gubuk itu atau pergi berkelana…Jika saat ini aku memiliki kesaktian, untuk apakah ini? Apakah aku harus menolong orang lain? Kenapa waktu itu aku menolong orang?
Berbagai macam pertanyaan datang bertubi-tubi. Batari Mahadewi tak bisa menemukan jawabannya. Apakah aku harus bertanya kepada guru soal hal ini? Apakah aku harus menceritakan kemampuanku saat ini sementara aku sendiri tak tahu kenapa aku mampu melakukan ini?
Batari Mahadewi berhenti pada suatu titik terang. Ya, aku harus bercerita kepada guru. Aku akan mempercayakan ceritaku padanya. Selama ini aku selalu tertutup dengan siapapun dan ini sungguh menyiksa batinku.
Kemudian Batari Mahadewi mulai memusatkan dirinya dengan alam di sekitarnya, menerima segala sesuatu yang menerpa tubuhnya; suara air terjun, hembusan angin, tempias air dan semua yang bisa ia tangkap dari inderanya. Pikirannya yang semula keruh menjadi jernih perlahan-lahan. Ia mendapatkan kesegaran baru, seolah ada energi yang perlahan menelusup masuk ke dalam dirinya.
Batari Mahadewi tetap duduk pada posisinya hingga tengah hari. Dan ia membuka matanya setelah merasakan ada seseorang datang mendekat. Ki Gading Putih telah datang untuk menemuinya lagi.
“Bagaimana Batari Mahadewi, apa yang kau peroleh dari latihanmu saat ini?” tanya Ki Gading Putih.
“Ada banyak hal yang ingin ku tanyakan dan kuceritakan kepada guru” jawab Batari Mahadewi. Lalu Batari Mahadewi mulai menceritakan keanehan-keanehan yang ia alami kepada gurunya, juga pengalaman dan berbagai pertanyaan yang melintas sewaktu ia menjalani latihan sejak pagi tadi. Ada rasa lega dan damai dalam diri Batari Mahadewi setelah ia menceritakan semuanya kepada gurunya.
Sepintas terbersit keinginannya untuk menceritakan masa lalu Batari Mahadewi ketika ia masih bayi. Namun ia memilih untuk menundanya sekalipun ia berhak untuk mengatakannya sebagaimana siapapun yang menjadi muridnya itu berarti adalah anaknya sendiri, tanggung jawabnya sepenuhnya.
“Kau memang istimewa bahkan sejakkau bayi, anakku. Tapi untuk pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan tentang siapa dirimu dan kenapa kamu mengalami peristiwa itu, kau akan menemukannya nanti. Bersabarlah. Tapi yang perlu kau ketahui, tidak ada manusia yang benar-benar mengetahui siapa dirinya. Manusia akan selalu berubah sepanjang hidupnya, dan untuk tahu siapa sebenarnya manusia itu, perlu seumur hidup untuk bisa menjawabnya.” Jawab Ki Gading Putih.
“Namun saat ini, untuk menentukan latihan apa yang tepat untukmu, bisakah kamu menunjukkan kemampuanmu itu? Coba keluarkan energimu sebesar yang kamu mampu.” Lanjut Ki Gading Putih.
Sejenak Batari Mahadewi ragu, namun kemudian ia mengabulkan permintaan gurunya. “Baiklah guru, saya akan mengerahkan semua energi yang bisa aku keluarkan saat ini.” Jawab Batari Mahadewi.
__ADS_1
Ki Gading Putih bersiap menyaksikannya. Ia tahu bahwa hal itu bukanlah tontonan, melainkan sesuatu yang berbahaya. Ki Gading Putih tahu bahwa Batari Mahadewi memiliki kemampuan untuk menyembunyikan kekuatannya sehingga sulit baginya untuk mengukur berapa besar energi yang dimiliki oleh Batari Mahadewi.
Ki Gading Putih menjauh, lalu berkata kepada Batari Mahadewi. “Lakukan sekarang anakku.”
Batari Mahadewi mengeluarkan energinya perlahan agar tak menimbulkan daya sentak yang tiba-tiba. Ia terus menambah kekuatan yang ia keluarkan secara bertahap. Ki Gading Putih juga mengerahkan eneginya untuk bisa tetap melihat kekuatan muridnya tanpa harus terpental beberapa meter ke belakang.
Dorongan energi yang keluar dari tubuh Batari Mahadewi membuat angin di sekelilingnya mendorong maju apapun yang ada di hadapannya. Bahkan saking kuatnya dorongan energi Batari Mahadewi, air terjun Hati Suci tidak terjun ke bawah, melainkan berhamburan ke atas bukit.
Niken dan Jalu yang semula membaca kitab di pendopo pun merasakan energi itu. Lalu mereka langsung melesat ke sumber energi karena menyangka di sana telah terjadi sesuatu. Mereka berdua terperangah setelah melihat bahwa pemilik energi itu adalah Batari Mahadewi. Mereka menahan diri untuk tidak melihat dari dekat, melainkan dari jarak yang cukup jauh agar tak mengganggu latihan Batari Mahadewi bersama guru mereka.
Ki Gading Putih tak menyangka bahwa kekuatan Batari Mahadewi sudah sampai pada tingkat energi dewa, yang hanya bisa dimiliki oleh para pendekar legendaris saja yang tak banyak jumlahnya, termasuk dirinya sendiri. ‘Jika anak ini dulu ditemukan oleh golongan hitam, maka ia bisa menjadi malapetaka. Gadis polos ini sudah mencapai energi dewa di usianya yang ke 7 tahun.’ Batin Ki Gading Putih.
Meski Batari Mahadewi memiliki energi yang sangat besar, namun ia sama sekali belum memiliki kematangan seorang pendekar, dan ia juga masih minim pengalaman. Tak hanya pengalaman bertarung, namun juga pengalaman melihat hidup yang sebenarnya di dunia persilatan. Maka satu-satunya jalan latihan terbaik bagi Batari Mahadewi adalah melihat dunia, keluar dari dunia kecil di Cemara Seribu.
Masalahnya, bagaimanapun juga, Batari Mahadewi masih berusia 7 tahun dan tak mungkin bagi Ki Gading Putih untuk memberikannya tugas sebagaimana kakak seperguruannya. Maka ia memikirkan hal lain.
“Baiklah Batari Mahadewi. Kurasa cukup. Kita bisa beristirahat dulu.” Kata Ki Gading Putih.
Batari Mahadewi menghentikan pancaran energinya yang menyapu bersih dedaunan kering, kerikil, dan bebatuan kecil di sekitar air terjun. Terbentuk ceruk yang cukup lebar disekitar tempat ia berdiri. Batari Mahadewi juga tak menyangka akan efek dari kekuatannya karena baru kali ini ia benar-benar mengeluarkan kekuatannya secara besar-besaran.
Air terjun Hati Suci kembali seperti semula. Hutan yang sesaat senyap kembali riuh dengan suara burung. Ki Gading Putih berkata, “Batari Mahadewi, kurasa cukup dulu latihanmu hari ini. Aku akan memikirkan latihan apa yang tepat untuk kau jalani selanjutnya. Tentu selama aku belum menyuruhmu melakukan hal-hal tertentu, kamu bebas melakukan latihan apapun yang kamu suka. Tentu kamu bisa membaca tulisan rahasia dari kitab yang kamu baca bukan?”
__ADS_1
Batari Mahadewi mengangguk, mengiyakan tebakan gurunya. “Apakah murid boleh latihan jurus itu, guru?” kata Batari Mahadewi.
“Apabila kamu merasa paham dan mampu, silahkan latihan Ilmu itu. Kurasa saat ini hanya kamu yang bisa melakukannya. Aku pernah mencobanya tapi belum berhasil sampai sekarang.” Kata Ki Gading Putih sambil tersenyum. Tentu Ki Gading Putih tak mau mengatakan bahwa selama ini yang bisa menguasai Ilmu Raga Membelah Bumi adalah pencipta ilmu itu sendiri, seorang pendekar legenda yang hidup 300 tahun yang lalu.