
Ketika mereka masih melenting dari satu dahan ke dahan lainnya di dalam hutan itu, tiba-tiba terasa pancaran energi yang kuat. Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi menghentikan perjalanan mereka.
“Sepertinya ada pertarungan di hutan ini.” Kata Batari Mahadewi.
“Ya, aku juga merasakannya tadi.” Kata Jalu.
“Tiga lawan satu. Semuanya dari golongan hitam.” Kata Batari Mahadewi.
“Apakah kita menunggu saja pertarungan itu selesai lalu melanjutkan perjalanan lagi?” Tanya Niken.
“Kalau kita melanjutkan perjalanan dengan cara tadi, pancaran tenaga kita akan terbaca. Mungkin mereka sudah mengetahui kehadiran kita. Tapi mereka pasti sibuk bertarung saat ini.” Kata Jalu. Batari Mahadewi sedari tadi mengarahkan pandangannya ke depan, menajamkan pendengarannya sejauh yang bisa ia capai. Pada saat-saat semacam itu, Jalu dan Niken lebih memilih untuk diam, menunggu adiknya yang sedang membaca situasi. Mereka pada akhirnya percaya tingkah adiknya yang tak wajar untuk mencari tahu sesuatu itu selalu akurat.
“Ada satu pendekar yang masih hidup. Mungkin dia yang tadi diserang 3 orang. Pendekar itu berilmu tinggi. Dia baru saja pergi. Pancaran energinya telah hilang.” Kata Batari Mahadewi menyampaikan hal yang ia ketahui.
“Menurut adik, apakah sebaiknya kita memeriksa korban dari pertarungan itu?” Tanya Jalu.
“Ya, aku ingin tahu lebih lanjut.” Kata Batari Mahadewi. “Tapi sebaiknya kita tunggu sejenak.” Lanjutnya.
Mereka bertiga menunggu sambil memulihkan tenaga yang mereka gunakan untuk menempuh perjalanan itu. Hutan yang mereka lalui itu banyak di tumbuhi pepohonan besar berusia ratusan tahun. Tempat yang ideal bagi binatang buas untuk bersarang. Jika mau mencari di balik dedaunan lembab di permukaan tanah, maka kelabang seukuran lengan manusia bisa dengan mudah didapatkan.
Selang beberapa saat kemudian, mereka bertiga pergi menuju ke tempat asal energi yang mereka tangkap. Mereka menemukan tiga mayat pendekar. Tak ada bekas luka atau pukulan. Mereka mati dalam keadaan melotot dengan mulut menganga, seperti baru saja melihat hal yang sangat mengerikan.
Sekali lagi Batari Mahadewi membaca jejak perkelahian itu. Ia diam mematung memandang ke satu titik. Lalu ia berkata, “lawan tiga pendekar ini sangat mengerikan. Apakah kakak pernah mendengar tentang pendekar yang bertarung dengan mantra? Atau syair? Kurasa itulah pelakunya.”
“Pendekar Syair Kematian…” kata Jalu. Bulu kuduknya berdiri ketika mengatakan nama itu.
“Bukankah ia pendekar legendaris dari golongan hitam yang telah hidup selama lebih dari 200 tahun? Guru pernah bercerita tentang hal itu.” Kata Niken.
“Ya…pendekar dengan kemampuan aneh, yang membunuh lawan-lawannya dengan kata-kata saja. Tapi meskipun dia dari golongan hitam, ia membunuh siapapun yang tak ia sukai. Bahkan golongannya sendiri.” Kata Jalu.
“Ya, dia pendekar kelana yang hidup seorang diri, tanpa guru, tanpa murid, dan tanpa teman.” Tambah Niken.
__ADS_1
“Adik sudah menemukan sesuatu?” Tanya Jalu kepada Batari Mahadewi.
“Yang kakak katakan semuanya benar. Hanya saja, pendekar itu tidak bisa berkelahi. Ia hanya memiliki ilmu meringankan tubuh, dan syair kematian. Aku melihat aksara kematian yang masih menempel di tubuh tiga pendekar ini” Kata Batari Mahadewi.
Tiba-tiba sebuah energi melesat ke arah mereka bertiga dengan kecepatan tinggi. Seorang lelaki gemuk dengan rantai besar yang terlilit di tubuhnya menampakkan diri.
“Kalian yang membunuh ketiga saudaraku ini?” Kata lelaki itu dengan nada bengis.
“Bukan kami pelakunya. Kami baru saja tiba di sini.” Kata Jalu dengan tenang.
“Kalian dari golongan putih? Siapapun pembunuhnya, aku tak akan membiarkan kalian pergi dari hutan ini.” Kata lelaki itu.
“Kami dari padepokan Cemara Seribu. Siapakah geragan tuan pendekar ini?” Tanya Jalu sambil tersenyum.
“Aku pendekar Rantai Pencabut Nyawa dari perguruan Bulan Hitam. Sebelum aku atau kalian mati di sini, kalian tahu siapa pembunuh adik seperguruanku ini?” Tanya pendekar itu.
“Pelakunya Pendekar Syair Kematian. Jika ia masih di sini, kita semua dalam masalah besar.” Kata Jalu masih dengan nada tenang meski ia tahu pendekar di depannya itu hendak menantang untuk bertarung.
“Ya, aku percaya kalian bukan pembunuh adik seperguruanku. Maka kita akan melakukan pertarungan yang terhormat sebagai pendekar.” Kata pendekar itu dengan nada yang lebih lunak.
“Kalau begitu, dengan siapa tuan pendekar memilih lawan dari kami bertiga?” Kata Jalu.
“Jika kalian bertiga mau bersama-sama menyerangku, aku tak keberatan. Tapi jika satu per satu, mungkin aku dan kau bisa memulainya.” Kata lelaki itu. Ia mengira Jalu adalah yang terbaik dari mereka bertiga.
“Baiklah kalau begitu. Kita mulai saja. Aku sudah siap.” Kata Jalu. Ia mulai memancarkan energinya lalu menciptakan pedang api di tangan kanannya. Pendekar Rantai Pencabut Nyawa sedikit kaget dengan perubahan pemuda di hadapannya itu.
“Kau pendekar api! Hmm…ini menarik.” Kata pendekar itu. Ia kemudian menguraikan rantai besar yang melilit tubuhnya dan mengalirkan tenaga dalam sehingga membuat rantai itu bergerak sendiri, meliuk-liuk seperti ular besar yang siap menyambar mangsanya.
Pendekar Rantai Pencabut Nyawa langsung menyerang tanpa basa-basi. Rantai pencabut nyawa miliknya menyambar dan mengejar Jalu yang terus menghindar. Beberapa pohon tumbang akibat benturan dari rantai itu.
Jalu menangkis rantai yang mengarah padanya dengan pedang energi miliknya. Ia mengalirkan energi yang cukup besar sehingga pedangnya bisa membelah tiap-tiap mata rantai yang datang ke arahnya. Pendekar Rantai Pencabut Nyawa cukup Gerang melihat senjatanya rusak. Ia menambah aliran energi agar pedang Jalu tak mampu membelah mata rantai itu.
__ADS_1
Melihat hal itu, Jalu menggunakan cara lain. Ia menyerang dengan kecepatan tinggi dari jarak dekat untuk melancarkan beberapa serangan. Pendekar bertubuh gemuk itu tak cukup gesit menghindari serangan Jalu. Dua kali ia terjatuh karena tendangan Jalu yang mengarah ke dadanya.
Pendekar Rantai Pencabut Nyawa tak mau terus-terusan di serang dari jarak dekat. Ia membuat gerakan berputar dengan rantai yang ikut berputar menyelubungi tubuhnya. Tak hanya di sana, ia bergerak maju menyerang Jalu dengan jurus putaran rantainya itu.
Jalu menghindar tiap serangan dengan mudah. Ia ingin cepat menyelesaikan pertarungan itu yang baginya tak terlalu sulit. Jalu menciptakan semburan api dari kedua telapak tangannya. Rantai besi lawannya itu menjadi merah terbakar.
Pendekar Rantai Pencabut Nyawa menjerit kepanasan lalu ia melepaskan rantai miliknya yang masih berwarna merah membara. Ia tahu ia sudah kalah. Selagi masih sanggup, maka ia melarikan diri. Ia meninggalkan rantainya teronggok di sana.
“Kukira ia jantan. Ternyata nyalinya tak sebesar badannya.” Kata Jalu.
“Ia masih sayang dengan nyawanya.” Kata Niken.
“Aku bahkan belum pernah mendengar namanya.” Kata Jalu
“Banyak pendekar hitam yang seperti itu.” Kata Niken. “Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan?”
“Kita lanjutkan perjalanan saja. Mungkin kita akan beruntung kalau tidak bertemu dengan pendekar Syair Kematian.” Kata Jalu.
“Sebaiknya begitu.” Kata Batari Mahadewi menyetujui usul Jalu.
“Kalau begitu ayo kita pergi dari sini secepatnya.” Kata Jalu.
Mereka kemudian melenting lagi dari satu pohon ke pohon lain dan terus demikian seolah hutan itu tak ada ujungnya. Selama matahari belum tenggelam, mereka tak perlu khawatir tersesat di hutan. Selagi dalam perjalanan, mereka merasakan energi besar yang sama dengan sebelumnya. Energi itu memancar hanya sebentar saja, lalu menghilang lagi.
Mereka bertiga behenti sejenak, lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian, mereka bertiga menemukan mayat Pendekar Rantai Pencabut Nyawa telah tergeletak di tanah. Ia mati dengan cara yang sama dengan yang dialami oleh ketiga adik seperguruannya.
“Pendekar Syair Kematian masih ada di hutan ini. Kurasa ia ingin mempermainkan kita.” Kata Jalu.
“Kita lanjutkan perjalanan saja, kak. Tetap waspada.” Kata Batari Mahadewi.
Mereka bertiga akhirnya sampai di tepi hutan. Di depan mereka adalah sebuah desa yang cukup besar dan ramai. Mereka merasa sedikit lega. Namun mereka tak sadar, dari jauh sepasang mata terus mengikuti dan mengawasi mereka tanpa mereka sadari. Bahkan Batari Mahadewi tak mampu merasakan kehadirannya.
__ADS_1