
Matahari merekah di langit timur seperti sebuah tomat merah yang bersembunyi di cakrawala. Sebentarlagi bola api kehidupan itu akan meninggi, dan dengan jari-jari cahayanya yang lembut, ia akan membangunkan dedaunan, rerumputan, serta burung-burung yang selalu setia menyanyikan doa-doa untuk kehidupan agar berdenyut seperti biasanya.
Batari Mahadewi dan Nala terbang perlahan seperti sepasang elang di angkasa. Bumi satu rembulan terlihat lebih hijau jika dibandingkan dengan dunia tiga rembulan yang penuh warna. Kedua pendekar itu baru menyadari bahwa keduanya berada di sebuah benua yang sangat luas. Setelah meninggalkan padang rumput tempat mereka berpijak untuk pertama kali setelah dari dunia tiga rembulan, mereka berdua melintasi padang pasir yang luas dengan kehidupan-kehidupan kecil yang bersembunyi di bawah timbunan pasir.
Keduanya tak ingin tergesa-gesa. Keduanya benar-benar menikmati udara yang mereka kenal dengan baik sejak mereka masih bayi, dan matahari yang ramah selagi bola api itu belum beranjak tinggi di tengah langit.
Setelah mereka melewati padang pasir yang maha luas, mereka sampai juga di sebuah peradaban yang baru ia kenal saat itu, peradaban yang jauh berbeda dengan Mahabhumi tempat tumbuh Batari Mahadewi, atau pulau Neraka yang telah membesarkan Nala.
Mereka melesat turun untuk berkunjung ke peradaban itu, namun keduanya sangat tercengang ketika mereka hanya menemukan manusia-manusia yang telah berubah menjadi patung batu. Kemampuan Batari Mahadewi untuk membaca peristiwa di masa lalu melalui jejak energi yang tertinggal di sana telah kembali ketika ia berada di dunia satu rembulan. Dengan begitu, perempuan cantik itu bisa dengan mudah melacak apa yang telah terjadi di sana.
“Hal ini sungguh di luar dugaan kita, Nala. Ternyata selama ini banyak hal yang tak kita ketahui. Jika aku benar membacanya, peradaban di sini telah mati oleh kekuatan sihir seseorang.” Kata Batari Mahadewi.
Apa yang telah dibaca perempuan cantik itu tak sepenuhnya salah. Beberapa tahun sebelum Batari Mahadewi dan Nala bertemu, ratu Ogha telah bergerak ke berbagai pulau dan benua yang berdekatan dengan pulau Tirayamani. Tujuannya adalah untuk menemukan tempat-tempat rahasia yang menyembunyikan kekuatan jahat di masa lalu, lalu ia akan membebaskannya dan menjadikan mereka semua sebagai bagian dari rencananya untuk mengibakan kembali kejayaan kekuatan hitam seperti di masa lalu.
Patung-patung manusia itu adalah salah satu ulah dari makhluk iblis yang telah dibebaskan oleh ratu Ogha. Begitu ia bebas, maka ia akan menebar ketakutan dimana-mana.
Saat ini ratu Ogha telah membagi para pasukannya untuk menaklukkan sebanyak mungkin kerajaan di berbagai wilayah. Oleh karenanya, ia hanya akan bersama sedikit pasukan saja untuk menuju Mahabhumi dan bergabung dengan panglima Kera Api. Meski hanya dengan sedikit pasukan, atau meski hanya sendirian saja, toh ratu Ogha bisa saja menciptakan pasukan mengerikan dari kerikil-kerikil kecil atau rerumputan sebanyak yang ia mau.
__ADS_1
“Sepertinya memang benar seperti yang telah dikatakan oleh kakek dewa, ada banyak hal yang tidak kita ketahui dari dunia kita sendiri, seperti yang sedang kita lihat saat ini.” Kata Nala sambil menyentuhkan tangannya ke salah satu patung batu yang ada di hadapannya itu. Jemari tangannya tanpa sengaja melepaskan energi sihir yang membuat batu itu berubah wujud kembali menjadi manusia.
Begitu patung itu telah berubah menjadi manusia, ia berlari sambil berteriak-teriak ketakutan. Batari Mahadewi dan Nala saling berpandangan, keduanya heran; bukan karena orang itu berteriak seperti kesetanan, melainkan karena Nala dengan sentuhan tangannya berhasil menghidupkan kembali patung itu.
“Sepertinya ada hal yang tak kau sadari, Nala.” kata Batari Mahadewi, “Semalam kau menciptakan beberapa butir emas. Kali ini kau membuat patung itu kembali menjadi manusia. Sekarang cobalah kau lakukan hal yang sama seperti kau menciptakan butiran emas dari kerikil. Ubahlah patung-patung itu ke wujud aslinya.”
Nala berfikir keras. Ia sama sekali tak mengerti apa yang ia lakukan. Lalu ia memusatkan konsentrasinya, dan melepaskan gelombang energi yang selama ini tak pernah muncul pada dirinya. Setiap patung yang tersapu oleh gelombang energi yang dipancarkan oleh Nala seketika berubah menjadi manusia. Mereka kembali hidup meski tampak linglung dan menyiratkan ketakutan yang sangat dari pancaran mata mereka.
“Kau berhasil, Nala. sekarang cobalah perluas lagi pancaran energimu untuk menjangkau sejauh mungkin wilayah yang bisa kau capai.” Kata Batari Mahadewi.
Nala merubah wujudnya menjadi tanpa wujud dan hanya berupa partikel energi tak terlihat yang melesat ke berbagai penjuru arah, mengubah semua patung hewan dan manusia yang ia temui untuk ia hidupkan kembali.
Selang beberapa saat, Nala kembali berada di sebelah Batari Mahadewi. “Jangan tanya kenapa, aku sendiri tak tahu kenapa aku bisa melakukan ini.” Kata Nala.
“Aku sedikit mengerti Nala. Sekarang untuk membuatku sepenuhnya mengerti atas apa yang kau miliki ini, coba kau ubah daun ini menjadi seekor burung.” Pinta Batari Mahadewi sambil menyodorkan selembar daun yang ia petik dari sebuah pohon di dekatnya.
Hanya dengan membayangkan seekor burung dan mengalirkan gelombang energi pada selembar daun itu, tanpa mantra apapun, Nala berhasil menciptakan seekor burung seperti yang ia bayangkan. Ia tak menyangka memiliki kemampuan itu.
__ADS_1
“Sudah pasti kau memiliki kemampuan sihir, Nala. Sudah semestinya, jika di masa lalu kau adalah pangeran kegelapan, maka kau adalah penguasa sihir seperti yang diceritakan oleh kakek dewa.” Kata Batari Mahadewi.
“Aku juga menduga demikian. Entah ini keberuntungan atau kesialan bagiku.” Kata Nala.
“Gunakanlah untuk mencipta kehidupan yang lebih baik, Nala. Maka kemampuanmu adalah berkah bagi kehidupan.” Kata Batari Mahadewi. Nala mengangguk. Ia yakin akan bisa membantu Batari Mahadewi melenyapkan Kalapati dan mengembalikan ketentraman dunia.
“Sebaiknya, kita cari tahu siapa penyebab ini semua. Kita bisa bertanya kepada mereka.” Kata Nala. Batari Mahadewi mengangguk menyetujui usul Nala. Namun sebelum mereka berdua mencari seseorang untuk ditanyai, beberapa orang yang ada di sekitar mereka berdua berbondong-bondong mendekat lalu bersujud sambil mengucapkan terimakasih.
Batari Mahadewi menanyai salah satu dari mereka, “Maaf paman, bisakah kami mengetahui penyebab malapetaka yang menimpa semua orang di sini. Kami ingin membantu sebelum jatuh banyak korban lagi.”
“Entah sudah berapa lama, tapi sebelum bencana ini terjadi di wilayah ini kedatangan seorang ratu iblis yang membangkitkan makhluk-makhluk kuno. Mereka mengubah kami semua menjadi batu.” Jawab orang itu sambil berusaha keras mengingat hal yang menimpa mereka.
Batari Mahadewi tak melanjutkan untuk bertanya. Ia tahu bahwa orang-orang itu tak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya dan kemana para makhluk yang mereka maksud itu pergi.
“Baiklah, paman, kami akan melanjutkan perjalanan. Jangan khawatir, setidaknya makhluk-makhluk itu sudah tidak ada lagi di sini.” Kata Batari Mahadewi menenangkan mereka semua.
Batari Mahadewi dan Nala berpamitan, lalu keduanya melesat ke angkasa dan bergegas dengan kecepatan tinggi. Orang-orang yang melihat keduanya terbang terperangah heran dan tak habis pikir bahwa ternyata ada juga makhluk seperti Batari Mahadewi dan Nala, serta makhluk-makhluk yang membuat mereka semua menjadi batu.
__ADS_1